Monday, August 8, 2022

Seribu Wajah Ketakung Botol

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dengan cepat, tokoh yang diperankan oleh Robert Patrik itu langsung bersalin rupa jadi si polisi. Berseragam lengkap, terminator yang dikirim dari masa depan itu memburu targetnya: John Connor, si pejuang penumpas para terminator.

Itulah sepenggal kisah dalam fi lm Terminator II: Judgement Day yang populer pada 1991. Demi memenuhi tugas melenyapkan John Connor dari muka bumi, T-1000 dilengkapi kemampuan untuk mengubah-ubah penampilan. Tak sekadar bersalin wujud jadi seseorang, terminator berwajah dingin itu bisa melebur menjadi satu dengan benda yang dilewatinya. T-1000 “meleleh” ke dalam liang lift dan bergerak mengikuti naik-turunnya kotak bergerak itu. Di lain waktu, tangannya dengan gampang berubah menjadi sebilah pedang yang tajam.

Dalam dunia kantong semar, Nepenthes ampullaria pantas disetarakan dengan T- 1000. Ketakung itu punya ciri bentuk kantong menyerupai ampul. Dalam bahasa Latin, itu berarti botol berbentuk labu. Lantaran bersosok seperti itu, Dr William Jack— dokter bedah asal Inggris yang pertama kali menemukan kantong beruk itu di Singapura— menyematkan nama N. ampullaria. Meski bentuk kantong nyaris seragam, varian ketakung botol labu itu terbilang paling banyak. Perbedaan itu terutama dari warna kantong dan bibir. Mulai dariyang berkantong hijau polos dengan bibir hijau polos sampai yang berkantong merah pekat dengan bibir merah. Trubus melihat N. ampullaria ‘light red peristome’ di kediaman Chanrit Sinhabaedya—kolektor di Bangkok. Jenis itu berkantong hijau dengan tepi bibir merah menyala.

“Ini aslinya dari Borneo,” kata pria yang akrab disapa Park itu. Kala melakukan eksplorasi ke Kalimantan, Trubus menemukan jenis-jenis N. ampullaria merah pekat. Di Bogor, ada kolektor yang memiliki ketakung botol labu berbercak 3 warna dengan bibir hijau dan merah.

Banyak nama

Selain punya keragaman luar biasa, penyebaran N. ampullaria paling luas. Periuk kera itu ditemukan di Th ailand, Semenanjung Malaysia, Singapura, Indonesia—Sumatera dan Borneo, dan  Papua Nugini. Di Malaysia, N. ampullaria ada di Bukit Laksamana—Pulau Penang; Perak; Malaka; Gunung Pulai, Gunung Belumut, dan Gunung Ophir di Johor; dan Pahang.

Sementara di Sumatera, tahul-tahul— nama di Sibolga—menyebar di sepanjang pantai timur seperti Asahan dan Pulau Bengkalis hingga pantai barat, misal Sibolga dan Padang. Penyebaran sampai ke selatan seperti Riau serta pulau-pulau di sekitar, seperti Pulau Karimun, Bintan, dan Lobam. Di Borneo, pasok kemelo—nama di sana— ada di hampir seluruh pulau.

Di masing-masing lokasi, N. ampullaria punya berbagai sebutan. Di Pahang dan Malaka disebut periuk kera atau karik-karik. Di Asahan dan Pulau Bengkalis namanya menjadi periuk monyet. Sementara di Payakumbuh disebut katidieng beruak, di Agam dan Bukittinggi; cerek-cerek. Nama kuran-kuran populer di Batusangkar dan Bonjol. Masyarakat di Riau, Pulau Karimun, dan Pulau Bintan menyebutnya akar manipojong. Di Pulau Bangka dinamakan ketakung betul.

Karpet hijau

Di habitat asal, N. ampullaria tumbuh menjalar di atas tanah. Kalau dilihat dari kejauhan, penampilannya mirip karpet hijau yang menghampar. Meski begitu ia bisa tumbuh memanjat hingga lebih dari 10 m. Namun, uniknya kantong atas hampir tidak pernah ditemukan. Ada teori, kantong atas terbentuk kalau tanaman stres karena tumbuh di atas tanah miskin hara. Dugaan lain, kantong atas muncul saat tanaman mencapai tinggi tertentu.

Pitcher plant itu tumbuh di hutan kerangas, rawa-rawa hutan tropis, dan hutan sekunder dataran rendah antara 0—2.100 m dpl. Meski merupakan anggota keluarga tanaman pemangsa serangga, N. ampullaria justru “pemakan” daun-daunan. “Ampullaria merupakan tanaman detrivora. Dia mengambil nutrisi dari serasah daun yang masuk kekantong,” kata Ir Agustina Listiawati, MP, penggemar nepenthes di Pontianak. Di Malaysia, dalam kantong yang berisi air kerap ditemukan lobster air tawar Geosesarma malayanum.

Ketakung botol labu itu lazimnya ditemukan berbarengan dengan kantong semar dataran rendah lain, seperti N. bicalcarata dan N. raffl esiana. Pantas bila di tempat itu kerap ditemukan silangan alami yang tak kalah menarik. Sebut saja N. hookeriana (silangan N. ampullaria dan N. raffl esiana), N. trichocarpa (N. ampullaria x N. gracilis), dan N. ampullaria x N. bicalcarata. Trubus menemukan N. hookeriana berbercak merah, hijau polos, dan hijau bercak merah.

Silangan alami lain, ialah N. ampullaria x N. mirabilis yang banyak ditemukan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat serta silangan dengan N. hirsuta dan N. albomarginata. Dengan ragam rupa kantong, luas daerah sebaran, dan jumlah silangan alami, pantas bila ketakung botol labu dijuluki nepenthes dengan seribu wajah. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img