Thursday, December 8, 2022

Sersan di Kandang Kambing

Rekomendasi

Dari Bandung, kuli bangunan itu menumpang truk ke Karawang, Jawa Barat. Di kota Lumbung Padi, ia menjadi kernet. Setelah 2 bulan bekerja, ia minta gaji untuk membeli baju. Saya hanya punya 2 baju. Kalau yang satu dipakai, satunya lagi dijemur, katanya. Namun, sang majikan menolak memberi hak lelaki muda itu. Oleh karena itu ia beralih profesi menjadi pembantu rumah tangga. Pekerjaan utamanya mengepel, memandikan anjing, dan belanja kebutuhan pokok di pasar.

Siapa duga 17 tahun kemudian Bangun Dioro-si lelaki muda yang dulu kuli bangunan itu-sukses beternak kambing di Cijeruk, Kabupaten Bogor. Luas lahannya 9 ha, 4 ha di antaranya sebagai padang rumput untuk memasok pakan. Ia mengelola lebih dari 300 kambing terdiri atas 150 peranakan ettawa (PE) dan masing-masing 50 ekor sanen, silangan boer, dan jawa randu. PE dan sanen kambing perah; boer dan jawa randu, pedaging. Dari jumlah itu ia memerah rata-rata 50 liter susu setiap hari.

Menurut peternak terbaik se-Jawa Barat itu susu PE lebih kental, gurih, dan manis. Sementara susu sanen, Ibarat sayuran kurang garam, katanya. Itulah sebabnya, konsumen lebih tertarik susu PE. Meski demikian ia menjual susu PE dan sanen dengan harga sama Rp15.000 per liter. Artinya, omzet Bangun dari penjualan susu kambing mencapai Rp750.000 sehari atau Rp22,5- juta per bulan. Dari sisi produksi, PE relatif rendah hanya 1,5 liter; sanen, 3 liter selama masa laktasi atau 4 bulan.

Oleh karena itu sejak 2002 Bangun mengawinsilangkan, pejantan PE dan betina sanen. Hasilnya menggembirakan: produksi susu rata-rata 2,5 liter selama laktasi dan rasanya gurih, manis, dan kental. Hasil silangan Bangun kini diminati banyak peternak. Namun, ia masih menahan dan terus memperbanyaknya. Jumlah silangan hasil tangan dingin Bangun itu mencapai puluhan ekor.

 

Meski punya 6 mobil, bangun Dioro lebih senang berangkat kerja naik keretaapi. Jika terpaksa naik mobil, ia tak pernah memarkir mobil di kantor, tapi di stasiun terdekat dari tempat kerja. Itu cermin betapa rendah hatinya dia.

Sersan kambing

Sukses Bangun Dioro tak diraih begitu saja. Ia mengawali beternak kambing sejak tinggal di barak tentara di daerah Ciluar, Kotamadya Bogor. Di sana ia mengelola 16 kambing. Pada 27 September 1997 ia pindah ke Cijeruk merawat 8 PE terdiri atas 7 betina dan 1 jantan. Saat itu susu kambing mulai diterima masyarakat. Soal kepindahannya itu, rekannya berujar, Untuk apa pindah dari mes. Di mes makan apa saja ada. Setahun kemudian ia kembali membeli 20 indukan PE hingga jumlah kambingnya beranak-pinak.

Pria kelahiran 4 Desember 1971 itu juga membina kelompok peternak di kampung halamannya, Desa Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Bahkan, pemberdayaan masyarakat meluas hingga sekecamatan. Pantas bila Gumelar kini dikenal sebagai sentra kambing berkualitas. Dari para plasma itulah ia menjual rata-rata 400 kambing per pekan. Menjelang Idul Adha seperti awal Desember 2006, volume penjualan melonjak hingga 700 ekor. Belum lagi penjualan sapi yang mencapai 25 ekor mempergemuk rekening pria ramah itu.

Harga jual seekor kambing boer minimal Rp1-juta. Bila ia mengutip 20% sebagai laba, setidaknya pendapatannya mencapai Rp80- juta dari pemasaran 400 kambing per pekan. Ia memasarkan beragam kambing ke berbagai daerah di Indonesia seperti Lampung yang hingga kini menyerap 8.000 ekor dan Tangerang 2.000 ekor.

Sukses beternak kambing menyebabkan rekan-rekannya di kantor Markas Besar Angkatan Darat menjuluki Bangun sebagai Serka. Sersan Kepala? Bukan! Namun, Sersan Kambing. Pangkatnya kini baru Sersan Satu. Bila tak ada aral, Serka yang sebenarnya-Sersan Kepala-akan diraihnya pada 2008.

