Friday, December 9, 2022

Sepotong Hikayat Tangtu

Rekomendasi

Asap gaharu awetkan padi dalam lumbungAsap putih itu meliuk-liuk bagai penari. Aroma wangi menguar mengiringi jejak asap putih yang mengangkasa meninggalkan gubal gaharu membara.

Itu bukan ritual terapi aroma di pusat kecantikan atau salon. Namun, berlangsung di tepi lumbung padi. Membakar gubal gaharu itu menjadi kebiasaan para petani padi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, usai panen padi. Mereka menjemur padi lantas memasukkannya ke dalam lumbung. Nah, ketika itulah para petani membakar gubal. Gubal gaharu yang mahal harganya itu lazimnya sebagai bahan parfum atau terapi aroma. Komoditas ekspor itu banyak terserap pasar Timur Tengah.

Namun, bagi masyarakat Badui Dalam di Desa Kanekes, gubal gaharu sekadar untuk mengasapi padi di lumbung. Sarpin (47 tahun) yang kini menjabat Sekretaris Desa Kanekes, ingat persis ketika kanak-kanak aroma wangi tercium dari radius ratusan meter. Apalagi biasanya para pemilik lumbung mengasapi dengan gubal pada saat hampir bersamaan. Selain memanfaatkan gubal asal pohon Aquillaria malaccensis, mereka juga menggunakan akar tegari Dianella montana untuk mengasapi padi.

Lumbung, tempat menyimpan padi sehingga awet setahun lebihSalah satu kegiatan perempuan Badui pada sore hari: menenunAhli pascapanen padi sekaligus mantan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi, Dr Ir Agus Setyono mengatakan bahwa asap tak sekadar menjauhkan serangga, tapi juga mengandung gas formaldehida alias formalin. Saat asap habis, formalin itu tertinggal di sela-sela padi dan tangkainya sehingga telur hama gudang Sitophilus oryzae, Tribolium castaneum, maupun Calosobruchus sp gagal menetas. Selain itu, cara menyimpan padi dengan tangkainya terbukti menjadi cara pengawetan alami.

“Bulir terlindung dari kerusakan akibat kontak dengan udara maupun serangga,” kata kelahiran 67 tahun lalu itu. Toh, tak usah khawatir bakal keracunan lantaran dosis formalin dalam asap sangat rendah sehingga aman bagi manusia. Sementara bagi hama, dosis rendah itu sangat beracun. Dengan demikian lama penyimpanan padi di dalam lumbung pun awet hingga setahun lebih.

Orang Badui memenuhi sendiri hampir semua keperluan mereka, termasuk kopiSayang, tradisi itu kini telah berakhir. Usai panen padi tak lagi tercium wangi gaharu. Itu akibat populasi pohon anggota famili Thymelaceae makin menyusut. Demikian juga dengan tegari. Menurut guru besar Antropologi Universtas Padjadajaran, Prof Yudistira Garna, hilangnya gaharu di Kanekes pada 1986. Saat itu pemerintah baru menetapkan batas wilayah hutan lindung Kanekes ketika kondisi sebagian hutan rusak. Beragam pohon seperti laban Vitex pubescens, kihiang Albizia procera, dan gaharu langka.

Ibarat tak ada rotan maka akar pun jadi, tiada gubal, merang pun bisa. Sejak hilangnya gaharu dari Kenekes, warga Badui Dalam menggunakan merang padi untuk mengasapi lumbung. Mereka mengisi merang ke batok kelapa hingga dua per tiga, menyalakan, lalu menggantungkan tempurung itu dengan kawat persis di kolong lumbung berbentuk panggung, 15-20 cm di bawah lantai. Bakaran merang tidak menyala-nyala, hanya membara mengepulkan asap.

Mereka melakukan pengasapan setiap 2-3 bulan sekali. Itu bukti bahwa hilang pohon, terhapus budaya. Menurut riset Prof Yudistira Kartiwan Garna, kebudayaan Badui tergolong tua. “Kebudayaan Badui sudah ada sebelum era kerajaan Hindu,” kata guru besar berusia 75 tahun itu. Penelitian yang mengantarkan Yudistira meraih gelar Master Sosiologi dari Singapore University itu sekaligus mematahkan anggapan masyarakat luas bahwa orang Badui adalah sisa laskar kerajaan Padjadjaran yang melarikan diri.Bambu salah satu komoditas serbaguna di Badui Dalam antara lain untuk lantai rumah dan dinding lumbung

Menurut ayah 3 anak itu, orang Badui tergolong ras Melayu Tua. Itu membedakan mereka dengan pendatang dari ras Mongoloid yang datang belakangan. Artinya, orang Badui mendiami wilayah itu jauh sebelum bagian lain pulau Jawa dihuni manusia. Orang Badui dalam menyebut diri mereka Urang Kanekes alias orang Kanekes. Sebutan lain adalah Urang Tangtu karena masyarakat Badui menganggap ketiga kampung Badui Dalam-Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana-sebagai tangtu alias tempat kehidupan pertama kali manusia turun ke bumi. Sebanyak 58 kampung Badui luar alias Badui Panamping mengelilingi ketiganya.

Prinsip hidup orang Badui di jalan menuju Kampung CikeusikBaik Badui Dalam maupun Badui Luar berkeyakinan bahwa tanah tempat mereka tinggal adalah tanah suci sehingga tidak boleh dicangkul, dibalik, apalagi dikeduk untuk membuat fondasi rumah. Jika permukaan tanah bergelombang atau tidak rata, mereka mengganjal tiang dengan batu yang disebut umpak agar lantai rumah tetap rata. Begitu juga lahan sawah terlarang untuk dicangkul sehingga para petani Badui menerapkan sistem tanpa olah tanah. Menurut ahli budidaya tanpa olah tanah dari Universitas Lampung, Prof Ir Muhajir Utomo PhD, MSc, penanaman tanpa olah tanah menekan 60% emisi gas rumah kaca.

