Sunday, November 27, 2022

Seri Walet (116): Rumah Sederhana sang Liur Emas

Rekomendasi

Modal yang dikeluarkan guru di pedalaman Palembang, Sumatera Selatan, itu cuma Rp40-juta. Mayoritas penduduk desa berjarak 3 jam dengan speed boat dari Palembang memiliki rumah serupa. Semua berawal ketika secara tidak sengaja ada walet bersarang di rumah seorang pemuka agama setempat. Kelak walet nyasar itu mengundang tetangga-tetangga sang pemuka agama untuk membuat rumah walet sederhana.

Menurut Hary K Nugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara, rumah walet sederhana itu disebut rumah perintis alias pemancing. Setelah populasi padat, rumah harus direnovasi dan diperbesar, ujar Hary. Jika tidak, walet merasa tidak nyaman dan akhirnya kabur. Rumah berukuran 4 m x 8 m, seperti milik Rojak, bisa terisi lebih dari 250 ekor. Umumnya setelah 1 tahun rumah sudah penuh dengan burung penghasil liur emas itu.

Dua tipe

Bagian bawah rumah walet perintis di pedalaman Palembang itu berbentuk kotak. Lantai bawah dibuat permanen agar keamanan terjamin dan sebagai penyangga bagian atas rumah. Lantai 3 dan 4 berupa dinding kayu yang menyempit, membentuk segitiga. Di bagian atas inilah terletak pintu masuk walet. Ukurannya pun kecil hanya 80 cm x 13 cm, disesuaikan dengan ukuran rumah walet.

Jenis kayu yang digunakan bisa bermacam-macam. Namun, menurut Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat, sebaiknya kayu yang dipilih kuat seperti meranti. Kayu jati bisa digunakan karena sangat kuat, tetapi baunya kurang disukai walet, kata Philip. Agar kayu tidak langsung terkena air, bagian luar ditutup plastik hitam yang diberi pengikat tali. Warna hitam untuk menciptakan suasana gelap dalam ruangan.

Selain kayu, rumah perintis juga dapat dibuat dari seng. Seng menyebabkan suhu dalam rumah panas, ujar Hary. Untuk menyiasatinya, para peternak menyimpan ember berisi air di dalam ruangan. Hasilnya, kelembapan tetap tinggi, berkisar antara 85-90% dengan suhu ruangan 26-29oC.

Selain itu ada pula peternak yang menggunakan plastik untuk melapisi bagian dalam ruangan. Cara ini membantu menurunkan suhu dalam ruangan, tambah pemilik Eka Walet Center itu. Agar sirkulasi udara lancar perlu dibuat ventilasi. Lubang ventilasi dibuat dari pipa PVC berdiameter sekitar 10 cm. Dalam ruangan diletakkan sound system berisi rekaman suara walet.

Bagian dalam rumah walet perintis tidak bersekat. Pembagian ruangan tidak memungkinkan karena ukuran ruangan sangat kecil. Oleh karena itu pintu penghubung antarlantai pun dibuat besar berukuran 1 m x 2 m. Walet yang masuk melalui pintu di bagian atas, akan terbang berputar secara zig-zag di lantai atas, lalu masuk ke ruangan bawah melalui pintu penghubung.

Walet bersarang pada lagur yang dibuat dari kayu selebar 15 cm dengan jarak antarlagur 30 cm. Lagur dibuat berbentuk persegi panjang, ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan. Mutu sarang sama dengan kualitas sarang dari rumah walet permanen. Kualitas sarang dipengaruhi oleh lokasi bangunan dan jenis pakan yang dikonsumsi, ungkap Philip.

Renovasi

Saat populasi dalam rumah perintis padat, maka harus segera direnovasi. Renovasi rumah perintis dari kayu atau seng relatif mudah. Perluasan dengan membangun rumah baru permanen di samping atau bagian belakang rumah perintis. Ketika rumah permanen itu sudah berdiri, maka kayu atau seng yang menempel pada rumah perintis itu bisa langsung dirobohkan. Cara ini tidak akan mengganggu walet yang sudah bersarang di sana, kata Hary.

Selain bentuk semi permanen, rumah perintis pun bisa dibuat permanen. Hal ini dibuktikan oleh Drs Arief Budiman, praktikus walet di Kendal, Jawa Tengah. Ia memiliki rumah walet berukuran 4 m x 20 m di Sampit, Kalimantan Tengah. Untuk membangun rumah berukuran 4 m x 20 m setinggi 2 lantai dibutuhkan dana sekitar Rp250-juta, ujar Arief.

Sama seperti rumah perintis semi permanen, rumah perintis permanen pun harus diperluas ketika populasi Collocalia fuciphaga itu sudah padat. Setelah 1 tahun biasanya saya sudah memperluas rumah walet, kata Arief. Renovasi dengan menambah ruangan di samping rumah perintis. Pada rumah perintis terdapat bagian-bagian tertentu yang tidak ditembok. Cukup ditutup dengan kayu, sehingga ketika akan diperluas tinggal membuka kayunya saja, ujar alumnus Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.

Munculnya rumah walet sederhana seperti milik Rojak dan Arief mampu mengubah citra rumah walet. Selama ini ketika mendengar rumah walet, terbayang bangunan beton tinggi besar, megah, dan berpagar besi. Ada kesan tak ramah bahkan cenderung menakutkan. Bangunan tinggi, megah, dan kuat itu memang untuk pengamanan. Semuanya demi melindungi sarang walet dari perampok.

Rumah walet juga lekat dengan citra mahal. Orang cenderung berpendapat untuk membangun sebuah rumah walet dibutuhkan modal ratusan juta rupiah. Apa yang sering dibayangkan orang itu, ternyata tidak selamanya benar. Kini, bermodalkan puluhan juta rupiah orang dapat membangun sebuah rumah walet. Asal lokasinya tepat walet pasti mau kok bersarang di rumah itu, karena walet itu sebetulnya bandel, ujar Hary. Philip menyetujui pendapat itu. Membangun rumah walet tidak harus selalu bermodalkan uang ratusan juta rupiah. Asal lingkungan tepat, sarang pun bisa didapat seperti yang dilakukan Rojak. (Lani Marliani)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img