Sunday, November 27, 2022

Seri Walet (102) Aneka Kiat Antimaling

Rekomendasi

Itulah acara rutin yang dilakukan Suhandi pada bulan puasa menjelang Idul Fitri di lokasi-lokasi rumah waletnya.

Pemberian sembako Suhandi bukan tanpa maksud. Selain beramal, lelaki yang akrab dipanggil Wilyong itu mengharapkan bisa lebih dekat dengan masyarakat. Lebih jauhnya, agar sarang dari 4 buah rumah walet yang berdiri megah di tengah-tengah desa itu aman dari gangguan pencurian. “Peran masyarakat cukup besar dalam menjaga keamanan. Buktinya sejak rumah-rumah walet ini berdiri, 6 tahun lalu, belum pernah sekali pun kecurian sarang,” ungkapnya.

Menurut Suhandi untuk mendekatkan diri dengan warga di lingkungan sekitar rumah walet, tak sekadar membagi sembako, tapi banyak kegiatan sosial lain yang dikerjakannya. Di antaranya ia juga selalu malaksanakan kurban belasan ekor sapi setiap Idul Adha, berpartisipasi membuat rumah ibadah, jalan, dan menjadi donatur ketika masyarakat menyelenggarakan upacara-upacara adat setempat maupun nasional. Bahkan beberapa pengusaha walet ada yang turut mendukung pencalonan pimpinan suatu daerah, misalnya kepala desa atau camat.

Orang dalam

Suhandi menyadari kegiatan-kegiatan itu menyedot dana besar, sekitar 10—15% dari hasil produksi sarang. Namun, itu lebih irit dibanding risiko yang harus ditanggung pengusaha walet. Kasus-kasus pembobolan rumah walet hampir terdengar setiap saat di setiap sentra. Puluhan hingga ratusan kilo sarang walet amblas digondol pencuri. “Bayangkan kalau itu terjadi, bukan hanya kehilangan sarang yang akan dipanen saat itu, tapi juga waletnya ikut kabur,” tambahnya.

Pencurian sarang adalah momok bagi para pengusaha walet. Itulah sebabnya para pengusaha walet mencoba mengamankan rumahnya dengan membuat pintu masuk demikian kuat, tembok setebal 80 cm, memasang alarm, dan monitoring dari jarak jauh. Namun, berdasarkan pengamatan penulis, itu semua kurang efektif lantaran peralatan pencuri juga cukup canggih dan mereka punya banyak akal. Yang justru perlu diwaspadai: kenyataan di lapangan, 75% pencurian melibatkan orang dalam, seperti penjaga atau pihak keluarga. Kasus yang belakangan muncul di Karawang, sebuah kunci diduplikasi oleh sang mantu, lalu diberikan kepada si pencuri.

“Di tempat lain saya memang sering mendengar, antara penjaga dan pencuri bekerjasama. Hasil curian dibagi sama rata, atau 70% untuk pencuri dan 30% untuk penjaga,” tutur Suhaman, penjaga gedung walet di Cibuaya milik warga Jakarta. Lelaki kelahiran 1949 itu tak menyangkal jika para penjaga banyak yang tergoda iming-iming uang. “Gaji penjaga sangat minim, paling Rp500.000/bulan, sementara harga sarang belasan juta rupiah setiap kilogramnya. Yang berpikiran pendek, pasti berbuat nekat, menerima tawaran pencuri,” tambahnya.

Penjaga rumah walet memang bagai pedang bermata dua. Ia menjadi pilar untuk mengamankan sarang. Namun di sisi lain, lanange jagat—istilah penjaga walet di jalur Pantura—merupakan celah yang kerap dimanfaatkan oleh kelompok pencuri sarang. Oleh karena itu seyogyanya para pengusaha walet “memperlakukan” penjaga rumah walet dengan baik. Misalnya, meningkatkan gaji dan kesejahteraan mereka sesuai hasil sarang yang didapat. Kalau mungkin berilah kepercayaan lebih, tidak sekadar menjadi penjaga tapi juga ikut memanen sarang dan mengelola.

Penjaga alami

Terlepas dari risiko, keberadaan penjaga mutlak untuk setiap rumah walet. Apalagi di lokasi terpencil, jumlah penjaga harus jauh lebih banyak. Di sentra-sentra walet di Karawang seperti di Cemarajaya, Rengasdengklok, Sungai Buntu, dan Cibuaya yang notabene berada di wilayah pemukiman, setiap rumah walet minimal dijaga oleh 3 orang. Dua orang di antaranya berjaga pada malam hari dan seorang pada siang hari dengan sistem gilir. Semakin tinggi produksinya, jumlah penjaga pun ditingkatkan. “Rumah yang berproduksi di atas 1 kuintal, penjaganya sampai 12 orang,” ucap H Suwanto, salah satu pemilik rumah walet di Cibuaya.

Namun, menurut Suwanto meski sudah ada penjaga, hubungan baik pemilik rumah walet dengan masyarakat harus terjalin. “Perampok sekalipun akan berpikir 10 kali menyatroni rumah yang pemiliknya dekat dengan masyarakat. Apalagi pencuri yang jumlahnya sedikit, paling 2—3 orang,” lanjutnya. Sebab, penjaga kadang ada lengahnya, sedangkan masyarakat selalu melek karena banyak mata. Mereka bisa saling menginformasikan bila di lingkungannya ditemukan hal-hal yang janggal. Misalnya melihat sebuah mobil mondarmandir dan penumpangnya memperhatikan rumah walet.

Masyarakat di sentra-sentra walet umumnya sudah mengetahui kondisi-kondisi yang mencurigakan di sebuah rumah walet. Contoh, jika bagian dalam lubang keluarmasuk rumah walet ditutup kain hitam, itu mengindikasikan di dalam tengah terjadi pencurian sarang. Atau belasan burung walet beterbangan pada malam hari tanpa arah sehingga menabrak lampu penerangan, dipastikan ada orang tak diundang masuk rumah walet. Namun, jika hanya 2—3 burung yang terbang biasanya di dalam ruangan ada gangguan kecil seperti tikus atau tokek.

Penulis menyarankan agar rumah walet terhindar dari pencurian dibutuhkan pengamanan terpadu. Selain penjaga dan hubungan baik dengan masyarakat sekitar, rumah walet itu sendiri dilengkapi pengamanan. Sebagai perlengkapan pengamanan ada yang menanam tanaman salak atau nanas di sekeliling rumah walet. Harapannya pencuri tidak mau masuk takut tertusuk duri. Di samping tanaman-tanaman itu mengundang banyak serangga pakan walet.

Cara lain adalah menempatkan beberapa anjing atau angsa di halaman rumah walet. Anjing untuk menakut-nakuti, sedangkan angsa sangat peka terhadap suara-suara yang mencurigakan sehingga bisa berperan sebagai alarm hidup. Dan jangan lupa sekeliling rumah dipagar tembok yang di atasnya dipasang seng. Seng akan berbunyi nyaring jika terinjak atau berbenturan dengan benda lain. Berbeda dengan kawat berduri atau pecahan beling yang gampang diputus dan dibersihkan. (Ade Yamani, praktikus walet di Karawang)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img