Monday, August 8, 2022

Seri Walet (119): Tonle Sap, Rumah Baru Bagi Walet

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Semua bermula dari undangan resmi Department Forestry of Cambodia pada Maret 2006. Pemerintah negara itu mengundang Dr C H Giam, salah satu komisioner CITES asal Singapura, Boedi Mranata (Jakarta), Anton Siswanto Ho (Semarang), Johanes Siegfried (Sumatera Utara), Chu Yee Yan (Taiwan), dan John Chen (Malaysia). Mereka didatangkan untuk melihat potensi walet di Kamboja.

Pesawat Silk Air yang ditumpangi pun mendarat di bandara internasional Phnom Penh. Di sana mobil van milik departemen kehutanan telah menunggu untuk mengantarkan rombongan ke Hotel Intercontinental. Sepanjang jalan menuju hotel yang berjarak 8 km dari bandara itu tampak motor, mobil, dan becak hilirmudik. Bangunan berlantai 4 memadati pinggiran jalan utama. Uniknya, beberapa kuil masih memajang tengkorak manusia sisa-sisa perang saudara pada 1960-an.

Di atas danau

Keesokan hari, rombongan departemen kehutanan menjemput dengan bus bertempat duduk 50 kursi. Bus ber-AC itu pun melaju meninggalkan Phnom Penh melewati beberapa kampung di bagian tengah Kamboja. Beberapa kali mobil berhenti saat melintasi tempat-tempat yang diduga habitat walet. “Biasanya di dataran rendah dekat aliran sungai, rawa-rawa, dan pesawahan,” ujar Boedi. Namun, yang ditemukan malah collocalia lain yang tidak menghasilkan liur. Padahal, alat pemanggil walet seperti twiter, amplifier, dan CD player telah dinyalakan untuk memanggil Collocalia fuchipaga.

Enam jam kemudian mobil tiba di Danau Tonle Sap. Diduga di sanalah walet berada. Dengan perahu, rombongan mengitari danau yang mengalir hingga ke Sungai Mekong di Tibet. Bila Th ailand punya pasar terapung, Tonle Sap punya rumah terapung. Sekolah, kuil, pasar, sampai bengkel juga mengapung di sana.

Pukul 15.00, saat berada di atas kapal Boedi melihat beberapa walet melintasi langit berlapis awan putih. “Jumlahnya tidak banyak, tapi dapat menjadi indikasi walet telah masuk Kamboja,” ujar Boedi. Suara CD player membuat sebagian walet berputar-putar mendekati kapal. Sayang, saat itu habitat walet belum ditemukan.

Tonle Sap cocok untuk mengembangkan walet. Lembap dan suhu mencapai 280C. Serangga sebagai pakan walet melimpah di sepanjang permukaan danau. Udara pun bersih lantaran terbebas dari asap kendaraan.

Pinggir pantai

Sinar mentari yang mulai redup menyudahi pencarian. Perahu pun berbalik arah menuju tepian. Setelah itu bus membawa rombongan menuju Siem Reap, 1 jam dari Tonle Sap, untuk menginap. Keesokan hari, rombongan pergi ke Angkor Wat – kuil yang dibangun untuk menghormati Raja Suryavarman II. Namun di daerah yang berhawa dingin itu tak seekor pun walet ditemukan. Perjalanan itu menjadi akhir eksplorasi Boedi sebelum kembali ke tanahair keesokan hari.

Tongkat estafet pelacakan dilanjutkan oleh tim departemen kehutanan. Awal 2007, departemen, setingkat kementerian, itu mengirimkan sarang walet ke rumah Boedi. Sarang itu ditemukan di Sihanoukville, Kamboja Selatan. Tepatnya menempel di dermaga kapal yang berjarak 1 – 2 m dari air.

Kabar terakhir menyebutkan di daerah yang dikelilingi pantai berpasir putih itu telah berdiri 4 rumah walet. Dibangun rumah walet itu bertingkat dan bertembok semen. “Rumahnya modern. Sekali panen diperoleh 10 – 20 kg,” ucap Boedi.

Walet migrasi

Bukan tanpa alasan Kamboja ketiban walet. Bagian barat Kamboja berbatasan dengan Thailand. Vietnam berada di sebelah timur. Kedua negara itu dikenal sebagai salah satu penghasil sarang walet. Menurut Boedi, ada kemungkinan di Thailand populasi walet padat karena limpahan dari Indonesia dan Malaysia. Akibatnya terjadi persaingan pakan. “Wajar saja walet pergi mencari daerah baru yang kaya pakan,” ungkap Boedi.

Kemungkinan lain, walet bermigrasi dari Pulau Sumatera. Lagi-lagi padatnya populasi dan kondisi lingkungan menjadi penyebab. “Di Sumatera seperti Riau sering terjadi kebakaran hutan sehingga walet pergi,” ujarnya. Sitiawan dan Kota Bharu di Malaysia menjadi tempat persinggahan walet. Namun, kini populasi walet di tempat itu terbilang padat. Bisa saja si liur emas itu terbang menuju Th ailand Selatan. Saat populasi membludak, walet berpeluang migrasi melintasi Teluk Siam ke Kamboja. “Lintasan jauh mudah saja ditempuh walet, karena ia mampu terbang 80 km/jam,” ucap Boedi.

Wajar kalau suatu hari nanti Kamboja menjadi produsen sarang walet. “Dalam waktu 5 – 6 tahun ke depan Kamboja berpeluang dibanjiri walet yang datang dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” ungkap Boedi. Bila itu terjadi, Tonle Sap dan Sihanoukville bakal menjadi rumah baru bagi si liur emas. (Lastioro Anmi Tambunan)

Danau Tonle Sap, walet melintas di atasnya

Boedi (tengah) dan praktisi walet menikmati keindahan Siem Reap

Foto-foto: Koleksi Boedi Mranata

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img