Thursday, August 11, 2022

Sirih Merah Musuh Baru Beragam Penyakit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

“Mereka bilang kondisinya hampir sekarat. Saya betul-betul tak sadarkan diri,” kata Murjiasih mengenang. Ketika itu di suatu subuh, pada Juli 2005, kelahiran Yogyakarta 51 tahun silam itu terkena serangan jantung mendadak. Lima hari kemudian setelah rutin meminum ekstrak sirih merah sesak di dada berangsur hilang. Sebulan berselang ia bebas beraktivitas kembali.

Tragedi di waktu subuh itu puncak penderitaan Murjiasih sejak 2 tahun silam. Ketika itu Juli 2003, Agus Suyatno, suami tercinta, berpulang mendadak tanpa sebab yang jelas. “Bapak meninggal pagi-pagi, pas dibangunkan dari tidur. Nggak tahunya sudah tidak ada,” katanya. Murjiasih pun dihantui kecemasan. Takut kejadian serupa menimpa dirinya. Ia tak bisa membayangkan kelak anak semata wayangnya menjalani kehidupan seorang diri.

Beban hidup Murjiasih kian berat karena harus berperan ganda: menjadi ibu sekaligus kepala keluarga yang menanggung ekonomi keluarga. Tekanan yang luar biasa itu membuatnya stres. Lambat laun daya tahan tubuhnya melemah. Baru 3 hari sejak kepergian suami ia harus pergi ke dokter. Karena pengobatan tak kunjung tuntas, hampir setiap 5 hari sekali ia bolak balik ke dokter. Berganti dokter dan tabib pun kerap dilakukan selama setahun. “Badan sering gemetar dan keluar keringat dingin. Dada sesak dan nyeri. Mereka bilang darah tinggi biasa dan stres,” katanya.

Jantung koroner

Misteri penyakit Murjiasih terkuak pada Februari 2004. Dokter barunya curiga ada kelainan organ jantung di tubuh ibu dari Febby Affandy itu. Ia pun menyarankan dilakukan rekam jantung. Hasilnya? Jantung koroner mendekam di tubuh Murjiasih. Sang dokter angkat tangan dan merujuk ke dokter spesialis jantung.

Saran itu tak digubris karena biaya pengobatan yang melangit. Murjiasih lebih memilih berobat pada tabib yang murah meriah selama setahun. Sayang, semuanya tak menunjukkan perubahan yang berarti. “Terasa plong setelah minum obat, tapi setelah habis pusing dan sesak terasa lagi,” katanya.

Beruntung pada Juni 2005, Murjiasih membaca sebuah majalah yang menulis keampuhan sirih merah dalam menanggulangi beragam penyakit. “Kebetulan tempatnya di Yogyakarta, jadi terjangkau,” kata kelahiran Yogyakarta, 23 September 1958 itu. Namun, keinginan bertemu langsung dengan sang herbalis tak terwujud karena ia selalu tak ada di tempat.

Mukjijat seolah terjadi karena ketika Murjiasih hampir sekarat sang herbalis bisa ditemui. Tubuhnya dihangatkan dengan minyak kayu putih, simpul syaraf di telapak kaki dirangsang. Perkenalannya dengan sirih merah pun dimulai. Setelah sadar the herbal sirih merah bercampur madu diberikan. Pulangnya, Murjiasih dibekali ekstrak sirih merah yang harus dikonsumsi 2 kali sehari sebanyak 2 tablet selama sebulan. Saat Trubus temui, September silam, Murjiasih telah bebas beraktifitas.

Antiradang dan luka

Menurut Bambang Sudewo, herbalis di Sekar Kedhaton Yogyakarta, jantung koroner umumnya disebabkan faktor keturunan, kebiasaan merokok, tingginya kadar gula darah, dan kadar kolestrol tinggi. Untuk kasus Murjiasih, lain lagi. Stres dan emosilah yang menjadi pemicu utama. Sirih merah membantu menstabilkan emosi dan menurunkan stres.

Diagnosis Mas Dewo—sebutan akrab Bambang Sudewo — sama dengan pendapat dr Zainal Gani Akp, herbalis dari Herba Bagoes. Menurutnya, gangguan psikis seperti stres menjadi salah satu penyebab sakit jantung. Itu karena stres melemahkan daya tahan tubuh sehingga denyut jantung meningkat. Akibatnya terjadi hipertensi menetap yang membuat kerja jantung berat. “Otot-otot jantung bisa menebal dan melebih batas. Potensi luka di pembuluh darah pun meningkat,” katanya.

Penelitian pendahuluan dari Andayana Puspitasari MSi Apt dari Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada belum mampu menjawab keampuhan kerabat lada itu. Ia hanya menyimpulkan, sirih merah kaya flavonoid, alkaloid, senyawa polifenat, tanin, dan minyak asiri.

Karena itu, menurut Dr Ipung Puruhito Sp PD, internis di RS Haji Surabaya, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang sirih merah. Ia hanya berhipotesis, jenis sirih lain banyak mengandung zat antiradang. Mereka juga kerap digunakan sebagai obat bengkak dan luka. “Mungkin kandungan antiradangnya jauh lebih banyak,” katanya.

Maag kronis

Walau zat aktif yang terkandung di sirih merah belum terkuak, banyak penderita penyakit menahun yang mengaku sembuh. Sebut saja Miftahuddin, di Nogotirto, Yogyakarta. Pada 2002, ia didiagnosis menderita maag kronis. “Perut perih melilit. Makanan tak bisa masuk lagi, langsung muntah karena ditolak tubuh,” katanya. Ia pun harus menginap selama 4 hari di RSUD Murangan, Yogyakarta.