Tanpa mengolah tanah berarti bahan-bahan organik meningkat. Dampaknya kualitas tanah juga meningkat. Nilai lebih lain tanpa olah tanah adalah menekan biaya persiapan lahan hingga 40% alias penurunan biaya produksi, mempermudah penanaman serempak, dan mengurangi pencucian unsur hara. Saat Trubus bertamu pada akhir Mei 2012, masa tanam padi, yang hanya setahun sekali, baru saja berlalu. Menurut Sajum, warga setempat, mereka menanam padi serempak pada bulan Kanem atau Bakdamulud.Pembuatan gula aren, salah satu komoditas andalan orang Badui selain madu hutan

Para petani memanfaatkan tugal dari kayu atau bambu sepanjang 125-140 cm berdiameter 2-3 cm berujung runcing. Jarak antarlubang tanam sepelangkahan lelaki dewasa, berkisar 30-40 cm. Menurut Yudistira, ngaseuk atau menanam padi mempunyai makna lain, yaitu “mengawinkan” bulir padi dengan tanah. Orang Badui menganggap padi sebagai jelmaan Nyi Pohaci Sanghyang Asri alias Nyi Sri.

Sajum, warga Badui Panamping, memperlihatkan gembili Dioscorea esculenta, makanan tambahan Urang KanekesMasyarakat mengangggap Nyi Pohaci yang menguasai pertanian padi. “Saat ngaseuk, orang Badui mempersatukan Nyi Sri dengan tanah, yang merupakan pasangan sejati,” kata Yudistira. Perkawinan dianggap berhasil jika padi tampak berisi. Itu sebabnya, pada hari ke-40, mereka melakukan upacara ngored alias menyiangi lahan. Ngored berikutnya pada  30-40 hari kemudian. Ketika bulir padi mulai terbentuk, orang Badui melakukan ngubaran atau mengobati padi.

Mereka mengidentikkan padi yang baru terisi sebagai perempuan yang sedang hamil muda dan gemar menyantap semua yang bercitarasa asam pedas. Itu sebabnya para petani menyiramkan ramuan berisi tumbukan buah pace Morinda citrifolia, rimpang lengkuas Alpinia galanga, air kelapa, dan tuak aren. Ramuan herbal itu multiguna: menghalau wereng, belalang, sampai tikus. Seperti ngored, ngubaran pun dimulai dengan ritual khusus.

Prof Dr Johan Iskandar, pakar etnobiologi dari Universitas Padjadjaran, mengatakan orang Badui juga menggunakan rimpang bangle Zingiber cassumunar, buah palem jawa alias bingbin Pinanga javana, kulit jeruk bali Citrus maxima, hingga abu dari tungku­­­­­­ dan pasir sungai untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Selain itu, mereka membakar daun walang Amomum walang atau kanyere Bridelia monoica yang masih basah. Lokasi pembakaran di tepi sawah setiap hari.

Padi bertangkai lebih tahan simpan“Daun basah menghasilkan banyak asap sehingga menghambat penerbangan serangga dewasa yang berpotensi hama,” tutur Johan. Dalam etnografi berjudul De Badoej’s, Jul Jacobs, perwira pertama Dinas Kesehatan di masa kolonial Belanda yang pada 1883-­­1888 bertugas di Karesidenan Banten menulis, orang Badui melindungi padi bunting dengan menaburkan tumbukan buah kecombrang Elettaria speciosa dan daun calik angin Mallotus blumeanus. Dalam satu periode budidaya padi, ngubaran berlangsung  3-9 kali sampai tiba waktu ngabuat alias panen. Saat panen, urang Kanekes membuat sesaji dari daun sirih dan rimpang bangle, menempatkan dalam keranjang dari anyaman daun aren, lalu meletakkannya di tengah huma sambil memanjatkan doa syukur.

Usai panen, mereka mengeringkan padi selama 1-3 hari tergantung cuaca dan menyimpan di dalam leuit atau lumbung. Ketika itulah mereka mengasapi padi dengan merang alias kulit padi. Dari padi kembali melindungi padi. Dua dekade silam, para petani masih memanfaatkan gubal gaharu yang tersedia di dekat hunian. Sayang, spesies itu kini menghilang di Kanekes akibat perambahan hutan. (Argohartono Arie Raharjo)

 

“Kebudayaan Badui sudah ada sebelum masa kerajaan Hindu. Itu mematahkan anggapan bahwa orang Badui adalah sisa laskar Padjadjaran yang melarikan diri,” kata Prof Yudistira K Garna.

 

Keterangan Foto :

  1. Asap gaharu awetkan padi dalam lumbung
  2. Lumbung, tempat menyimpan padi sehingga awet setahun lebih
  3. Salah satu kegiatan perempuan Badui pada sore hari: menenun
  4. Orang Badui memenuhi sendiri hampir semua keperluan mereka, termasuk kopi
  5. Bambu salah satu komoditas serbaguna di Badui Dalam antara lain untuk lantai rumah dan dinding lumbung
  6. Prinsip hidup orang Badui di jalan menuju Kampung Cikeusik
  7. Pembuatan gula aren, salah satu komoditas andalan orang Badui selain madu hutan
  8. Sajum, warga Badui Panamping, memperlihatkan gembili Dioscorea esculenta, makanan tambahan Urang Kanekes
  9. Padi bertangkai lebih tahan simpan

 

 

 

 

 

 


Previous articleKisah Duet Abadi
Next articleKacang Bumi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img