Thursday, August 11, 2022

Seri Walet (100) Tiga Pilihan Model Rumah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dengan 200—300 rumah di seluruh Kota Jaipong itu persaingan memikat walet kian meningkat. Alhasil beragam kiat diterapkan untuk bisa memancing walet dalam tempo singkat. Salah satunya memodi. Kasi bentuk rumah sesuai karakter dan kenyamanan walet.

Sebagai lumbung padi Jawa Barat, sangat mungkin Karawang menjadi sentra walet utama. Lahan pertanian yang “hidup” sepanjang tahun menawarkan ketersediaan pakan berlebih. “Pakan salah satu faktor utama keberhasilan walet, di samping keamanan,” kata Ade Swara, juragan walet di Karawang. Menurut pria yang kini tengah ikut pencalonan bupati Karawang itu, jika kedua faktor itu terjamin, soal memancing dan meningkatkan populasi bukan batu sandungan.

Sebagian besar rumah-rumah walet di Karawang yang marak dibangun pada awal 2000 sudah berpenghuni. “Mereka, para pemilik rumah walet umumnya orangorang lama yang sedikit banyak paham mengenai perilaku walet. Lihat saja, bentuk rumah pun beragam modelnya,” tambah Ade. Berdasarkan pengamatan penulis di Karawang banyak ditemukan model rumah walet. Model-model itu memang tidak orisinil baru, tapi pengembangan dari model lama. Ada 3 model yang mendominasi. Mereka menyebutnya model rumah sri mustika, rumah gua naga, dan rumah dewa.

Model sri mustika

Di antara model rumah walet, sri mustika paling sederhana. Sepintas sama dengan rumah-rumah walet konvensional yang berbentuk hall alias seperti gedung bioskop. Bentuknya kotak dengan atap genteng lazimnya rumah-rumah penduduk. Lubang sentral keluar-masuk terdapat di lantai paling atas hampir sejajar posisi lagur. Namun, di dalamnya dibagi-bagi menjadi roving room, ruang berputar, dan resting room, kamar-kamar untuk istirahat atau bersarang. Di tengah-tengah ruangan tedapat lorong selebar 3 m yang memisahkan deretan resting room kanan dan kiri. Ruang berputar, tembus antarlantai.

Rumah model sri mustika cocok dikembangkan di daerah-daerah calon sentra baru. Ia butuh halaman luas untuk roving area dan pagar pengaman. Idealnya ukuran bangunan 9 m x 15 m, sehingga terdapat 12 kamar resting room masingmasing berukuran 3 m x 3 m dan roving room 3 m x 9 m. Tinggi cukup 1—2 lantai. Toh jika populasi berkembang bisa dengan mudah dibangun ke atas menjadi 3—4 lantai. Antarlantai sendiri tingginya 3 m.

Yang membedakan rumah sri mustika dengan model sekat yang banyak dianut pewalet Jawa Timur adalah kamar-kamar tertutup rapat. Sisi yang menghadap lorong ditutup setelah populasi mencapai lima sarang. Bahan penutup untuk sementara bisa menggunakan tripleks atau langsung dibuat tembok permanen. Walet hanya keluar-masuk melalui lubang yang dibuat khusus di masing-masing kamar selebar 40 cm x 100 cm. Dengan cara itu walet merasa lebih nyaman.

Model gua naga

Rumah-rumah walet di pinggir jalan, di tengah pemukiman, atau dekat pasar kadang sulit diperluas. Bahkan cenderung menyusut karena ada pelebaran jalan atau penambahan sarana pelayanan umum lain. Rumah model gua naga inilah solusinya. Lubang sentral keluar-masuk burung ada di bagian atap atau dak. Areal berputar di atas dak, jadi tidak perlu lahan kosong di kirikanan atau depan-belakang gedung.

Perbedaan yang mencolok dari model ini, ukuran lubang masuk demikian lebar. Kalau lazimnya 14 cm x 60 cm, model gua naga 1 m x 2 m dan dibuat seperti corong berkemiringan 30—45o.Tepat di bawah lubang masuk terhampar bak berukuran 3 m x 5 m atau lebih, setinggi 40—60 cm. Bak ini sekaligus berfungsi menampung air hujan yang masuk melalui lubang. Saat kemarau perlu diisi agar kelembapan tetap terjaga.

Tata letak di dalam hampir sama dengan model sri mustika. Resting room disekat-sekat berukuran masing-masing 3 m x 3 m dan tertutup rapat. Sedangkan roving room tepat di atas bak seluas 3 m x 9 m, bila ukuran bangunan 9 m x 15 m. “Model gua naga efektif untuk rumah yang sudah berproduksi dan di sekitarnya terdapat rumah walet milik orang lain,” tutur Ade Swara. Itulah sebabnya puluhan rumah pria kelahiran 1964 itu didesain model gua naga.

Model rumah dewa

Model rumah dewa sebetulnya bukan milik Karawang semata. Ia mudah ditemukan hampir di seluruh sentra yang populasi rumahnya padat seperti Haurgeulis, Tangerang, Sedayu, Metro, dan Medan. Hanya saja penamaan yang berbeda dan ada sedikit modifi kasi lay out di dalam ruangan. Di tempat lain dikenal dengan sebutan rumah monyet. Model ini banyak dimanfaatkan untuk rumah pancingan di daerah sentra yang persaingannya ketat.

Sosok mirip bangunan lembaga pemasyarakatan yang di sudut-sudutnya ada rumah jaga. Nah, rumah dewa pun demikian. Di atap dak bagian belakang dibuat ruang kecil berukuran 2 m x 3 m atau 3 m x 3 m. Di bagian depan dilengkapi lubang keluar-masuk. Ruangan ini sebagai jalan masuk walet ke kamar-kamar di tiap lantai. Dengan tambahan bangunan kecil di atas itu rumah menjadi setingkat lebih tinggi ketimbang aslinya, sehingga terlihat menonjol di mata walet.

Karena model ini pengembangan dari rumah sri mustika, tata letak di dalam ruangan sama persis. Kamar disekat-sekat dan tertutup rapat. Ukuran bangunan juga sebaiknya 9 m x 15 m supaya roving room banyak dan lorong lebar. Beberapa pemilik rumah walet di Tangerang dan Medan, melengkapi kolam di atas dak.

Tingginya bervariasi dari 50—70 cm. Tujuannya di samping menjaga stabilitas suhu di dalam ruangan, juga untuk merangsang walet tetangga bermainmain. (Ade Yamani, praktikus walet di Karawang)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img