Monday, August 8, 2022

Siem Berjemur di Tepi Pantai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tanaman dengan tinggi 3 – 4 m itu sarat buah. Bambu-bambu penyangga pun dipasang untuk menopang dahan. Buah seukuran bola golf itu siap dipanen 4 bulan ke depan. Itulah kali ke-4 Basiran memanen jeruk siem di tepi pantai. Produksi tahun ini diperkirakan 85 kg/pohon.

 

Kesuksesan itu bermula dari inisiatif Basiran memanfaatkan lahan tidur di pinggir pantai. Awalnya pria 44 tahun itu menanam cabai keriting. Ayahnya mengajarkan tanaman tumbuh subur jika kebutuhan haranya tercukupi. Karena lahan pasir minim hara, Basiran pun menambahkan pupuk kandang sebagai sumber makanan bagi tanaman. Ternyata produksi cabai cukup menggembirakan. Ayah 2 putera itu pernah memperoleh 3 kuintal cabai pada petik ke-7 dari lahan seluas 3. 000 m2 . Panen setiap 5 hari sekali selama 1 tahun sejak tanaman berumur 100 hari setelah tanam.

Penuh sandungan

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1999, Basiran beralih ke jeruk siem. Itu lantaran keuntungan yang dihasilkan dari cabai tidak memadai dibandingkan jeruk. Petani di Banyuurip, Purworejo, pada panen ke – 2 memperoleh omzet Rp7-juta dari 100 pohon jeruk. Sedangkan untuk memperoleh Rp5-juta dari cabai yang ditanam pada lahan seluas 3. 000 m 2 itu sangat berat, ujar kelahiran Kulonprogo itu. Alasan lain, siem mudah dijual. Begitu panen, pedagang pengumpul langsung mendatangi kebunnya. Jeruk siem dijual seharga Rp1. 500/kg ke pengumpul.

Keberhasilan budidaya jeruk di tepi pantai itu tak semulus saat ketua Kelompok Tani Ngudi Hasil Bumi Garongan, Panjatan, Kulonprogo, itu menanam cabai. Cemoohan kerap ia terima dari para tetangga. Masak mo nanam jeruk di lahan pasir, ya nggak akan tumbuh, kata Basiran menirukan ejekan tetangganya. Menurut Dr Reza Tirtawinata, ahli buah-buahan di Bogor, sebenarnya tidak ada masalah menanam jeruk siem di tepi pantai karena siem jeruk dataran rendah. Kuncinya, siem dapat tumbuh di lahan berpasir jika batang bawahnya tahan terhadap salinitas tinggi.

Meski mendapat ejekan kanan-kiri, Basiran pantang menyerah. Tanah yang miskin unsur hara itu diberi pupuk kandang dan kompos. Menurut Hendro Soenarjono, pakar tanaman buah di Bogor, pupuk kandang berfungsi sebagai penambah hara, sedangkan kompos untuk mengikat air agar tidak langsung hilang. Kerja keras selama 3 tahun pun akhirnya membuahkan hasil. Panen perdana 25 kg/pohon.

Intensif

Untuk meningkatkan hasil produksi, Basiran melakukan perawatan intensif. Mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penggosokan batang, pengapuran, penyemprotan, dan yang paling penting penyiraman.

Pria kelahiran 1962 itu menggunakan bibit jeruk asal okulasi. Dengan bibit itu 3 tahun kemudian tanaman mulai berbuah, meski jumlahnya masih sedikit, 25 kg/pohon. Pada umur 4 tahun, produksi meningkat jadi 50 kg per pohon. Jumlah itu terus meningkat menjadi 75 kg pada umur 5 tahun.

Bibit ditanam pada lubang tanam berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Saat penanaman, pasir diinjak sampai padat agar pohon tidak goyang bila terkena angin. Lalu siram sampai jenuh. Salah satu kendala budidaya jeruk di lahan pasir adalah air. Karena itu penanaman sebaiknya satu bulan sebelum musim hujan. Bila diprediksi November hujan, maka tanam jeruk pada Oktober. Tujuannya, agar pada saat pertumbuhan kebutuhan air terpenuhi sehingga jeruk tumbuh subur. Untuk mengurangi penguapan, pohon ditanam jarak rapat, 3 m x 3 m.

