Monday, November 28, 2022

Seri Walet (117) : Melongok Walet Gua di Bukit Kelam

Rekomendasi

Pemanjatan itu tidak selalu membawa hasil yang diinginkan: sarang walet gua. Selain letak celah tinggi dan curam, posisi sarang pun benar-benar sulit diraih. Sarang liur emas itu ada di pojok-pojok dinding celah. Tangan biasa pasti sulit menjangkaunya. Perlu alat bantu lain seperti galah dan tangga untuk dapat mendekati posisi sarang itu.

Prosesi pencarian sarang Collocalia fuciphaga gua itu dituturkan Iman, salah satu pekerja di suatu kebun yang letaknya persis di lereng Bukit Kelam itu. Trubus kebetulan singgah di kebun durian seluas 18 ha milik H Alwi Wahab itu saat melintasi Kabupaten Sintang dalam acara eksplorasi buah tropis 2006 di pedalaman Kalimantan Barat. ‘Di dinding bukit itu hanya cahaya senter bergerak-gerak saat mereka mulai memanjat,’ ujar Iman menunjuk posko pemburu walet beratap terpal biru itu.

Makrohabitat mendukung

Trubus yang datang menjelang sore hari di kawasan objek wisata alam seluas 520 ha itu memang belum beruntung mendapati walet-walet gua yang masuk ke dalam celah tebing. ‘Biasanya sedikit menjelang agak gelap, walet baru datang. Itu pun masuk dari sisi barat,’ ujar Rudi Haruddin, pemandu. Bagian yang Trubus lihat merupakan sisi timur dari Bukit itu.

Kondisi alam di lokasi yang letaknya 50-900 m dpl dan memiliki sudut kemiringan di atas 45? itu terlihat mendukung keberadaan walet. Makrohabitat seperti sumber pakan sangat melimpah. Hal itu tampak mulai dari lereng hingga radius sekitar 5 km dari bukit, vegetasi tumbuhan merata. Selain pohon-pohon besar berdiameter di atas 60 cm, juga terlihat vegetasi hutan sekunder muda yang disesaki tanaman perdu yang biasanya dipenuhi serangga terbang.

Kondisi mikrohabitat bukit yang mempunyai jenis kantong semar endemik Nepenthes clipeata itu ikut mendukung kenyamanan hidup walet. Suhu terpantau berkisar 26-28?C dan kelembapan diperkirakan mencapai di atas 70%. Indikasinya selain banyak lumut tumbuh di batang pohon, tanah pun basah saat dipegang. Apalagi celah tebing tempat walet gua membuat sarang kondisinya sangat gelap. Di sana kelembapan diperkirakan berkisar 80-90%.

Bergiliran

Menurut H Alwi hingga 1990 kepemilikan gua-gua walet di Bukit Kelam itu belum jelas. ‘Belum ada yang mengatur sehingga banyak kelompok-kelompok saling mengaku sebagai ahli waris pemilik gua itu,’ ujarnya. Baru pada 24 November 1991 dibuat keputusan bersama antara pemerintah daerah Kabupaten Sintang dan kepala Desa Kebong, tempat lokasi sarang walet gua itu ada.

Berdasarkan keputusan bersama itu, 3 sumber sarang walet di Bukit Kelam yakni Gua Besar, Gua Perujai, dan Gua Punjung, masing-masing dikelola oleh 2-7 kelompok. Gua Besar misalnya dikelola kelompok keturunan Perabu, Suayang, Kitut, Ganding, Marintai, Adam, dan Melintang. Kelompok-kelompok itu hanya dibolehkan memanen setiap 4 bulan sekali sesuai waktu dan giliran yang disepakati bersama. Sayang, hingga kini belum ada data akurat jumlah produksi sarang walet setiap kali pemanenan.

Menurut Hary K Nugroho dari Eka Walet Center di Jakarta Utara, keberadaan gua-gua walet produktif di Bukit Kelam itu potensial memacu pembangunan rumah-rumah walet di sekitarnya. ‘Adanya walet gua menjadikan daerah itu sebagai lintasan terbang walet. Dapat diperkirakan juga ketersediaan sumber pakan cukup melimpah,’ ujar Hary. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img