Friday, August 12, 2022

Seri Walet (122): Pintu Pengalih Pencoleng

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pintu terbuat dari plat besi setebal 6 mm itu sederhana. Warnanya dibuat mencolok supaya mata terpancing melihatnya. Tak ada gagang pintu menempel di plat besi itu. Namun, justru itu keistimewaannya. “Maling akan menduga itu pintu masuk utama sehingga pasti ia akan naik ke atas,” kata Hary K Nugroho, praktikus di Kelapagading, Jakarta Utara.

Tak mudah naik ke pucuk bangunan itu. Selain harus melewati dinding bangunan yang rata dan berkawat duri, sesampainya di atas pencoleng mendapati pemandangan mengagetkan. Tak ada satu pun pegangan di pintu atau lubang masuk tangan untuk membuka pengait seperti lazimnya pintu bangunan walet.

Seandainya mencoba membobol, sesungguhnya itu pekerjaan mahasulit. Pintu itu didobel dengan cor beton. Setelah plat besi diatasi, sudah menanti pintu berjeruji dengan tebal 3 cm, dilengkapi selot dan grendel kuat.

Meski demikian bukan mustahil pencoleng dapat menembus. Namun, “Itu bisa memakan waktu seharian, pasti akan ketahuan. Apalagi pintu itu memiliki standar keamanan seperti pintu utama,” ujar Hary, pemilik Eka Walet Center.

Ukuran bervariasi

Pintu jebakan inovasi baru untuk mengamankan rumah walet. Selama ini sasaran utama pencoleng memang pintu utama yang letaknya disembunyikan seperti di dalam gudang yang menempel dengan bangunan walet. Untuk mengalih kan pintu incaran itu dibuat pintu lain yang letaknya lebih sulit dijangkau.

Pilihan terbaik adalah kotak semen di pucuk bangunan walet. Selain letaknya tinggi, untuk mencapai ke sana tak mudah.

“Itu yang menjadi dasar rumah paling atas dipasang pintu jebakan,” ujar Hary.

Posisi pintu bebas, dapat di tengah atau di pojok bangunan. Namun, posisi yang mudah terlihat dari kejauhan yang paling bagus. Panjang dan lebar pintu tidak memiliki patokan ideal. Bangunan walet di Sukabumi memakai ukuran tinggi orang dewasa dan lebar pintu rumah tinggal umumnya. Namun, pintu dapat dibuat lebih kecil atau lebih besar, sesuai ukuran kotak semen itu.

Selain perlengkapan keamanan yang mumpuni, warna pintu sangat vital. “Pilihlah warna kontras dengan warna bangunan seperti hijau atau hitam,” ujar Hary. Asumsinya bila pencoleng mengamati bangunan, matanya akan segera tertumbuk pada pintu bercat mencolok itu. Ke sanalah nantinya ia akan bergerak.

Pintu lain

Pintu di kotak semen dengan standar keamanan seperti pintu utama tetap dapat dipakai. Pintu ganda misalnya memiliki kelebihan dapat dibuka dari luar. Meski demikian pintu itu tetap kuat karena setiap lapisan pintu dipasang gembok kokoh.

Desain satu pintu tidak masalah. Namun, agar kuat bagian tengah pintu plat besi harus dicor sehingga lebih tebal dan lebih berat. Tujuannya, agar tidak sembarang alat bisa menjebolnya. Alat gergaji listrik belum tentu kuat memotong. Agar tidak mudah ditarik alat berat, pemasangan pintu harus tepat. “Jangan hanya mengandalkan engsel,” kata Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat.

Pintu tunggal itu dapat dimodifikasi lagi. Di tengah, atas, dan bawah, diusahakan tidak terlihat gembok menggantung. Gantinya, dibuat lubang kecil seukuran tangan di bagian tengah. Lubang ini menjadi jalan untuk membuka selot. Karena hanya cukup dilalui satu tangan, pencoleng akan kesulitan membuka gembok. “Ia tidak bisa menggunting gembok dengan leluasa dan kekuatan penuh,” kata Hary.

Menurut Hary, pintu lebih modern dengan perangkat elektronik bisa dipakai. “Pintu dapat dikendalikan dengan remote control,” katanya. Ini biasanya digunakan untuk pintu yang berat, sehingga sulit dibuka secara manual. Pintu itu dilengkapi penggerak beraliran listrik. Namun, bila aliran listrik mendadak mati, pintu tidak bisa dibuka.

Syarat keamanan pintu seperti tidak mudah dibobol dengan cara dilas atau digunting menjadi lagu wajib. Karena itu sebaiknya dipilih bahan pintu yang kuat. Plat besi bermotif bunga bisa dijadikan alternatif. Atau ingin lebih kuat,” Gunakan stainless steel yang tidak perlu dicor lagi,” ujar Philip Yamin.

Stainless steel memang bahan terbaik. “Stainless setebal 3 mm saja susah dipotong,” kata Fofoo Dohona, praktikus walet di Serpong, Tangerang. Hanya saja pintu dari stainless steel lebih mahal dibandingkan pintu dari plat besi. Selisih harga mencapai 10 – 20 kali lipat.

Feng shui

Menurut Fofoo ukuran pintu bisa bervariasi. “Tidak ada patokan ideal, tergantung selera,” katanya. Bagi pemilik

gedung walet keturunan Tionghoa, ukuran pintu biasanya disesuaikan feng shui. Alat ukur pun tidak sembarangan. Meteran khusus bertuliskan huruf mandarin lazim digunakan.

Gembok menjadi andalan lain untuk mengamankan pintu. Satu pintu bisa memakai beberapa gembok. Namun, jika kualitas gembok baik, 1 – 2 gembok cukup diberi penutup baja.

Pintu juga bisa dilengkapi alarm. Kelemahannya, bila berbunyi dapat mengganggu kenyamanan walet di dalam gedung. Cara lain memasang tombol-tombol kombinasi untuk membuka pintu. “Sayang, tombol bisa rusak bila ada pencuri yang mengetuk terlalu keras,” ujar Fofoo yang lebih menyarankan memakai gembok sebagai pengaman pintu.

Senada dengan Fofoo, Hary pun menganjurkan kreativitas dalam memakai gembok. Ia pun mengingatkan untuk tidak lupa mengikat anak kunci dengan benang pada saat membuka pintu. Tujuannya mengantisipasi jatuhnya anak kunci. “Kalau sampai jatuh bisa celaka karena pintu tidak bisa dibuka,” katanya. (Lani Marliani)

 

Pintu di pucuk rumah walet. Gembok pengaman yang sulit digunting (inset).

Posisi pintu jebakan mudah terlihat.

Foto-foto: koleksi Hary K Nugroho

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img