Wednesday, August 10, 2022

Seribu Mata Seribu Rupa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Selai buah pertama kali diperkenalkan di Eropa pada abad ke-15. Waktu itu selai berbentuk pasta jadi inovasi luar biasa. Enam abad pascaselai buah datang ke Eropa – tepatnya pertengahan 2007 – B2PTTG LIPI, Subang, memperkenalkan selai berbentuk baru: lembaran, bukan pasta.

Selai nanas berbentuk lembaran itu berawal dari ide brilian Vera Susanti. Untuk memperoleh gelar sarjana di Universitas Sahid, ia membuat kreasi berupa selai nanas lembaran. Hasil temuan itu lantas dipatenkan dengan menggandeng LIPI. Dengan penyempurnaan komposisi didukung teknologi tepat, jadilah selai nanas lembaran yang praktis dikonsumsi.

Setiap lembarnya berukuran 8,5 cm x 8,5 cm. Teksturnya mirip agar-agar sehingga tidak lengket di tangan. Rasanya tak kalah enak ketimbang selai berbentuk pasta biasa. Bila hendak dikonsumsi, tidak perlu sendok atau pisau untuk mengoles. Tinggal membuka kemasan plastik, lalu selai lembaran itu ditangkup dengan 2 lembar roti.

Bersalin rupa

Proses pembuatan selai nanas lembaran mirip dengan pembuatan selai biasa. Selai biasa dibuat dengan mencampur sari buah nanas dan gula. Lalu dipanaskan sampai pekat hingga menjadi selai oles berbentuk pasta.

Dengan penambahan agar-agar dan pektin sebagai pengikat, selai oles pun bersalin rupa menjadi selai lembaran. Supaya terlihat apik dan higinis, selai itu dibungkus plastik yang direkatkan dengan plastic sealer. Dengan benzoat sebagai pengawet yang aman dikonsumsi, selai lembaran tahan simpan hingga 6 bulan.

Tangan dingin peneliti B2PTTG pun menghasilkan olahan lain. Sebut saja dodol, pure, saus, keripik, dan kerupuk nanas. Olahan yang disebut terakhir terbilang unik. Maklum lazimnya kerupuk dibuat dari tepung dengan citarasa ikan, udang, atau bawang. B2PTTG LIPI membuat kerupuk bercitarasa buah Ananas comosus. Hasilnya, kerupuk berwarna kuning dengan sensasi rasa gurih sedikit manis dan asam.

Di Thailand

Sementara saus nanas mirip dengan saus cabai atau saus tomat. Saus yang tergolong thick sauce atau saus kental itu berbahan nanas, gula pasir, garam, bahan pengemulsi, rempah-rempah, dan asam cuka. Kreasi itu benar-benar berbeda dengan kebiasaan suku Indian di Amerika Selatan – negara asal nanas – yang menikmati buah segarnya saja.

Beragam olahan itu mengingatkan pada kebiasaan masyarakat Thailand yang sudah akrab dengan olahan buah. Di negeri Siam, nanas diolah menjadi manisan dan keripik. Trubus juga sempat mencicipi menu nasi goreng yang disajikan di atas buah nanas.

Buah anggota famili Bromeliaceae itu pun kerap jadi pemberi rasa asam pada menu ikan atau daging. Seperti yang dicicip Trubus di Yogyakarta. Olahan lobster memakai nanas sebagai penambah citarasa. Uniknya, lobster itu disajikan di atas belahan buah nanas. Beragam olahan nanas terus berubah. Jika semula suku Indian hanya menikmati dalam bentuk segar, sekarang ragam olahan jadi alternatif untuk nikmati buah seribu mata itu. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img