Monday, November 28, 2022

Serangan Gerilya Dewi Limaran

Rekomendasi

Bagi petani padi, keong mas bukan sekadar legenda. Ulahnya di persawahan kian membuat geram. Hama yang awal 1980-an diperkenalkan sebagai bahan pangan potensial dari Amerika Selatan itu berkembang menjadi hama padi yang menyebar di kawasan Asia. Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, ikut terkena getahnya.

Menurut Dr Sudarmaji, ketua kelompok peneliti hama penyakit padi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Sukamandi, Subang, peringkat keong mas sebagai hama tanaman padi meningkat dari hama sekunder menjadi hama primer. Terhitung sejak 2004, golden apple snail menjadi hama serius pada tanaman padi. ‘Kini, hampir semua areal persawahan ada. Umumnya banyak terdapat di daerah rawa dan daerah yang irigasinya tidak lancar,’ kata peneliti BB Padi sejak 1984 itu.

Naiknya peringkat Pomacea canaliculata itu juga disampaikan oleh Ir Hendarsih Suharto, MSc, peneliti hama dan penyakit BB Padi. ‘Sejak 1990-an keong mas menjadi hama baru bagi padi,’ ujar Hendarsih. Sebelumnya keong tidak dikenal sebagai hama pada tanaman padi. Perubahan status itu didukung kesesuaian habitat (terutama suhu), adaptasi lingkungan tinggi, tidak adanya penyakit, dan daya reproduksi tinggi. Penyebaran keong ke daerah baru salah satunya disebabkan lokasi yang berdekatan terhubung dengan perairan. ‘Mereka bergerak jika ada air,’ ujar peneliti lulusan Oregon State University itu.

Meluas

Serangan keong mas diam-diam menghanyutkan. Sebut saja Indramayu dan Subang. Pada 1992, keong mas hanya terlihat di kolam-kolam sekitar rumah. Namun, pada 1996, sebanyak masing-masing 50 ha dan 65 ha sawah di Subang dan Indramayu hancur dirongrong si keong. Bahkan luas wilayah serangan meluas masing-masing menjadi 604 ha dan 365 ha pada 1999.

Peningkatan serangan juga terjadi di Karawang, Jawa Barat. Menurut data Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, serangan keong mas di daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur di sebelah selatan itu meningkat 168 kali lebih tinggi dalam kurun waktu 3 tahun. Yang semula hanya 33 ha pada 1996 melonjak drastis menjadi 5.548 ha pada 1999.

‘Yang paling dominan yaitu species Pomacea canaliculata,’ kata Hendarsih. Selain itu, ditemukan juga Pomacea insularum dan Pomacea padulosa. Keong berkembangbiak dalam waktu relatif singkat. Bayangkan, selama daur hidupnya 60 hari, seekor keong dewasa mampu menghasilkan 2.000-2.400 telur.

Keong mas memarut jaringan tanaman dan memakan bibit padi muda sehingga menimbulkan kerusakan pada awal-awal penanaman. Berdasarkan hasil riset kerjasama Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan BB Padi di Jawa Tengah pada 2000, dalam kondisi lapang, 6 keong/m2 mampu menyebabkan kerusakan 10,78% dan pengurangan hasil 15%. Kerusakan yang ditimbulkan berlangsung hingga 50 hari setelah penanaman. Karena merusak padi muda, petani perlu melakukan penyulaman. ‘Jika serangan tinggi, penyulaman bisa 2-3 kali dalam satu musim tanam. Akibatnya panen tidak serempak dan kualitas gabah tidak seragam,’ tutur Sudarmaji.

Bibit muda rentan serangan keong. Sebagai pencegahan, jika keong menjadi hama utama di suatu lokasi, sebaiknya tanam bibit yang tua dan lebih dari satu per rumpun. ‘Untuk sistem tanam pindah, pakai bibit umur 3 minggu dari persemaian sekitar 3 bibit per lubang,’ lanjutnya.

Saluran perangkap

Di areal penanaman yang terserang, bekas potongan batang padi terlihat mengambang. Saat kritis pengendalian keong mas adalah 10 hari pertama untuk padi tanam pindah atau sebelum umur 21 hari untuk padi tanam langsung. Setelah itu, tingkat pertumbuhan tanaman lebih tinggi daripada tingkat kerusakan yang ditimbulkan keong.

Ketika tahap persiapan lahan, bila diketahui ada serangan keong mas, segera lakukan pengaturan air. Itu ditandai adanya keong berbagai ukuran dan telur berwarna merah muda di persawahan. Sebelum melakukan penangkapan, buat saluran air di tengah-tengah petak sawah sedalam 5 cm dan lebar 25 cm. Beri jarak antarsaluran sekitar 10-15 m. Kemudian, sawah dikeringkan. Keong mas yang menyukai tempat berair akan bergerak menuju saluran kecil itu.

Setelah keong mas diambil secara manual, sawah digenangi kembali. Musnahkan keong atau manfaatkan sebagai pakan ternak. Pengendalian sebaiknya dilakukan pagi atau sore saat keong aktif, secara serempak dan sebelum serangan tinggi.

Ganasnya keong mas didukung perkembangan populasinya yang cepat. Telur yang diletakkan keong dewasa di batang padi atau tanaman lain menetas setelah masa inkubasi selama 7-14 hari. Sekitar 15-25 hari kemudian, anak keong mulai memakan padi hingga fase dewasa. Masa reproduksinya berlangsung hingga 3 tahun. Oleh karena itu, memberantas telur juga penting.

Sebagai umpan untuk menarik keong dewasa bertelur, tempatkan batang bambu di pinggir-pinggir pematang sawah. Daun pisang dan daun pepaya juga bisa dipakai sebagai umpan. Untuk mencegah keong masuk persawahan, tempatkan penyaring kawat atau anyaman bambu pada saluran masuk air. Jika pengendalian tidak berhasil, alternatif terakhir, gunakan molusida. ‘Itu pilihan terakhir karena harganya masih tergolong mahal bagi petani,’ ungkap Sudarmaji. (Kiki Rizkika)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img