Monday, August 8, 2022

Seri Walet (121) : Kala Penghasil Liur Emas Tertambat di Penang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pantas Kang Chun Heng tak pernah mengenal yen che – sebutan walet – di Penang. Walet baru masuk pulau di sebelah barat mainland Malaysia itu pada 1997. “Mereka pindahan dari Indonesia. Mungkin terusir karena kebakaran yang melanda hutan Sumatera dan Kalimantan pada saat itu,” kata Teh Chin Chai, pengusaha Tionghoa yang bergerak di bidang otomotif.

Meski sosok walet baru dikenal belakangan, sarang walet sangat populer di Penang. “Birdnest (sarang walet, red) banyak dipakai sebagai obat awet muda. Istri saya rutin mengkonsumsinya,” kata Kang. Istrinya, Loh Geok Kee, percaya kebugaran tubuhnya terjaga karena air rebusan yen wo – sebutan sarang walet – yang diminum sebulan sekali.

Pantas, meski harga sarang walet di sana di kisaran RM4.000 – RM6.000 setara Rp12-juta – Rp18-juta/kg, Loh selalu memastikan sarang walet tersedia di dapur rumahnya. Selain dikonsumsi secara konvensional, wartawan Trubus, Destika Cahyana, melihat rumah makan di bilangan George Town – penyedia menu sarang walet – ramai dikunjungi orang. “Birdnest sangat populer di sini,” kata Khor Ooi Meng, kenalan Trubus yang menggeluti adenium.

Potret Cina

Potret masyarakat Tionghoa di Penang yang baru mengenal sosok walet itu mengingatkan pada kondisi etnis Tionghoa di daratan Cina dahulu kala. Ratusan tahun silam, orang Cina hanya tahu sarang walet berkhasiat luar biasa. Hanya segelintir yang mengetahui sosok burung penghasil liur emas itu. Musababnya, walet hanya ditemukan di daerah gua karang pantai Laut Cina Selatan. Medan menuju kesana pun penuh mara bahaya.

Belakangan baru diketahui wilayah yang disebut-sebut sebagai daerah penyebaran walet di selatan Cina itu termasuk Indonesia. Itu bukan omong kosong. “Sebanyak 80% walet dunia dipasok dari Indonesia,” kata H. Ahmad Suyuti, pakar walet di Pati, Jawa Tengah. Suyuti menyebut gua-gua di sekitar Pantai Karangbolong di tepi Samudera Hindia sebagai sumber sarang walet alam yang terkenal di dunia.

Seiring perjalanan waktu, dari gua di tepian pantai, populasi walet bergeser ke gua di pegunungan kapur yang berada di daerah pedalaman. Itu mengikuti proses migrasi walet: bermula dari pantai, menuju gunung kapur di daerah pedalaman, dan terakhir di pemukiman penduduk. “Penyebab migrasi macam-macam: jumlah walet yang terlalu banyak di suatu tempat atau karena eksploitasi sarang oleh manusia,” kata Suyuti.

Migrasi negara

Kisah migrasi walet dari pantai ke pemukiman – terutama bangunan tua – dilanjutkan dengan pembangunan rumah walet. “Karena harganya mahal, dibuat rumah walet agar sarang bisa dipanen

di lokasi sendiri,” kata Suyuti. Sayang, malang nian nasib walet Indonesia. Kala domestikasi – merumahkan – marak dilakukan muncul musibah yang tak dapat dicegah: kebakaran hutan!

Akibatnya, walet yang baru menempati rumah bermigrasi ke negara-negara yang relatif bebas asap kebakaran. Sebut saja Kamboja, Vietnam, dan Malaysia. Bahkan, untuk negara yang disebut pertama tak pernah ditemukan walet sebelum kebakaran hutan di Indonesia (baca: Seri Walet (119), Tonle Sap, Rumah Baru Bagi Walet, Trubus Mei, 2007). Sementara Penang, Malaysia, menjadi salah satu tempat persinggahan yang nyaman bagi Collocalia fuciphaga.

Sebut saja di Bukit Tambun, masih di wilayah Penang. Sekitar pukul 22.52 waktu Malaysia Trubus masih mendengar suara compact disc walet dipasang di sebuah ruko yang tak lagi terpakai. Esok lusanya suara sama terdengar dari sana. Di atas 30 ruko yang terbagi dalam 4 blok beterbangan ratusan walet. Bekas pusat bisnis yang terletak 15 km dari Jembatan Penang itu mulai didatangi walet 2 tahun silam. Pemilik ruko mengalah dan membiarkan walet menghuninya.

Pemandangan yang tak terduga justru ditemui di Bukit Mertajam, seberang Penang. Di sana sejak 5 tahun silam, sebuah bengkel alat berat plus kantor, bersedia berbagi tempat dengan walet. Lantai 2 dan 3 untuk kerabat sriti, sedangkan lantai dasar untuk kantor dan bengkel. Toh, suasana bengkel tetap bersih. Itu mengingatkan rumah walet di kawasan Pecinan, Pati, Jawa Tengah. Banyak rumah walet yang berbagi dengan toko kelontong, wartel, maupun tempat kursus.

Masih di Bukit Mertajam, Trubus melihat bekas toko lou han yang ditinggal pemiliknya untuk walet. Di atasnya puluhan kerabat burung layang itu keluar-masuk pintu rumah berukuran 30 cm x 90 cm. Menurut Teh, di Penang – termasuk bagian seberang – terdapat sekitar 100 rumah walet sejak 10 tahun terakhir. Mereka tersebar di Butterworth, Sungai Bahar, Bukit Mertajam, dan Bukit Tambun. Sebuah rumah yang telah dihuni banyak walet dapat menghasilkan 1 kg sarang per bulan.

Penelusuran Trubus, banyak alasan yang membuat walet mulai bermukim di Penang. Wilayah yang relatif masih asri itu dikelilingi kawasan perairan yang kaya serangga. Beberapa wilayah pedalaman pun ditemukan sawah nan hijau sebagai sumber perairan tawar. Serangga banyak ditemukan di sana. “Prinsipnya, walet betah tinggal di wilayah yang banyak pakan,” ujar Harry Nugroho dari Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara.

Makanya rumah walet banyak dibangun di tempat yang kaya pakan atau pun di perlintasan. Penang yang dilewati walet kala bermigrasi dari Indonesia ke negara bagian utara pun menjadi tempat nyaman bagi penghasil liur emas itu. (Destika Cahyana)

Bangunan multiguna: walet, bengkel, dan kantor di Bukit Mertajam

Sekilo sarang Rp12-juta – Rp18-juta tak halangi warga Penang untuk mengkonsumsinya

Foto-foto: Destika Cahyana

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img