Saturday, August 13, 2022

Si Renyah Jingga Diminta Pasar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Itu baru di 1 gerai. Di seputaran Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, minimarket itu punya 1.300 gerai dengan serapan serupa. Pantas Ian berteriak meminta pasokan. Setiap minggu Ian mendapat kiriman 5-8 ton kinanti-nama melon itu-dari distributor di Jawa Tengah. Padahal kebutuhan minimarket yang berkantor pusat di Ancol, Jakarta Utara, itu 16-18 ton per minggu. Itu untuk menjamin semua gerai bisa memajang kinanti setiap hari.

Menurut Ian melon kinanti masuk ke minimarket yang dikelolanya sejak awal 2008. Ketika itu pasokan baru 1-2 ton per minggu sehingga hanya 200 gerai yang bisa terisi. Baru pada April 2009 pasokan meningkat menjadi 5-8 ton per minggu. ‘Kini 1.300 gerai sudah bisa diisi kinanti, tapi hanya selama 4 hari,’ kata pria 29 tahun itu. Di minimarket itu dijual juga melon lain yang lebih murah: melon daging jingga dengan kulit berjaring dan melon daging putih dengan kulit berjaring.

Yang disebut pertama harga jual Rp9.200 per kg; yang ke-2, Rp8.200. Anehnya kinanti yang lebih mahal justru dicari. ‘Melon lain dengan volume pasokan sama bisa terpajang 4-6 hari,’ kata Ian. Menurut ayah 1 anak itu, kinanti lebih mahal karena tergolong melon eksklusif. Artinya, termasuk jenis baru dengan kualitas di atas melon lain. Kulit kinanti yang kuning mulus dan daging buah yang jingga menjadi daya tarik. Rasanya? Hmm, manisnya mencapai 14o briks. Ketika digigit terdengar bunyi kress.

Pasar kosong

Menurut Ian, permintaan 18 ton per minggu itu belum termasuk gerai di seluruh Pulau Jawa dan luar Jawa. ‘Total jenderal kami punya 2.500 gerai. Jadi sebetulnya kami butuh 40 ton per minggu,’ ujarnya.

Yang juga kekurangan pasokan kinanti ialah Toko Buah Rejeki. Selama setengah tahun sejak pertengahan 2008 toko buah di Jakarta itu memperoleh pasokan 400 kg kinanti per minggu. Sayang, pasokan tidak kontinu dan terhenti pada akhir 2008. ‘Kami sebetulnya punya 4 toko yang siap pasarkan 800 kg per minggu,’ kata Ella Rosy, bagian pemasaran Toko Buah Rejeki.

Pasokan kinanti yang minim diakui Rifi Nurlizsetyaningrum, manajer operasional Ibana-distributor buah di Semarang, Jawa Tengah. Anak perusahaan PT Cengkeh Zanzibar itu bermitra dengan 80 pekebun kinanti. Total luasan penanaman 40 ha yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan, pada 2009 Rifi memperluas penanaman sampai 3 kali lipat. Itu karena total permintaan yang harus dipenuhi sebesar 120 ton per minggu dari toko buah di Jabodetabek, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. Saat ini jumlah itu baru terpenuhi 30 ton.

Di Jakarta, JK Soetanto, bermain melon eksklusif sejak 2001. Ia menanam melon berjaring sangat rapat berdaging jingga asal Australia di lahan seluas 6 ha dengan sistem hidroponik di Cianjur, Jawa Barat. Setiap 10 hari 25 ton buah dikirim ke toko buah dan pasar swalayan kelas atas. Toh itu pun dalam setahun selalu ada 2 bulan kosong pasokan. Di Jakarta melon itu dibandrol Rp30.000 per kg.

Serapan pasar

Melon daging jingga sejatinya  sudah masuk pasar pada 1995-an. Pemasok ketika itu berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Volume pasokan 5-6 ton per minggu untuk mengisi 3 atau 4 pasar swalayan saja. Jadi masih jarang terlihat di pasar. Menurut Zoilus Sitepu, manajer sayur dan buah nasional Hypermart, Jakarta, porsi pasar melon berjaring daging jingga saat ini 30%. Pada 2000 kurang dari 10%. Toh secara umum pasar melon masih didominasi daging putih. ‘Pangsa pasarnya sampai 50%, sisanya 20%, melon-melon eksklusif,’ kata Zoilus.

