Saturday, August 13, 2022

Siasat Perkokoh Benteng

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Terbebasnya Nindi dari flu setelah rutin mengkonsumsi ekstrak meniran sejak 2007. Menjelang tidur, ia menelan sebuah kapsul ekstrak meniran. Sebulan berselang, daya tahan tubuh perempuan 21 tahun itu mulai terdongkrak. ‘Flu dan batuk saya jarang kambuh,’ ujar Nindi. Meniran Phyllantus niruri memang terbukti menggenjot kekebalan tubuh. Dokter Zulkifli Amin PhD FCCP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menguji klinis meniran.

Hasilnya, meniran terbukti sebagai antituberkulosis. Bakteri tuberkulosis menyerang makrofag, salah satu sel imun alias sel kekebalan tubuh. Pemberian 50 mg kapsul meniran selama 3 kali sehari menyembuhkan pasien tuberkulosis pada pekan ke-6 atau lebih cepat 8 pekan ketimbang pasien yang tidak mengkonsumsi meniran.

Menurut Dr Suprapto Maat, periset dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, meniran meningkatkan proliferasi atau pertumbuhan limfosit T dan limfosit B. Selain itu tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu memacu sekresi Tumour Necrosis Factor Alpha (TNFα) dan interferon gamma. Limfosit T, limfosit B, dan interferon gamma merupakan elemen penting yang bertanggung jawab menjaga kekebalan tubuh.

10.000 kali

Ketika kekebalan meningkat, tubuh mampu melemahkan bibit-bibit penyakit. Menurut Suprapto salah satu fungsi sistem imun adalah pertahanan, menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit. Jika sel-sel imun diganggu, orang rentan sakit. Musuh sistem imun berupa radikal bebas yang banyak terdapat pada asap rokok, polutan, dan makanan berpengawet.

Radikal bebas merupakan senyawa-senyawa oksigen reaktif yang menyerang dan merusak lipida, protein, dan DNA. Radikal bebas memicu penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes mellitus, gangguan jantung, stroke, dan parkinson. Menurut Bruce Ames PhD, periset di University of California, Amerika Serikat, satu radikal bebas menyerang satu sel tubuh manusia sebanyak 10.000 kali setiap hari. Bombardir radikal bebas itu merusak dan memicu kematian sel-sel tubuh.

Oleh karena itu perlu ketahanan tubuh yang kuat demi menghadapi gempuran radikal bebas. Selain meniran, buah noni alias mengkudu juga ampuh menjaga kekebalan tubuh. Morinda citrifolia itu bersifat antioksidan. Hasil penelitian Abdul Rohman, dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, membuktikan sifat antioksidan mengkudu.

Ekstrak etil asetat mengkudu memiliki IC50 (Inhibition Concentration)-konsentrasi yang dapat menghambat 50% radikal bebas-sebesar 5,49 µg/ml. Artinya hanya dengan dosis 5,49 µg/ml ekstrak mengkudu mampu menghambat 50% radikal bebas. Aktivitas antioksidan itu lebih besar dibandingkan IC50 vitamin E yang hanya 8,27 µg/ml.

Bergabung

Sumber antioksidan bukan hanya meniran dan mengkudu. Masih ada echinacea yang kini juga banyak dikembangkan di Indonesia. Echinacea tanaman obat dari daratan Amerika Utara. Keampuhan meningkatkan daya tahan tubuh membuat ekstrak echinacea di Eropa banyak dijajakan di toko-toko obat sebagai obat flu. Maklum, di negara subtropis, flu kerap menyambangi bila musim dingin tiba.

Keampuhan echinacea mengatasi flu bukan sekadar isapan jempol. Alfred Vogel, herbalis di Swiss, bekerja sama dengan Institut Teknologi Federal Swiss, menguji praklinis echinacea. Tanaman itu mengandung senyawa alkilamid yang menetap dalam reseptor CB2 dari sel imun. Alkilamid membantu mengendalikan TNF?, aktivator sistem kekebalan tubuh. Senyawa lainnya: asam sikorat, polisakarida, glikoprotein, dan flavonoid. Senyawa-senyawa itu berperan menghambat peradangan, pertumbuhan bakteri, virus, dan cendawan.

Berkat kehebatan menjaga kebugaran tubuh, tak heran kalau meniran, mengkudu, dan echinacea dipilih menjadi bahan baku beragam minuman atau kapsul penjaga stamina. Bahkan kolaborasi ketiga tanaman itu dalam satu produk juga berefek positif. Itu dibuktikan oleh Arief Nurrochmad MSi MSc Apt, dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Campuran ketiga tanaman itu tokcer sebagai imunomodulator alias meningkatkan sistem pertahanan tubuh.

Gabungan ketiga tanaman itu meningkatkan proliferasi sel limfosit. Nilai EC50 (Effective Concentration)-konsentrasi efektif yang dapat memacu 50% proliferasi sel limfosit-sebesar 13,49 µµg/ml. Artinya dengan dosis 13,49 µµg/ml ekstrak mengkudu memacu 50% pertumbuhan sel limfosit.

Selain ketiga tanaman obat itu, masih ada lagi yang tak kalah hebat memperkuat benteng pertahanan tubuh yaitu kloro?l. Molekul pembentuk pigmen hijau pada tumbuhan, alga, dan bakteri itu penakluk radikal bebas. Klorofil memiliki elektron bebas dari atom nitrogen. Karena sifat itu, ‘Klorofil mencegah kanker lantaran berfungsi sebagai antioksidan,’ kata Leenawaty Limantara MSc PhD, peneliti klorofil dari Univeritas Ma Chung, Malang.

Klorofil ‘menyumbangkan’ elektron kepada radikal bebas. Dampaknya radikal itu tak akan mengambil elektron dari sel tubuh sehingga mengurangi risiko terserang kanker. Ketika kita mengkonsumsi sayuran hijau, kloro?l pun ikut serta. Di dalam tubuh, kloro?l dengan mudah masuk ke aliran darah.

Sebab, struktur molekul kloro?l, sama persis dengan hemoglobin. Bedanya inti atom molekul pada klorofil berupa magnesium; pada hemoglobin, besi. Bagaimana pun mencegah tetap lebih baik ketimbang mengobati. Memperkuat benteng kekebalan tubuh sebuah langkah bijak untuk menahan serangan beragam penyakit. (Ari Chaidir/Peliput: Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img