Setelah dirawat di rumah sakit kondisi Miftah berangsur membaik. Namun, semua itu hanya sementara. Sepanjang 3 tahun, misalnya. Miftah, kerap bolak-balik ke dokter langganan untuk penyakit sama. Setiap obat tradisional yang disarankan teman selalu dicoba. Sayang, semua itu nihil. “Biasanya sembuh pada saat minum obat, setelah itu kambuh lagi,” kata ayah 2 anak itu.

Baru pada Mei—Juni 2005, ia menemukan brosur sirih merah secara tak sengaja. Info itu disusul ulasan lebih lengkap di sebuah majalah  yang semakin meyakinkannya pada sirih merah. Miftah pun mencobanya setelah menemui klinik yang bersangkutan. Dua lembar sirih merah dikunyah dan ditelan. Berikutnya ia meminum ekstrak sirih merah 2 kali sehari sebanyak 2 kapsul secara rutin.

Tiga hari pertama rasa sakit kian menjadi. “Pedihnya luar biasa, tapi saya beranikan saja,” katanya. Mulai hari ke-4 rasa perih mereda, perut bagian lambung tak sakit lagi bila diraba. Dua minggu kemudian rasa sakit itu hilang total. Terapi terus dilanjutkan selama seminggu sampai akhirnya dihentikan total. Maklum, Bambang Sadewo menyarankan untuk menghentikan “menu” sirih merah bila sudah tak ada keluhan. Ketika Trubus berbincang dengannya pada September 2005 dia mengatakan, “Saya terbebas dari maag dan obatobatan,” katanya.

Murjiasih dan Miftahudin hanya segelintir orang yang sembuh berkat sirih merah. Di Cimahi, Bandung, Jawa Barat, ada Soni Subrata yang terbebas dari TBC tulang. Di Kutoarjo, Cilacap ada Sunarsih yang sembuh dari benjolan di payudara dan keputihan akut. Pun, Lestari Hardiati Subadio, di Jakarta yang batal amputasi kaki. Lestari mengalami luka parah di kaki yang tak kunjung sembuh karena diabetes. Kasus lain? Ada Desi di Cilacap yang sembuh tumor payudara (baca: Hilang Kanker Payudara Brkat Sirih Merah, hal. 90).

Kabar baik

Beragam contoh kasus orang yang penyakitnya membaik berkat sirih merah tentu ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Dr Subagus Wahyuono, farmakolog di Fakultas Farmasi Universitas Gadjahmada, misalnya. Menurutnya, tanaman memang merupakan bahan baku obat modern. Laporan sirih merah bisa membantu penyembuhan penyakit menjadi kabar baik. “Obat modern 80% dari tanaman. Maka munculnya tanaman baru berkhasiat obat membantu para peneliti. Itu bisa mendorong riset lanjutan. Kita menjadi lebih bergairah,” katanya.

Khusus untuk sirih merah, ia mengaku belum tahu pasti senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Namun, sirih jenis lain terbukti mengandung senyawa yang bersifat mencegah penyakit. “Tinggal pertimbangan dosis. Misal yang dibutuhkan sebagai obat yang efektif 500 mg, tapi di tanaman itu hanya 5 mg. Jadi sebagai obat butuh ekstraksi melalui penelitian ketat,” katanya.

Bila dipakai sebagai herbal, maka pertimbangan lainnya ialah keamanan. Jangan sampai tanaman itu toksik bila dimakan oleh orang sehat. Yang baru Subagus ketahui, sirih merah mengandung zat antosian tinggi yang bekerja sebagai antioksidan. Penuturan Dr I Ketut MSc Apt, dosen di Fakultas Farmasi ITB, juga memperkaya pengetahuan tentang sirih. Menurutnya, sirih bersifat antiseptik. Artinya ia mampu mengeliminasi pertumbuhan mikroorganisme pada kulit. Misal, jamur Candida albicans penyebab sariawan pada mulut dan gatal-gatal pada alat kelamin.

Walau begitu, penelusuran Trubus menemukan sirih merah juga mengandung senyawa yang bersifat sitotoksik. Artinya, pada dosis berlebih menyebabkan keracunan pada tubuh. Karena itu menurut Zainal Gani, penggunaan sirih merah tak boleh berlebih dan terus menerus. “Konsumsinya harus diawasi oleh herbalis yang merekomendasikan,” katanya.

Karena itu dapat dipahami, Bambang Sadewo yang selama ini getol mempopulerkan sirih merah tak menganjurkan penggunaan terus menerus. “Bila sakit sudah sembuh, harus dihentikan,” katanya. Pun bagi mereka yang sehat, ekstrak sirih merah kapsul tak disarankan. Alternatif lain seperti teh herbal sirih merah—yang dosisnya sangat rendah—bisa menjadi pilihan.

Terakhir, ada baiknya mengikuti nasihat Prof Dr Zubairi Djurban SpPD, internis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Baginya, tanaman herbal—termasuk sirih merah—memang dikenal bermanfaat sebagai kesehatan. Mereka juga lazim digunakan sebagai pencegah penyakit. Namun, jangan gantikan tanaman herbal sebagai obat utama. Silakan, pakai sirih merah untuk pelengkap. “Bukan sebagai obat,” katanya. (Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa, Hanny Sofi a, Laksita Wijayanti, Karjono, dan Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img