Saturday, August 13, 2022

Seri Walet (99) Aro Pemicu Populasi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Selidik punya selidik, di setiap lantai, Alang, sang pemilik rumah, menernakkan aro. Serangga sejenis drosophila itu dimanfaatkan sebagai sumber pakan walet. Karena pakan tambahan itu pula produksi sarang terus meningkat.

Awal Agustus 2005 selepas shalat jumat. Trubus terjun ke lapangan untuk meyakinkan keberhasilan Alang memproduksi pakan alami walet. Ketika mobil yang dikendarai sampai di Desa Margamulya, Kecamatan Sukamandi, Kabupaten Subang, jam di tangan menunjukkan pukul 13.18. Langit cerah. Udara di sekitar daerah penghasil padi itu pun terasa sangat panas. Namun, “Coba lihat! Di siang bolong walet dan seriti masih berputar-putar di roving area,” kata Alang sambil mengarahkan telunjuk ke arah lubang keluar masuk walet.

Padahal, lazimnya walet baru pulang kandang di atas pukul 16.00. Bahkan pada musim kemarau lebih malam lagi karena daerah perburuan pakan semakin jauh. Kecuali induk yang tengah meloloh anak-anaknya tetap bertahan mencari pakan di sekitar rumah walet. Memasuki musim kemarau serangga tidak optimal berkembangbiak dan yang ada pun berlindung di bawah dedaunan. Akibatnya kesediaan pakan terbatas, sehingga produksi sarang menurun drastis.

Naik 20%

Berkaca pada hukum alam itulah Alang mencoba beternak aro, sebutan di Sukamandi. “Saya tak tahu pasti nama ilmiahnya, tapi aro sangat disukai walet,” ucap pensiunan tenaga pelaksana penelitian hama di Balai Penelitian Tanaman Pangan, Sukamandi, itu. Aro kerap ditemukan di kamar-kamar mandi, menempel di dinding tembok yang lembap. Bentuknya mirip kutu buah tapi agak besar, warna cokelat, dan dilengkapi sepasang sayap.

Alang menernakan aro di bak-bak semen berukuran 70 cm x 100 cm sedalam 7 cm. Setiap lantai penuh dengan bak-bak itu. Dari sana ribuan hingga jutaan aro bermunculan. Sebagian ada yang menempel di dinding tembok, sebagian lagi terbang menuju roving room terpancing sinar. Pada saat itulah walet yang tengah berputar-putar di roving room mendapat santapan lezat.

Trubus menyaksikan pesta makan itu berlangsung tanpa henti. Semakin lama banyak walet yang ikut bergabung. “Kalau ketersediaan pakan cukup, saya yakin walet tak pergi jauh dari rumah. Hanya saja saya belum menghitung jumlah aro yang dihasilkan dari setiap bak,” kata Alang. Namun yang jelas, aro efektif lantaran hampir tak seekor pun lolos dari sergapan walet. Aro jinak dan terbangnya lamban, sehingga sebelum kabur ke luar gedung pasti dimangsa walet lebih dulu.

Buktinya, produksi sarang pada pemetikan musim kemarau naik sampai 20%. Menururt pria kelahiran Ciamis 1952 itu peningkatan ini sungguh luar biasa, mengingat fasilitas gedung sangat terbatas, tidak seperti rumah-rumah walet bintang lima. Jika dilihat dari kondisi iklim mikro pun rumah walet Alang tidak memenuhi syarat ideal. Misalnya suhu ruangan 28—30oC, seharusnya 26—28oC. Demikian kelembapan yang seyogyanya 85—95%, maksimal cuma dapat 80%.

Gampang berbiak

Alang menduga walet-walet tetangga yang kebandang andil besar menggelembungkan pundi-pundi keluarga. “Saya perhatikan peningkatan produksi karena penambahan jumlah sarang, bukan penambahan bobot dari tiap-tiap sarang. Indikasinya, saat dipanen banyak sekali sarang-sarang kecil berukuran 2—3 jari,” tutur muslim yang getol beribadah itu.

Oleh karena itu Alang berpendapat alangkah baiknya ternak aro dilakukan di rumah baru agar cepat dihuni walet. Itu sesuai tujuan awal Alang beternak aro. Pada 2—3 tahun lalu rumah waletnya yang dibangun pada 1994 hanya dihuni beberapa pasang seriti. Padahal, berbagai teknik memancing walet sudah diterapkan. Misalnya memasukkan buah-buahan dan biji-bijian ke dalam ruangan. Namun, usahanya tetap tidak berhasil, meski pernah juga dilakukan putar telur. Dari 50 pasang telur seriti yang diganti telur walet, hanya diperoleh 4 pasang walet.

Pria yang pensiun muda pada 2003 itu menemukan teknik menernakkan aro secara kebetulan. Awalnya ia menaburkan pupuk kandang dari kotoran ayam ke kolam di dalam rumah walet. Beberapa minggu kemudian yang keluar nyamuk. Lantaran khawatir nyamuk menularkan penyakit, Alang membuang sebagian air hingga kondisi media macak-macak seperti bubur. Usahanya berhasil. Jentik nyamuk hilang, tapi kemudian muncul aro yang disukai walet. Sejak itulah ayah 3 putera itu mengisolasi beberapa pasang aro dan menernakkannya secara intensif.

Berdasarkan pengalaman Alang, aro cepat sekali berkembang biak. “Untuk menernakannya tak perlu dimulai dari indukan. Langsung saja ambil larvanya, lalu masukkan ke dalam media. Tak sampai 2 bulan larva sudah beranak-pinak,” tuturnya. Alang kini menggunakan media kotoran walet agar aroma khas rumah walet lebih kuat. Perawatannya sebatas memberi pakan dan pertahankan media tetap macak-macak, tidak sampai kering. Pakan berupa pelet ikan, diberikan seminggu sekali atau sehabisnya, sebanyak 1 genggam per bak.

Yang tak kalah penting aro perlu dilindungi dari pemangsa seperti cecak, kecoa, dan semut. Cecak dan kecoa menyergap saat aro menempel di dinding tembok. Sedangkan semut mengerubuti larva yang siap terbang. Cara mengatasinya oleskan oli di bagian atas dan bawah dinding. Semut tak akan berani masuk kolam jika di pinggar kolam tergenang air. Jadi, di kolam bentuklah media seperti punggung kurakura, melembung di tengah. (Karjono)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img