Wednesday, August 17, 2022

Seri Walet (189): Calon Sentra Besar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Manado berpeluang menjadi sentra besar walet di Sulawesi.

Rumah-rumah walet kini lebih mudah dijumpai di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, ketimbang pada awal 2000. Berdiri di jembatan Miangas, Kelurahan Dendengan Dalam, Kecamatan Tikala, kita bisa melihat berjejer bangunan walet di bantaran Sungai Miangas. Dari sana sayup-sayup terdengar bunyi tweeter pemanggil walet.

Pemandangan serupa juga terlihat di beberapa jalan utama di kota Manarow-asal mula sebutan Manado yang berarti pergi ke negeri jauh-seperti di Jalan Sudirman dan Jalan Walanda Maramis. Di kedua ruas jalan itu, beberapa rumah toko dan hunian menjadi rumah walet. Suara pemanggil walet memang tak terdengar di kedua jalan itu karena jalan itu disesaki hotel-hotel berbintang dan toko-toko modern.

“Bila pakai speaker pemanggil walet bisa diprotes oleh banyak orang,” ujar Hengky, salah satu penjaga rumah walet di Jalan Walanda Maramis. Suara pemanggil walet memang terdengar keras bila menyala. Suara tweeter bisa terdengar hingga radius 200 m. Bila suara pemanggil itu hanya aktif selama 1-2 jam di luar jam-jam sibuk, mungkin tidak menimbulkan masalah.

Namun biasanya para pemilik rumah walet memasang tweeter selama 24 jam penuh sehingga mengganggu masyarakat. Kondisi itu yang Trubus saksikan ketika melihat rumah-rumah walet di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung. Di sana suara pemanggil sangat mengganggu kenyamanan pengunjung hotel yang lokasinya berdekatan dengan rumah walet.

Satu pintu

Praktikus walet di Jakarta Utara, Harry K Nugroho, menuturkan sepuluh tahun lalu jumlah rumah walet di Bumi Nyiur Melambai itu, bahkan di seluruh Provinsi Sulawesi Utara, dapat dihitung dengan jari. Lokasinya pun terbatas di pinggir pantai dan pulau-pulau di dekat gua. Menurut Harry, sriti mendominasi rumah itu. “Dominasinya bukan walet, tapi sriti,” kata pemilik Eka Walet Center itu.

Sriti-sriti itu keluar-masuk puluhan rumah penduduk setempat. Pemilik rumah kemudian secara bertahap kemudian mengubah hunian yang dimasuki walet itu menjadi bangunan walet. Itu pula yang tampak di Desa Tateli, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, sekitar 45 menit berkendaraan dari Kota Manado. “Banyak rumah penduduk yang dibeli untuk diubah menjadi rumah walet,” ujar Benny, warga di Desa Tateli.

Trubus yang menyusuri ruas jalan Malalayang hingga Tateli menjumpai beberapa bangunan walet. Tidak seperti di Pulau Jawa, bangunan walet di sana paling tinggi terdiri atas tiga lantai. Dari 6 rumah yang dijumpai, 2 di antaranya hanya terdiri atas dua lantai. Posisi rumah-rumah walet itu agak menjorok ke dalam, sekitar 25 m dari tepi jalan.

Bangunan-bangunan itu hanya memiliki satu pintu masuk berukuran 200 cm x 30 cm. Cukup panjang mengingat rumah walet di Jawa dan Sumatera, rata-rata memakai ukuran lubang masuk 90 cm x 30 cm. Panjangnya lubang masuk itu karena rumah-rumah walet itu dikurung oleh semak tinggi dan pohon kelapa yang menyulitkan walet masuk. Banyak walet keluar-masuk bangunan walet melalui celah antarpohon.

