Wednesday, August 10, 2022

Seri Walet (103)Tebal di Musim Kemarau

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Wajah pria 61 tahun itu berseri-seri. Ia baru saja memanen 90 sarang walet dari gedung di belakang rumah. “Sarang jadi tebal, berarti ada pengaruhnya,” ucapnya sembari menimangnimang liur berharga mahal itu. Sejak Agustus 2005 H. Djazuli Thoha, nama pria itu, memang mencoba menambah ketersediaan pakan walet buatan. Tak dinyana, ketika sarang dipanen pada 3 Oktober 2005 hasilnya cukup signi. kan, bobot dan jumlah sarang bertambah.

Musim kemarau kerap menjadi petaka bagi para pengusaha walet di setiap sentra. Apalagi kalau berlangsung lama dan panas sangat terik, dapat dipastikan 40—50% produksi sarang menurun. Tak terkecuali di Haurgeulis, kota Kecamatan di utara Indramayu, Jawa Barat. Panasnya pada siang hari mencapai 42 0C. Akibatnya selain sarang berukuran kecil dan tipis, sebagian banyak yang jatuh. “Di musim kemarau serangga bersembunyi di balik dedaunan, walet kekurangan makan,” tuturnya.

Berkaca pada pengalaman selama lebih dari 20 tahun mengurusi rumah walet, Djazuli ingin pada 2005 bisa memecahkan persoalan yang dihadapi diri dan para pengusaha walet lainnya di Haurgeulis. Ketua Asosiasi Pengusaha Walet Kabupaten Indramayu itu mencoba menyediakan pakan tambahan di dalam rumah walet. Dua buah gedung masingmasing berukuran 4 m x 17 m dan 8 m x 26 m digunakan untuk mewujudkan obsesinya.

Naik 1,5 g

Ketika masa panen tiba, kakek dari 6 cucu itu sengaja mengundang Trubus untuk menyaksikan langsung pemetikan sarang. Berbekal kape dan senter, tangan montoknya melepaskan satu-demi satu sarang dari lagur. Tak lupa sebelum disodok kape, sarang disemprot air agar tidak pecah. Pemetikan dilakukan tengah hari pukul 11.30, dengan harapan tidak banyak walet di dalam gedung. Walet akan merasa terganggu bila ada orang masuk dan ujung-ujungnya Collocalia fuciphaga itu kabur.

Namun, apa yang terjadi? Meski bulan itu bukan musim mengerami telur atau meloloh anak, tampak walet-walet berseliweran di roving room. Itu karena banyak serangga di dalam gedung sehingga walet tidak mau pergi jauh. Padahal, biasanya pada musim kemarau walet meninggalkan sarang jauh lebih pagi, pukul 04.30, dan pulang telat hingga pukul 19.00. Maklum, kerabat burung layang-layang itu harus bekerja keras berburu pakan.

Karena sudah terbiasa Djazuli hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk memetik setiap sarang. “Saya tak terlalu khawatir sarang pecah. Meski kemarau, tapi kali ini sarang agak tebal, ”ucapnya. Dalam waktu sekitar 2 jam sebanyak 90 sarang bisa diambil. Terlihat sarang memang lebih besar dan tebal, bobotnya berkisar 5,5 — 6,0 g / keping. Menurut ketua Dewan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Indramayu itu sebelum ada perlakuan penambahan pakan, bobot sarang paling 4,0—4,5 g/keping. Dibanding musim penghujan yang ratarata berbobot 8 g, bahkan ada yang mencapai 12 g/ sarang, hasil itu memang belum memuaskan. Namun, yang paling penting peningkatan bobot rata-rata sebesar 20% diikuti penambahan jumlah sarang sebanyak 11%. Semula hanya 76 sarang, 3 bulan kemudian bertambah menjadi 90 sarang. Penambahan itu karena ada walet tetangga yang kebandrang.

Pakan tambahan

Djazuli hanya memanfaatkan media penumbuh serangga drosophila di dalam ruangan untuk menambah ketersediaan pakan. Media yang dimaksud berupa campuran bahan-bahan alami seperti tepung buah-buahan dan serealia, serta telur-telur drosophila. Media ini tersedia di pasaran. Dua wadah plastik berisi media masing-masing sebanyak 2 kg ditempatkan di rooving room. Jumlah itu cukup memadai untuk bangunan 4 m x 17 m dengan populasi walet sekitar 150 pasang. Semakin banyak populasi dibutuhkan media lebih banyak lagi.

Selang 3 minggu dari media muncul drosophila yang kemudian beterbangan di seputar rooving room. Walet berebutan menyambarnya. Agar lalat drosophila terus bermunculan, media harus selalu basah atau macak-macak. Oleh karena itu Djazuli selalu menambahkan air setiap 5 hari, atau tergantung kondisi, hingga media habis setelah 5 bulan. Menurut Ir Hermin, dosen Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman yang meriset produk itu, dalam 1 kg media terdapat 180.000 telur drosophila.

Drosophila disukai walet lantaran tubuhnya lunak. “Jangan khawatir, drosophila tidak akan menjadi hama. Ia hidup dari sampah-sampah organik,” ungkap Hermin. Menurut Djazuli, media itu dipilihnya karena praktis. Bayangkan dulu pemilik apotek dan bengkel mobil di Haurgeulis itu harus memasukkan gaplek hingga berkuintal-kuintal. Alih-alih mengundang serangga pakan walet, justru ruangan menjadi panas. Kutu yang keluar pun punya sayap keras tidak dimakan walet. Pakar walet Dr Boedi Mranata di Jakarta menyambut baik penggunaan media penumbuh serangga. Namun, “Berapa banyak serangga dihasilkan? Itu tak mungkin cukup untuk menghidupi walet yang setiap hari butuh 5—8 gram pakan per ekor,” ungkapnya. Sebagai pakan tambahan boleh-boleh saja, tapi kalau menjadi menu utama perlu dihitung ulang. Lebih-lebih serangga yang dihasilkan hanya 1 jenis. Padahal, keragaman pakan penting untuk menjaga kesehatan tubuh walet.

Terlepas sebagai pakan tambahan atau pakan utama, menghadirkan serangga di dalam gedung menjadi tren di hampir seluruh sentra walet. “Dengan penambahan bobot sarang 20% saya hitung-hitung masih menguntungkan,” tutur Djazuli. Dua kaleng media kapasitas 2 kg hanya Rp600.000. Sementara nilai jual dari penambahan bobot sarang seberat 135 g, Rp945.000, jika harga sarang Rp7-juta/kg. Artinya masih ada kelebihan Rp345.000. Belum termasuk penambahan populasi. (Karjono)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img