Kuli panggul

Tentara yang menjadi kebanggaan Bangun itu sejatinya bukan cita-citanya. Setelah menjadi kernet dan pembantu rumahtangga di Karawang, ia pindah ke Pondoklabu, Jakarta Selatan, sebagai pedagang ketoprak. Penganan khas Jakarta itu habis terjual pada pukul 10.00. Untuk mencari kegiatan lain, ia mendatangi preman di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Ia memang kerap ke pasar induk seluas 14 ha itu untuk belanja ketupat, taoge, dan bahan ketoprak lain. Di sana ia mengutarakan keinginannya menjadi kuli panggul dan diluluskan. Berbagai komoditas pertanian yang bobotnya hingga sekuintal dipanggulnya.

Pekerjaan ganda-tukang ketoprak sekaligus kuli panggul-dijalani selama 2 tahun. Suatu ketika ia melihat para tentara yang berlatih merayap di Resimen Induk Daerah Militer Jaya Raya (Rindam Jaya) di Condet, Jakarta Timur. Hatinya berdesir. Dengan takut, ia mendatangi pos jaga dan bertanya bagaimana prosedur menjadi tentara. Maka pada 1993 mulailah alumnus SMA Diponegoro Ajibarang, Banyumas, itu mengenakan pakaian loreng. Di lembaga itulah ia ditempa untuk tak gampang menyerah.

Saya banyak belajar dari ilmu tentara. Tentara itu disiplin segala sesuatunya diatur, ujar anak ke-7 dari 8 bersaudara itu. Ilmu tentara yang menonjol antara lain disiplin. Oleh karena itu ketika malam ia mendengar lengkingan tinggi-tanda betina berahi-keesokan paginya ia mengecek: di mana kambing itu? Hari itu juga ia harus mengawinkan mereka.

Jika tidak, artinya saya harus menunggu 21 hari lagi. Sebab, masa subur kambing betina setiap 21 hari. Bila itu terjadi, saya menunggu 5 bulan lagi untuk memerah susu, kata pria yang masih kuat mengangkat barbel 25 kg seratus kali. Kambing bunting selama 4 bulan. Ia juga menerapkan disiplin ketika cempe-anak kambing-itu lahir. Begitu muncul, ia segera memisahkan cempe sebelum induk menjilati bulu anaknya. Dengan begitu antara induk dan cempe belum ada ikatan batin sehingga keduanya tidak stres.

Kedisplinan itu juga diterapkan kepada para kambingnya. Lihatlah setiap pukul 07.00 dan 16.00 begitu pintu kandang dibuka, satwa yang menjadi simbol kota Guangzhou, Cina, itu antre. Mereka berbaris rapi di sebuah lorong yang didesain khusus oleh Bangun. Lorong itu sepanjang 25 m. Lebarnya hanya memuat seekor. Ketika kambing paling depan diperah, lainnya menunggu giliran. Diam. Selesai perah, kambing kembali ke kandang dan baris di belakangnya maju. Begitu seterusnya. Sangat tertib laiknya tentara.

Pantas kandang kambingnya bersih karena secara teratur dibersihkan. Tak ada bau apak atau prengus khas kambing sama sekali. Suami Lia Yuliawati itu tak canggung-canggung membersihkan kotoran, memerah susu, atau merawat cempe. Jika sewaktu-waktu diperlukan, tentulah ia berujar tegas, ‘Siap! Laksanakan!’ (Sardi Duryatmo)

 

Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Hery Cahyana pernah menghubungi Bangun Dioro lewat telepon dengan memanggil, ‘Ngun’. Bangun sangsi dan berujar, ‘Wakasad apa jam segini kok kelayapan’. Dalam tradisi militer, pemanggilan nama hanya berlaku untuk teman seangkatan. Setelah telepon dimatikan dan ajudan jenderal menelepon Bangun, jadilah peternak kambing yang tentara itu ketakutan. Ia segera minta maaf. Hery Cahyana bertelepon hanya ingin bertanya soal ternak kambing.

Daun Penjemput Maut

Bedug magrib baru terdengar. Bangun Dioro, peternak di Cijeruk, Bogor, menyuapkan sesendok kolak untuk berbuka puasa. Lalu, tiba-tiba ia mendengar kambing-kambingnya merintih. Ia meletakkan mangkuk dan berlari ke kandang. Benar saja, ratusan kambing menungging karena keracunan daun singkong. Ia mengambil suntikan dan dengan gerak cepat mendatangi setiap kandang untuk menyuntikkan zat antiracun dari Jerman.

Petang itu 30 kambing tak terselamatkan karena sianida dalam daun singkong. Seorang karyawan yang baru bekerja 2 hari memberikan daun segar. Padahal, semestinya daun dilayukan sebelum diberikan. Pada 2004, nyawa 16 kambingnya juga melayang akibat pergantian musim. Peranakan Ettawa (PE) memang rentan pada setiap pergantian musim. Pneumonia dan skabies beberapa ancaman pada musim itu. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img