Bila lubang masuk berukuran kecil, justru memaksa walet untuk terbang berbelok. “Jadi ciptakan akses yang nyaman bagi walet supaya tidak minggat,” ujar Harry K Nugroho. Sementara teknologi untuk mengundang walet di Manado relatif sama dengan di Jawa dan Sumatera. Setiap bangunan dilengkapi dengan tweeter pemanggil walet. Jumlahnya tidak banyak, rata-rata setiap rumah walet memiliki 2 tweeter.

Kondisi itu memungkinkan karena makrohabitat walet di Manado dan Tateli cukup bagus. Hutan masih tersedia dengan vegetasi bagus sehingga populasi serangga sebagai pakan walet pun melimpah. Dengan kondisi seperti itu, maka jumlah panen sarang cukup baik. Menurut Hengky, rumah walet berumur 2 tahun sudah bisa memproduksi sekitar 125-250 keping sarang setara 1-2 kg.

Sedikitnya pemakaian cakram padat pemanggil walet juga bisa mengindikasikan kondisi walet sebenarnya. Artinya secara keseluruhan populasi walet di Tateli terbilang banyak. Bila sampai terjadi perang suara pemanggil itu menunjukkan, “Bukan walet yang mencari rumah, tetapi rumah yang mencari walet,” ujar Harry K Nugroho.

Tukar telur 50%

Menurut John Tasirin PhD, ahli ekologi dari Jurusan Kehutanan Universitas Sam Ratulangi, populasi walet di Sulawesi Utara, banyak terdapat di Manado, Tanawangko, dan sepanjang ruas Jalan Kalasey hingga Tombariri, Kabupaten Minahasa. Sentra lain terdapat di daerah Ranowangko dan Rerer, Kecamatan Tondano, Kabupaten Minahasa. “Di Pulau Mahoro masih bisa dijumpai walet gua,” ujar John. Pulau Mahoro di Kabupaten Kepulauan Sitaro merupakan pulau kecil yang menjadi objek wisata bahari terkenal di Sulawesi Utara.

Pulau-pulau lain yang juga dihuni walet adalah Pulau Sangihe, Pulau Kalama, dan Pulau Siau. Kondisi lingkungan di sentra-sentra itu mirip di Tateli yang didominasi pohon kelapa. Namun, lantaran banyak “peternak” terpaku pada walet gua sehingga pengembangan bangunan walet tersendat. Total jenderal di Pulau Sangihe, Kalama, dan Siau terdapat sekitar 50 rumah walet. “Para pengusaha sulit mengawasi rumah walet apabila membangun di sana,” ujar Harry.

Harry mengatakan bahwa agroklimat di Sulawesi Utara cocok untuk perkembangan walet. Suhu rata-rata berkisar 28-30oC dan kelembapan 80-90%. Curah hujan pun tinggi, rata-rata 2.000-2.500 mm/tahun dengan panjang bulan basah 11 bulan. Soal pakan, peternak walet di Sulawesi Utara sejauh ini tak perlu khawatir karena banyak daerah dikelilingi perkebunan kelapa, dan hutan.

Menurut Harry yang ikut menunjang Manado menjadi sentra walet adalah tingginya keberhasilan putar telur, yakni mencapai 50%. Padahal di Jawa dan Sumatera berkisar 20%. Putar telur merupakan teknologi untuk meningkatkan populasi walet di sebuah rumah, mengganti sebagian telur sriti dengan telur walet. Dengan persentase putar telur itu, bila 1.000 telur sriti ditukar dengan telur walet, bisa diperoleh 500 walet. Produksi sarang walet berpeluang meningkat (Dian Adijaya Susanto).

Keterangan Foto :

  1. Rumah walet di bantaran Sungai Miangas terdiri atas dua lantai
  2. Rumah walet di Desa Tateli
  3. Rumah walet di Jalan Walanda Maramis, tak memperdengarkan tweeter
  4. Tingkat keberhasilan putar telur mencapai 50%
  5. Makro habitat di Desa Tateli masih bagus sehingga ketersediaan serangga melimpah
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img