Friday, December 2, 2022

Seri Walet (182) Tak Ada Sentra Abadi

Rekomendasi

Sentra walet rata-rata hanya bertahan 7-10 tahun.

Iklan penjualan rumah walet di salah satu situs penjualan properti itu masih saja terpampang. Padahal, sang pemilik rumah walet, Ahmad Fahrozi-bukan nama sebenarnya-memasang iklan itu sejak Januari 2011. Sudah 526 orang yang berkunjung ke laman iklan itu. Namun, belum satu pun yang tertarik mengajukan penawaran. Iming-iming lokasi rumah walet di pantai utara Gresik, Jawa Timur, yang merupakan salah satu sentra walet di Jawa Timur, ternyata tidak ampuh menarik minat pembeli.

Ahmad terpaksa menjual rumah walet miliknya karena produksi sarang terus menurun sejak 2 tahun silam. Bila sebelumnya dari rumah walet dua lantai itu ia bisa memanen 4 kg per bulan, kini dalam 3 bulan hanya menghasilkan 2,5 kg. Produktivitas anjlok itu diperparah dengan harga jual sarang yang menukik tajam sejak Agustus 2011. “Saat ini (mengelola rumah walet, red) sudah tidak ekonomis lagi,” ujarnya.

Kalimantan

Menurut peternak dan konsultan walet di Mojokerto, Jawa Timur, Senliyanto, populasi walet di Gresik kini memang merosot tajam. “Penyebabnya polusi udara dari pabrik-pabrik,” ujarnya. Efek gas hidrogen sulfida (H2S) yang keluar bersamaan dengan meluapnya lumpur panas di Sidoarjo turut andil dalam mengurangi jumlah populasi walet. Senliyanto menuturkan, efek buruk polusi lingkungan terhadap mikrohabitat dan ketersediaan pakan juga melanda sentra walet lain di Jawa Timur seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang.

Peternak sejak 1993 itu menduga kondisi itu menyebabkan walet asal Jawa hijrah ke Kalimantan. Kondisi itu menjadi berkah bagi para peternak walet di Pulau Borneo. Berdasar pengamatannya, cukup membangun gedung dan memasang tweeter, dalam  6  bulan  pemilik  rumah walet di Borneo sudah bisa panen berkilo-kilo sarang walet.

Bandingkan dengan pengalaman Senliyanto saat memulai beternak walet pada 1993. Untuk mendatangkan walet, mantan peternak ayam broiler itu mesti “memancing” walet dengan seriti. Ia membeli ratusan anakan burung seriti yang belum berbulu lengkap. Saat itu harga sepasang anakan seriti hanya Rp2.000, lengkap dengan sarangnya.

Senliyanto lantas menempelkan sarang-sarang itu pada lagur rumah walet. Kemudian anak-anak seriti diberi pakan khusus selama sebulan penuh dari pukul 06.00 sampai pukul 19.00. Setahun berselang saat seriti mulai dewasa, barulah seriti membuat sarang baru  hingga 40 sarang. Telur seriti lantas ia ganti dengan telur walet. Setahun berikutnya, rumah walet itu menghasilkan sarang semi. Artinya, sarang seriti yang bercampur liur walet.

Menurut Hary K Nugroho MBA, konsultan walet di Jakarta, tingkat polusi di sebagian besar wilayah Kalimantan yang masih rendah dan pakan alami yang melimpah menjadi daya tarik walet untuk menetap dan berkembang biak. Populasi walet yang tinggi membuat para peternak lebih mudah mengundang walet ke dalam rumah. “Sarang yang dihasilkan pun lebih bersih,” ujarnya.

Euforia

Berbagai keunggulan lokasi itulah yang mengundang euforia para investor beramai-ramai membangun rumah walet di Kalimantan. Tengok saja beberapa wilayah di tepi sungai besar seperti Barito dan Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Sejak 5 tahun terakhir pengusaha walet di kawasan itu bak cendawan di musim hujan (baca Seri Walet (179): Rezeki di Jantung Borneo, Trubus edisi Februari 2012).

Menurut ahli walet di Jakarta, Boedi Mranata, para investor sebaiknya jangan hanya mempertimbangkan pertumbuhan gedung walet di sebuah sentra sebagai alasan untuk berinvestasi. “Di Indonesia budaya latah memang sulit dihilangkan. Bila di suatu sentra beramai-ramai membangun rumah walet, maka investor lain pun berbondong-bondong ikut membangun,” katanya. Fenomena itu memang wajar terjadi. Ibarat pepatah, ada gula, ada semut.

Namun, bila pertumbuhan rumah walet begitu cepat tanpa diimbangi penambahan populasi walet, “Para peternak malah rebutan burung,” ujar Boedi. Hal itu seringkali terjadi di beberapa sentra. Para peternak beradu teknologi audio pemancing walet. “Sementara upaya meningkatkan populasi walet seringkali diabaikan para peternak,” ujar Senliyanto. Menurut pengamatannya, itulah yang kini terjadi di beberapa sentra di Pulau Borneo. Karena beranggapan populasi walet masih melimpah, para peternak belum giat menetaskan si burung dolar. “Bila hal itu diabaikan, maka walet akan makin tua dan habis dalam 10 tahun mendatang karena tak ada regenerasi,” ujarnya.

Boedi menuturkan rencana pembangun-an di suatu kawasan sentra juga mesti diperhitungkan. Banyak contoh sentra yang produksinya merosot akibat perubahan lingkungan seiring laju pembangunan di kawasan tersebut. Lihat saja kawasan Metro di Provinsi Lampung. Kini di sentra walet Bumi Ruwa Jurai itu hanya tersisa cericit dari pengeras suara yang melantunkan nyanyian pengundang walet. Sementara yang diundang tak kunjung datang.

Perkembangan kota Metro yang begitu pesat-ditandai pertumbuhan bangunan dan pemukiman-membuat habitat serangga pakan turut berubah. Akibatnya, serangga pakan berkurang sehingga walet kesulitan mencari pakan. Harap mafhum, pakan walet di tanahair masih mengandalkan kemurahan alam. Menurut Boedi, bila populasi walet di suatu sentra mencapai 300.000 burung, maka kebutuhan pakan ditaksir 1,5 ton/hari. Bila tidak terpenuhi, walet bermigrasi ke wilayah lain yang memiliki sumber pakan melimpah. Berdasar pengamatan Boedi umur sebuah sentra antara 7-10 tahun. “Jadi, tak ada sentra yang abadi,” ujar Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia itu. (Imam Wiguna)

 

Keterangan Foto :

  1. Di beberapa sentra populasi walet menurun akibat perubahan lingkungan
  2. Pembangunan kota yang pesat dan kawasan industri dapat mengganggu populasi serangga pakan
  3. Lahan yang subur di sekitar rumah walet menjadi sumber pakan walet
  4. Meski populasi walet masih melimpah, upaya menetaskan walet tetap harus dilakukan untuk menjaga populasi walet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img