Secara umum, menurut Zoilus semua melon jingga-kulit berjaring maupun tak berjaring-dicari pasar. ‘Dari 40 gerai Hypermart di seluruh Indonesia, setiap tokonya hanya mendapat pasokan 200 kg per minggu. Jika ada pasokan 2 kali lipatnya, pasar masih menyerap,’ tuturnya. Di Hypermart melon berjaring daging jingga dibandrol Rp10.900 per kg.

Pantas 25 pekebun di Desa Kecik, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, yang semula menanam melon daging putih beralih menanam si jingga sejak 2006. ‘Keuntungan lebih tinggi karena biaya produksi sama tapi harga jual lebih mahal,’ kata Suyoto, pekebun di Desa Kecik. Maklum pengepul berani membelinya seharga Rp3.500 per kg. Sedangkan melon daging putih hanya Rp2.000 per kg.

Nining Suhartati di Kajen, Pekalongan, Jawa Tengah, menanam 4.000 tanaman di lahan 3.000 m2. Dengan modal Rp16-juta, ia mendapatkan omzet Rp24-juta dalam waktu 70 hari. Kesuksesan Nining pun diikuti pekebun lain. Contohnya Muhammad Ajeng. Pada 2005, ada 80 pekebun dari 5 kecamatan tergabung dalam kelompok petani melon Asosiasi Tani Manunggal.

Lonjakan di hulu

Tingginya permintaan melon jingga juga membuat produsen benih bergairah. Saat ini di hulu beredar beragam varietas. Sebut saja glamour, MAI 119, MAI 116, elegan, fantasy, powerfull, dan munami. Menurut Mulyono Herlambang, direktur CV Multi Global Agrindo (MGA) produsen benih di Karanganyar, Jawa Tengah, penjualan benih varietas MAI 119 dan MAI 116 meningkat 10-20% tiap tahunnya.

Peningkatan penjualan benih juga dialami perodusen benih Tunas Agro Persada di Semarang. ‘Penjualan benih melon jingga varietas elegan dan fantasy meningkat 10% per tahun. Yang paling fenomenal benih kinanti meningkat 5 kali lipat,’ tutur Sucipto Legowo, direktur marketing Tunas Agro Persada.

Namun, mengembangkan melon-terutama berdaging jingga-bukan tanpa kendala. Pada 2006 serangan virus mosaik meluluhlantakkan puluhan hektar melon di Pekalongan. Di beberapa kecamatan di Sragen dan Pekalongan, banjir tahunan jadi batu sandungan. Musim tanam awal 2009 lalu Ajeng merugi Rp12-juta gara-gara banjir.

Risiko lain ialah pekebun mesti selalu mencari lahan baru supaya bisa kontinu menanam. Atau ancaman virus dan penyakit datang. Meski begitu, pekebun tak lantas urung membudidayakan si jingga. Iming-iming laba yang lebih tinggi jelas menggiurkan. Apalagi seperti kata Ian dan Zoilus pasar masih kekurangan pasokan. Peluang ekspor pun terbuka. Mulyono sempat mendapat permintaan dari Singapura, Malaysia, dan Jepang pada Mei 2009. Jadi melon jingga memang dicari. (Nesia Artdiyasa)

 

Ada Racun di Manisnya Melon

Peluang

1. Serapan pasar tinggi, permintaan baru terpenuhi 50%. Permintaan ekspor belum terpenuhi sama sekali.

2. Panen cepat 70 hari

3. Harga tinggi dan stabil, melon jingga Rp3.500—4.000/kg di tingkat petani, kinanti Rp5.000/kg, melon Australia Rp20.000/kg

4. Keuntungan tinggi sampai 100%

Kendala

1. Modal tinggi, Rp60-juta/ha

2. Sistem ladang berpindah karena tanah hanya bisa ditanami melon sekali setahun.

3. Serangan virus dan penyakit berisiko gagal panen 100%

4. Iklim tak menentu berisiko anjloknya kualitas

5. Tingginya curah hujan membuat melon tak manis

(Ilustrasi: Bahrudin)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img