Wednesday, August 17, 2022

Seri Walet (114): Styrofoam Katrol Populasi Sarang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bukan tanpa alasan styrofoam itu dipasang. Beberapa tahun terakhir produksi sarang di Sedayu merosot hingga 30-50%. Kondisi itu berbeda dengan rumah walet di sekitarnya seperti di Lamongan dan Pasuruan. Meski sama-sama mengalami penurunan, tapi persentasenya kecil, sekitar 5-10%. Sebab itu untuk memacu kembali produksi sarang, peternak di Sedayu meniru habitat asli walet di gua. Collocalia fuciphaga itu membuat sarang di cekungan batu.

Dari ujicoba yang dilakukan selama 3 tahun, pemasangan styrofoam bisa mendongkrak produksi sarang hingga 30%. Dua puluh persen berasal dari walet lama yang menghuni rumah; sisanya, 10% walet tetangga. Awal percobaan agak sulit mendeteksi asal sarang: berasal dari penghuni baru atau walet lama yang berpindah ruang. Namun, kenyataan menunjukkan setiap kenaikan populasi di satu ruang diiringi penurunan populasi di ruang lain.

Populasi meningkat

Ternyata setiap ruang yang dipasang styrofoam rajin disambangi walet. styrofoam berguna sebagai wadah dan penopang sarang. Menurut Boedi Mranata, praktisi walet di Jakarta Selatan, styrofoam mempermudah walet membuat sarang. Terutama pada walet muda yang sedang belajar membuat sarang, ujar Boedi.

styrofoam juga membuat walet tetangga tertarik datang. Pada tahun pertama percobaan, di ruangan 3 m x 3 m dipasang styrofoam sebanyak 15-20 buah/ m2. Selain itu dipasang juga potongan kayu berukuran 7 cm x 4 cm x 2 cm. Jaraknya 7 cm dari styrofoam. Styrofoam dan kayu dipasang secara acak pada sirip. Hasilnya, tahun pertama muncul 24 sarang. Jumlah itu meningkat 33% dibanding sebelumnya yang hanya 18 sarang. Pada tahun ketiga jumlahnya meningkat lagi menjadi 27 sarang setelah lewat 1 kali tetasan. Sementara potongan kayu kurang efektif, hanya beberapa walet yang bersarang di sana.Jika tanpa styrofoam, jumlah sarang cenderung menurun menjadi 12,5%.

Percobaan lain di ruang 9 m x 3 m mendapati kenaikan jumlah sarang yang signifikan. Tanpa styrofoam dan kayu, pada tahun pertama hanya diperoleh 10 sarang. Saat memakai styrofoam dan kayu, jumlah sarang meningkat drastis menjadi 46 sarang setelah lewat 2 kali tetasan.

Anakan tidak kabur

Selain meningkatkan produksi sarang, styrofoam juga menambah populasi si liur emas. Populasi walet dan sarang meningkat setelah 2 kali tetasan. Panen dilakukan 8 bulan setelah tetasan terakhir itu. Pada periode pertama tetasan, anak walet menempati sarang yang dibuat induk sehingga sarang diisi 4 walet: induk jantan, betina, dan 2 anak hasil tetasan.

Agar kelak piyik tidak menggunakan sarang induk sebagai tempat berdiam, kayu dan styrofoam dipasang di sekitar sarang induk. Fasilitas itu diberikan karena anak walet seringkali merebut sarang induk yang membuat induk tidak mau lagi bersarang. Hadirnya styrofoam atau potongan kayu membantu walet muda berkreasi membuat sarang.

Untuk itu pasang kayu dan atau styrofoam di lagur, berjarak 7 cm dari sarang induk. Saat piyik matang kelamin, berumur sekitar 8 bulan ia sudah mampu membuat sarang di styrofoam atau kayu. Namun, jika sebelum piyik-piyik itu matang kelamin sudah ada sarang di dekat sarang induk, itu dipastikan berasal dari penghuni baru atau penghuni lama yang berpindah tempat.

Supaya anakan tidak kabur, panen sarang dilakukan setelah melewati 2 kali tetasan. Bila 1 kali tetasan sarang induk sudah diambil, dikhawatirkan walet muda yang sedang belajar terbang atau mencengkeram tidak bisa mengenali induk. Karena merasa asing, walet akan mudah kabur sehingga tidak terjadi regenerasi.

Rusak

Menurut Harry K Nugroho, MBA, styrofoam dapat rusak dan berlubang. Itu terjadi saat walet berpijak. Solusinya, dibutuhkan styrofoam yang tebal. Selain tidak cepat sobek, styrofoam mampu menopang sarang. Ketebalan perlu dijaga karena sarang itu akan dihuni 4 walet. Bila rusak bisa membuat anak terjatuh dan induk pergi ke tempat lain, ujar pemilik Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara, itu.

Sayangnya, meningkatnya populasi karena styrofoam tidak diimbangi keuntungan lain. Bobot sarang justru turun sampai 50%, dari bobot normalnya 5- 8 g/ sarang. Bentuk sarang yang menempel dekat styrofoam pun abnormal. Kendala lain, penghuni lama sering terus menempati tempat itu sehingga tidak terjadi regenerasi. Meski ada kendala, dalam jangka panjang metode itu dianggap menguntungkan untuk meningkatkan populasi walet. Terbukti dengan kombinasi kayu dan styrofoam, 30% walet gemar membuat sarang di sana. (Ubaidillah Thohir, peternak walet di Sidomulyo, Sidayu, Gersik, Jawa Timur)

Perbandingan jumlah sarang dengan dan tanpa styrofoam

Ukuran ruang

Jumlah sarang pada tahun ke-1

Jumlah sarang pada tahun ke-3

Jumlah tetasan

Styrofoam dan kayu

Populasi

Presentasi

9 m x 3 m

10

46

2 x

Ada

Naik

433,4

3 m x 3 m

3

16

2 x

Ada

Naik

360

3 m x 3 m

24

27

1 x

Ada

Naik

12,5

3 m x 3 m

18

14

1 x

Tidak

Turun

-28,5

Sumber: Ubaidillah Thohir, 2003

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img