Agar produksi buah optimal, Basiran membenamkan 5 kg pupuk kandang per pohon di awal penanaman. Dilanjutkan pemupukan rutin setiap 2 bulan dengan NPK 16:16:16 sebanyak 200 g per pohon. Pupuk kimia diaplikasikan dengan cara ditaburkan di sekeliling batang. Areal pemberian pupuk disesuaikan dengan lebar tajuk tanaman. Jika lebar tajuk 1 m, tabur NPK dengan jarak 1 m dari batang.

Penyiraman

Di setiap sela tanaman terdapat pipa-pipa vertikal setinggi 2 m yang berjarak 14 m x 14 m. Di ujung pipa-pipa itu terpasang emiter berupa sprinkler untuk penyiraman. Penyiraman dilakukan satu kali sehari selama 4 jam. Pada musim hujan intensitas penyiraman dikurangi, lantaran kebutuhan tanaman sudah terpenuhi dari air hujan.

Setelah memasuki umur produksi, frekuensi penyiraman diatur. Untuk merangsang keluarnya bunga, Basiran menghentikan penyiraman 2 -3 bulan sebelum musim hujan tiba. Tanaman tidak disiram selama 1 -2 bulan agar layu. Setelah itu diberikan pupuk kandang sebanyak 25 kg/pohon yang dilanjutkan penyiraman sampai jenuh. Tiga bulan kemudian keluar tunas baru disertai bunga.

Ketika buah sudah sebesar jempol tangan berikan pupuk NPK kembali dengan dosis seimbang. Setelah panen, peraih juara 1 Penghargaan Petani Hortikultura Daerah Istimewa Yogyakarta itu kembali melakukan pemupukan. Pupuk yang digunakan adalah ZA, KCl, dan SP36 dengan perbandingan 2:1:2. Dosisnya 1 kg per batang.

Pemangkasan dimulai sejak tanaman berumur 6 bulan setelah tanam. Itu rutin dilakukan setahun sekali. Tujuannya agar tajuk pohon tetap pendek dan terlihat kompak.

Hama dan penyakit

Untuk mencegah hama dan penyakit, Basiran melakukan penggosokan, pengapuran, dan penyemprotan. Penggosokan batang setahun sekali. Tepatnya 1 bulan setelah hujan turun. Bila hujan awal Desember, penggosokan awal Januari agar lumut di batang mudah dihilangkan.

Menurut Hendro penggosokan bermanfaat untuk mencegah penyakit. Bila batang berlumut dan berjamur akan mudah terserang diplodia. Untuk menggosok batang digunakan larutan detergen dengan dosis 2 sendok makan per 5 liter air. Setelah digosok dengan larutan detergen lalu batang disiram dengan air bersih sampai busa hilang.

Pengapuran dilakukan 1 – 2 bulan setelah penggosokan. Gunakan campuran kapur sirih dan belerang dengan perbandingan 2:1. Lalu campuran itu diberi air sampai lengket. Oleskan campuran kapur sirih dan belerang mulai dari pangkal batang sampai 1m dari permukaan tanah. Pengapuran bertujuan untuk mengatasi semut dan jamur agar tidak cepat tumbuh di batang.

Pencegahan hama faktor penting dalam mempertahankan kuantitas dan kualitas buah. Hama utama yang kerap hadir adalah kutu sisik. Kerugian akibat kutu sisik bisa menurunkan produksi sampai 5 persen. Basiran mengatasi hewan pengganggu itu dengan menyemprotkan pestisida, seperti Buldog dan Decis, ke seluruh tanaman. Frekuensi penyemprotan 2 bulan sekali dengan dosis 10 cc/14 l air. Penyemprotan dihentikan bila buah sudah mulai masak.

Keberhasilan itu mendorong Basiran untuk menambah areal penanaman dari 3. 000 m2 menjadi 2 ha yang tersebar di 4 tempat. Langkahnya diikuti petani lain di Kulonprogo. Menurut Sumaryanto, SP, staf Produksi Subdin Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kelautan Kabupaten Kulonprogo, saat ini tercatat 30 petani di Kecamatan Panjatan yang menanam jeruk siem di tepi pantai dengan total lahan seluas 30 ha. (Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img