Wednesday, August 10, 2022

Seri Walet (141): Harta Terpendam di Dau Mot

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kabar itu diterima Hary K Nugroho, praktikus di Jakarta Utara, usai membawakan makalah pada seminar walet di Hotel Ramana di Le Vansy, Vietnam, pada medio Desember 2008. Berselang satu hari kemudian Hary dan istri bergegas menuju Disneyland versi negara paling timur di semenanjung Indochina itu. Perjalanan selama 3 jam ditempuh dengan mobil. Kecuali sungai yang alirannya bermuara di Saigon, tak banyak pemandangan menarik di perjalanan. Hampir setiap wilayah yang dilalui merupakan daerah pabrik dan perkebunan anggur.

Perjalanan panjang itu terbayar kala cericit walet terdengar riuh dari sebuah tugu berjarak 300 m dari pintu masuk taman. Sumber suara berasal dari tweeter yang dipasang di samping lubang berukuran 40 cm x 40 cm. Dari lubang yang semula untuk sirkulasi udara itu kini dialihfungsikan menjadi pintu masuk ke dalam tugu. ‘Jumlah walet yang terlihat saat itu sekisar 40-60 ekor,’ ujar Hary.

Pemandangan luarbiasa justru tampak di 5 gunung buatan yang berderet rapi. Lokasi yang ditempuh 15 menit dengan berjalan kaki dari tugu itu juga dipenuhi suara tweeter. Dari kejauhan terlihat ratusan si liur emas tengah mengitari gunung itu. ‘Jumlahnya 3 kali lipat dari walet yang ada di tugu,’ kata pemilik Eka Walet Center itu terkesima.

Gunung buatan

Sejatinya Dau Mot merupakan lintasan walet. ‘Walet terbang menuju gua-gua di Provinsi Kho Hua,’ kata Hary. Produksi sarang walet di Vietnam sebagian besar berasal dari gua di Pulau Salangane di Nha Trang, Provinsi Kho Hua. Setiap tahun pulau yang menjadi salah satu objek wisata itu memproduksi 1 ton sarang. Itu tidak lepas dari kondisi pulau yang lingkungannya masih hijau. Artinya serangga pakan walet melimpah. Udara pun lembap, sekitar 80-90%.

Kondisi itu tak jauh berbeda dengan taman rekreasi yang dibuat 2 tahun lalu itu. Permukaan luar gunung basah karena ada aliran air deras dari mesin kabut. Bahkan aliran air lebih deras di gunung yang terletak di tengah barisan itu. Sebab itu di sana lebih banyak dijumpai walet. Kabut juga diarahkan ke lubang udara. Pantas saja setelah puas bermain di luar, walet mau masuk ke dalam.

Isi gunung itu dirancang menyerupai gua. Dengan bantuan lampu temaram si liur emas menjelajah sampai ke dasar gua. Lantai gua becek sehingga lembap. Namun, populasi sarang tidak merata. Walet banyak bersarang di sudut dinding yang bergelombang.

Hary optimis, bila dikelola dengan benar 10 tahun mendatang produksi sarang akan merata di setiap gunung. Apalagi di taman hiburan itu terdapat sungai besar yang dikelilingi pepohonan. Itu artinya walet tak perlu terbang jauh mencari pakan. Terbukti sarang yang dihasilkan pun berkualitas baik: putih, tebal, dan berbentuk mangkuk.

Mulai ramai

Selain Dau Mot, lokasi baru budidaya walet di Vietnam ada di Go Cong, Provinsi Tien Giang. Empat tahun lalu kota berjarak tempuh 3 jam dari Saigon itu tidak dijumpai rumah walet. Maklum informasi budidaya walet minim, penduduk hanya tahu walet bersarang di gua. Dari walet-walet gua itu produksi minuman berbahan baku sarang walet diproduksi.

Rumah walet yang menyatu dengan ruko mulai muncul awal 2006. Contohnya ruko milik Le Danh Hoang. Lantai 2 dan 3 ruko itu dipakai untuk budidaya walet. Ruko itu berada tepat di bantaran sungai. ‘Di daerah ini banyak serangga,’ ujar Le Danh. Maklum, tak jauh dari ruko terdapat sawah. Teknik budidaya yang diterapkan pria 24 tahun itu seperti yang ada di Indonesia. Misal, untuk menjaga kelembapan tinggi digunakan mesin kabut. Mesin berkekuatan 110 watt dinyalakan pada siang hari selama 4 jam. Hasilnya setiap 2 bulan memetik 2-3 kg sarang. Sukses itu pula yang membuat para tetangga mengikuti jejaknya. ‘Kini ada 5 rumah walet dengan produksi 2-3 sarang per panen,’ katanya.

Beragam harga

Vietnam sebetulnya sudah lama mengembangkan walet. Saat budidaya walet di Indonesia marak pada 1997, di Vietnam juga ada rumah walet. Namun, pengusahaannya tersembunyi. Maklum pemerintah dapat dengan mudah mengambil usaha itu.

Sejalan dengan perkembangan populasi walet, wilayah lintasan walet di Vietnam meluas mulai dari Saigon bawah, Da Nang, sampai ke Nha Trang. Di daerah lintasan-lintasan itulah bermunculan hingga 300 rumah.

Warga Vietnam tertarik mengembangkan walet karena harga sarang cukup tinggi dan pemasarannya mudah. Harga retail sekilo sarang di Vietnam 20-juta-30-juta VND setara Rp11,76-juta-Rp17,65-juta/kg tergantung kualitas. Yang termasuk kualitas rendah atau remahan harganya Rp3-juta/kg. ‘Pembeli di sana menerima beragam kualitas, termasuk kualitas rendah sekalipun,’ kata Hary. Dengan potensi alam yang terjaga baik Vietnam kini siap menjadi sentra walet di Asia Tenggara. (Lastioro Anmi Tambunan)

Previous articleDaun Ungu
Next articleAglaonema Terbaik Indonesia
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img