Thursday, December 8, 2022

Seri Walet (183) Siasat di Tanah Labil

Rekomendasi

“Resepnya tidak mempan,” keluh Darwis Sentosa, pengusaha walet di Sampit, Kalimantan Tengah. Mendirikan rumah walet di atas lahan gambut yang labil, Darwis menuai beragam kendala.

 

Darwis berulang-ulang melakukan aktivitas ini. Ia mengelap dan menyikat papan sirip di langit-langit lalu menyemprotkan alkohol untuk mengusir cendawan yang menempel di kayu itu. Kehadiran cendawan membuat permukaan kayu licin sehingga walet sulit bertengger. Belum lagi bau kayu bercendawan tidak disukai burung penghasil liur emas itu. Walet pun enggan bersarang. Lagi pula daya tahan papan menjadi berkurang. Kayu bercendawan paling banter bertahan 5 tahun, seharusnya bisa hingga belasan tahun.

Sehabis menerapkan resep itu, cendawan memang pergi. Namun, dalam hitungan hari cendawan kembali datang. Biang keladi kehadiran tumbuhan mikro penyebab busuk itu karena kayu sirip lembap akibat terkena rembesan air dari kolam di lantai atas yang bocor. Lokasi di tanah gambut yang labil membuat bangunan walet kurang ajek.

Pengaruh gempa

Keluhan serupa dialami Muhammad Amin, pengusaha walet di Padang, Sumatera Barat. Pascagempa besar yang menyebabkan gelombang tsunami-terutama di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam-pada 2004, Pulau Sumatera kerap dilanda gempa. Tercatat sejak itu terjadi 5 kali gempa besar di atas 6 skala Richter (SR). Sementara gempa kecil tak terhitung jumlahnya. Guncangan itu menyebabkan tanah menjadi labil. “Akibatnya struktur bangunan jadi tidak stabil sehingga kolam yang dibuat di dak rumah walet bocor,” kata Amin.

Kolam berisi air dibuat agar kondisi rumah walet lembap seperti diinginkan si liur emas. Idealnya kelembapan di dalam rumah walet 80-90%. Untuk itu peternak menghadirkan kolam di dasar setiap lantai bangunan walet.

Masalahnya, “Selama kebocoran tidak diatasi, cendawan tetap tumbuh meski papan sirip dibersihkan setiap hari,” tutur Harsanto, konsultan walet di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sayang, mengatasi kolam bocor bukan perkara mudah. “Saya sudah bongkar kolam 3 kali tetap saja merembes. Cat antiair pun sudah dipakai berlapis-lapis, tapi gagal terus,” keluh Amin. Menurut Harsanto, menjaga kelembapan rumah walet dengan kolam air kurang cocok di dipakai Kalimantan dan Sumatera yang tanahnya labil. Teknik itu hanya cocok diterapkan di Pulau Jawa yang tanahnya stabil.

Harsanto menyarankan peternak mengganti kolam beton dengan bak-bak plastik berisi air. Itu yang ia lakukan lima tahun silam saat kolam di rumah waletnya bocor. Alih-alih memperbaiki kolam ukuran 4 m x 4 m yang dapat memakan biaya Rp2-juta, Harsanto malah mengeringkan kolam. Ia lalu membeli baskom plastik volume 30 liter dan meletakkannya di rumah walet. Untuk setiap lantai berukuran 5 m x 20 m Harsanto meletakkan 30 baskom berisi air. “Hanya dengan Rp500.000 masalah kolam bocor dapat teratasi,” kata pemilik Jakarta Walet Centre di Banjarmasin itu.

Sulit Panen

Konsultan walet di Gresik, Jawa Timur, Achmad Fatich Marzuki, mengganti kehadiran kolam dengan menyediakan alat pengabut. Mesin pengabut diletakkan dekat void dan dioperasikan satu jam sekali selama 5 menit. Aplikasi itu membuat rumah walet lembap tanpa ada risiko kebocoran yang menyebabkan air rembes, membasahi kayu sirip di lantai bawah, dan mengundang kehadiran cendawan. Keunggulan lain, jika menggunakan mesin pengabut, peternak dapat mencampurkan air dengan aroma pemikat walet.

Menurut Haikal Muwaffaqin, konsultan walet di Lamongan, Jawa Timur, resep ala Harsanto itu memiliki keunggulan dibanding kolam air. Pasalnya, selama ini luasan kolam air beragam: mulai seukuran luas lantai atau hanya seukuran rumah monyet seluas 4 m x 4 m. “Biasanya posisi kolam tepat di bawah rumah monyet,” kata Haikal.

Ukuran kolam yang luas itu kerap menyulitkan saat panen sarang. “Dahulu pemanen harus nyemplung ke dalam kolam air sedalam 1 m sambil menggotong tangga. Itu berbahaya karena licin,” kata Haikal. Dengan baskom plastik pemanen sarang cukup mencari celah yang kosong atau mengeser baskom untuk menghindari air saat memasang tangga.

Albert Edison, pengusaha walet di Palembang, Sumatera Selatan, juga menuturkan kehadiran kolam di lantai rumah walet memiliki banyak kelemahan. Peluang anak walet-yang baru belajar terbang-jatuh ke air besar. Sayap menjadi basah sehingga anak walet tidak bisa terbang kembali. Risiko terburuk anakan mati. Dengan hanya meletakkan 30 baskom pada luasan 100 m2, risiko itu menjadi lebih kecil.

Aktivitas menguras air juga kerap kali merepotkan. “Bila ada anak burung walet atau tikus yang jatuh dan mati, bangkainya yang bau harus dibersihkan. Seluruh volume air perlu dikuras,” kata Albert. Jika itu terjadi pada peternak yang menggunakan baskom plastik, cukup diatasi dengan membuang air pada baskom yang terdapat bangkai.

Menurut Haikal, resep ala Harsanto itu mirip penggunaan gentong atau tempayan berisi air sebagai pengganti kolam. Sayang, ukuran tempayan terlampau besar-volume 50-100 liter-sehingga lagi-lagi peternak lebih repot ketika harus menguras. Sebab seiring waktu air dalam tempayan menjadi kotor dan bau oleh kotoran walet yang jatuh sehingga perlu diganti.

Bau muncul karena terbentuk gas amonia pada suasana anaerob (penguraian kotoran walet dalam kondisi tergenang). Gas amonia yang melebihi batas membuat sarang walet di atasnya menguning. “Dengan menghadirkan baskom berisi air, gas amonia berlebih dapat dicegah karena mengurasnya lebih gampang,” kata Harsanto. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

 

Plus Minus Penampung Air

Keterangan Foto :

  1. Penggunaan baskom plastik berisi air, lebih murah dan praktis
  2. Rumah walet di Sumatera berada di jalur gempa, sementara di Kalimantan berada di tanah yang labil sehingga struktur bangunan kurang stabil
  3. Air baskom yang kotor oleh kotoran walet gampang dibersihkan dengan mengganti air
  4. Kayu sirip yang lembap dan basah mengundang cendawan datang sehingga walet enggan membuat sarang
  5. Kehadiran kolam berisi air untuk menjaga kelembapan rumah walet kurang efektif diterapkan di lokasi rumah walet di tanah labil karena berisiko bocor
Previous articlePrima Berkat Nona
Next articleYang Muda Yang Juara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lengkap! Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen Hemat Tempat dan Air

Trubus.id — Peningkatan tren ikan hias diikuti dengan permintaan pakan tinggi. Cacing sutra menjadi salah satu pakan ikan hias...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img