Wednesday, August 17, 2022

Si Polong Besar Biosoy

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Polong kedelai biosoy 2 tampak lebat dan berukuran besar. (Dok. Dr. Asadi, MS)

Kedelai baru biosoy berpolong besar, genjah, dan tahan penyakit.

Trubus — Bobot 100 biji kedelai rata-rata 15—16 gram. Dr. Asadi, M.S. merakit kedelai baru yang berbobot 22,3 gram per 100 biji. Namanya kedelai biosoy 1 dan biosoy 2. Peneliti di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) itu mengatakan, kedelai dikatakan unggul ketika bobot per 100 biji polong di atas 15 gram. Doktor Pemuliaan Tanaman alumnus Universitas Gadjah Mada itu mengembangkan biosoy hingga 10 tahun.

Potensi hasil tertinggi biosoy 1 hingga 3,3 ton per hektare dan biosoy 2 mencapai 3,55 ton per hektare. Itu hasil uji multilokasi di beberapa sentra di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Hasil panen rata-rata menunjukkan produksi biosoy lebih besar 16—19% dibandingkan dengan varietas yang biasa ditanam. Produktivitasnya pun tinggi yakni 2,7 ton per hektare.

Batang kuat

Kokoh dan tahan serangan hama dan penyakit.

Menurut Asadi biosoy juga tahan terhadap penyakit karat daun akibat cendawan Phakopsora pachyrhizi. Cendawan itu salah satu penyebab penyakit utama pada tanaman kedelai. Gejala serangan berupa bercak cokelat kemerahan mirip karat di bagian bawah daun. Akibat serangan karat daun kerugian mencapai 70%. Tinggi tanaman dewasa mencapai 60 cm, batang besar dan kokoh.

Tanaman juga lebih toleran terhadap rebah. Penyakit rebah semai atau layu pada kedelai akibat serangan cendawan Sclerotium rolfsii. Pria kelahiran 8 Agustus 1956 itu juga mengatakan, biosoy agak tahan terhadap hama pengisap polong Riptortus linearis yang biasa menyerang ketika proses pengisian polong tengah berlangsung. Harno membuktikan kelebihan kedelai varietas baru itu.

Petani di Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, itu menanam biosoy 1 pada Maret 2019 di lahan 1.600 m2. Harno mengatakan, selama menanam biosoy 1 perbedaan yang paling signifikan adalah hasil panen dan ketahanannya terhadap penyakit. “Biosoy ini bisa dibilang rajanya kedelai. Selama ini nanam kedelai belum pernah ada yang sebesar ini bijinya,” kata Ketua Kelompok Tani Ngudi Rahayu 2 itu.

Penanaman kedelai biosoy 1 di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. (Dok. Dr. Joko Triastono)

Pria 55 tahun itu mengatakan, meskipun umur tanaman biosoy lebih panjang 7—10 hari dibandingkan dengan varietas kedelai sebelumnya tidak masalah. Saat ini pria kelahiran 9 Agustus 1965 itu mulai memanen kedelai biosoy. Dalam satu petak lahan yakni 1.600 m², Harno menuai 500 kg polong kedelai. “Bila diperkirakan dari 1 hektare lahan bisa panen sekitar 3 ton,” kata Harno.

Harno menceritakan pengalamannya saat musim kemarau panjang pada 2019. Ia menuai 400 kg per petak pada kondisi ekstrem. Artinya biosoy mampu bertahan dari berbagai gangguan eksternal. Pria yang bermata pencarian sebagai petani itu berpendapat perawatan biosoy tergolong mudah, karena pada dasarnya tanaman sudah kuat dan sehat. Peneliti Madya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah (BPTP Jateng), Dr. Joko Triastono mengatakan, kendala dalam membudidayakan kedelai adalah curah hujan dengan intensitas tinggi.

Sinar gamma

Meski cuaca kering produksi kedelai biosoy 1tidak
terhambat.

Joko menuturkan, biosoy mampu bertahan dan tetap tumbuh dengan normal. “Cara menyiasati kendala itu paling membuat saluran drainase yang memadai. Dengan begitu kedelai biosoy dapat tumbuh lebih optimal,” kata pria kelahiran 31 Mei 1964 itu. Menurut Joko ketahanan biosoy terhadap hama dan penyakit sudah terbukti. “Pada musim tanam ini tidak didapati hama dan penyakit yang berarti,” kata doktor Ekonomi Pertanian alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Menurut Joko tingkat serangannya masih rendah sehingga tidak memengaruhi pertumbuhan hingga produktivitas tanaman. Periset berusia 64 tahun itu mengatakan, biosoy sangat berpotensi menggantikan peran kedelai impor yang saat ini lebih mendominasi khususnya dalam pengolahan tahu dan tempe. Badan Pusat Statistik mencatat impor kedelai Indonesia pada 2019 mencapai 1,3 juta ton dan senilai US$522,89 juta.

Asadi merakit varietas kedelai unggul dengan memanfaatkan tetua dari Jepang dan Tiongkok. Asadi mengatakan, pada generasi ke-8 hasil persilangan teradapat satu galur yang bagus penampilannya, yakni biji banyak dan besar, tetapi umur tanam panjang. Asadi berupaya memendekkan umur produksi dan potensi hasil tetap tinggi dengan radiasi sinar gamma. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img