Thursday, December 8, 2022

Sidat (Siap) Naik Daun

Rekomendasi

 

Sidat-sidat berbobot 250 – 400 g per ekor itu selanjutnya akan diekspor ke Jepang dan beberapa negara Uni Eropa. Jepang, misalnya, membutuhkan sidat berukuran 250 – 300 g/ekor dalam jumlah banyak. ‘Permintaan mereka untuk sekali pengiriman sampai 25 ton,’ tutur I Made Suitha. Harga belinya mencapai Rp45.000 – Rp50.000/kg.

Demikian pula Eropa. Sejak berlakunya pelarangan penangkapan sidat Eropa Anguilla anguilla pada Maret 2009, importir di sana mulai melirik sidat dari tanahair. ‘Yang diminta sidat berukuran di atas 500 g per ekor,’ tambah Made. Permintaan bobot besar itu lantaran di Eropa sidat dikonsumsi dalam bentuk diasap.

Ini sebuah peluang. Apalagi budidaya sidat sebenarnya bukan barang baru di tanahair. Sejak 15 tahun lalu pembesaran sidat, terutama sidat eropa sudah pernah dilakukan di Bogor, Jawa Barat. Sayang, hasilnya jauh dari menggembirakan. ‘Setelah diteliti, penyebab kegagalan itu karena faktor suhu air,’ kata Made. Suhu air di Bogor sekitar 18 – 25oC. Padahal sidat eropa menyukai kondisi lingkungan hangat sekitar 26 – 30oC.

Suhu hangat

Anggota keluarga Anguillidae yang dibudidaya SKPTP kali ini bukan lagi sidat eropa melainkan jenis lokal. Bibit sidat alam itu diperoleh dari pengepul ikan dari Banten (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), dan Manado (Sulawesi Utara). Sidat dari Jawa, Anguilla bicolor, memiliki kepala besar dengan ujung membulat. Tubuhnya kecokelatan dan perutnya putih. Jenis dari Sulawesi, A. marmorata, sosoknya mirip bicolor. ‘Bibit yang disetor bobotnya bervariasi: 0,13 – 0,19 g/ekor (glass eel), 2 – 15 g/ekor (elver), dan 15 – 50 g/ekor (fingerling),’ kata Pepen Supendi, teknisi SKPTP.

Bibit-bibit itu lantas diadaptasi dalam bak pendederan berbahan fiber berukuran 5 m x 1,5 m x 1,5 m. Bak itu berisi air payau setinggi 80 cm dengan salinitas 5 – 7 ppm, pH netral (7), dan bebas polutan. Populasi sidat di bak maksimal 8 – 10 kg/m3. Bak juga diberi naungan guna membatasi masuknya sinar matahari. Ini penting karena sidat termasuk satwa nokturnal alias aktif di malam hari. Dengan meniru kondisi alamnya – diberi naungan agar berkesan temaram – aktivitas makan berlangsung terus-menerus dan terbebas dari stres.

Pada tahap pendederan oksigen terlarut tak boleh kurang dari 4 ppm supaya sidat merasa nyaman. Maka dari itu di bak pendederan diberi aerasi. Tak kalah penting, suhu air dijaga hangat pada kisaran 27 – 30oC. Posisi SKPTP yang hanya beberapa meter dari bibir pantai membuat suhu senantiasa hangat.

Menurut Pepen bibit sidat di bak dipelihara selama 4 – 5 bulan sampai berukuran 50 – 100 g/ekor. Normalnya bobot ini dicapai dari ukuran glass eel 0,19 g dalam tempo 6 – 7 bulan. Percepatan tumbuh itu bisa terjadi berkat pemberian pakan berbahan dasar tepung cacing Lumbricus sp. Cacing ini memiliki kadar protein tinggi sampai 50%. ‘Pakan diberikan sehari 2 kali sebanyak 3% bobot tubuhnya,’ ungkap Pepen.

Persembunyian

Sidat berbobot 50 – 100 g itu selanjutnya dipindahkan ke dalam kolam pembesaran berukuran 35 m x 50 m berkedalaman 1 – 1,5 m. Berbeda dengan bak pendederan, kolam pembesaran tidak diberi naungan. Untuk mempertahankan kadar oksigen terlarut dipasang kincir yang digerakkan motor listrik berdaya 1 PK. ‘Pakan yang diberikan sudah berupa pelet,’ kata Pepen. Pada tahap ini populasi dibatasi 1 – 3 ekor per m3 sehingga sidat leluasa bergerak dan kanibalisme dapat ditekan.

Tak cuma populasi dijarangkan, di kolam pembesaran juga dibuat tempat persembunyian berupa rumpun eceng gondok Euchornia crassipes yang dibingkai bambu. ‘Ini dibuat menyerupai habitatnya. Karena pada dasarnya sidat senang bersembunyi,’ kata Ahmad Suhaeri, teknisi tambak SKPTP. Nah, setelah 5 – 6 bulan dibesarkan, bobot bicolor dan marmorata itu bisa mencapai 700 g/ekor.

Sidat yang dipanen perlu dipuasakan dalam air bersih mengalir agar sisa kotoran dalam perutnya terbilas. Lama pemuasaan tergantung kondisi pakan yang diberikan. Paling sedikit, selama 2 – 3 hari sebelum dikirim sidat mesti dipuasakan. Pembesaran bicolor dan marmorata yang notabene jenis lokal memang masih tergolong baru. Namun, kini sudah terbukti bahwa mereka bisa dibudidayakan layaknya sidat eropa. (Arie Raharjo)

^ Sidat eropa butuh suhu 26 – 30oC

< Sidat berbobot di atas 200 g hasil budidaya

Foto-foto: A. Arie Raharjo

^ Kolam pembesaran sidat di Karawang.

Kincir pengaduk di kolam pembesaran untuk

mempertahankan DO

< Bibit hasil tangkapan alam diadaptasikan dengan

pakan dan lingkungan

v Eceng gondok untuk tempat persembunyian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img