Sunday, November 27, 2022

Solusi Empuk Saat Hilang Pupuk

Rekomendasi

 

Musim tanam pada Desember 2008, pupuk memang bagai menghilang. Banyak petani, termasuk Muslim, kesulitan menanam padi. Kelangkaan pupuk seperti itu jamak terjadi hampir setiap tahun. Namun, Syamsuar tak serisau Muslim. Ketika pupuk langka pada musim tanam lalu, ia tetap dapat menanam padi. Itu karena ia tak menggunakan pupuk kimia seperti Urea. Petani di Desa Kampung Baru, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, itu mengelola 1 ha lahan.

Hasilnya, produksi padi justru melejit. Panen pada November 2008, misalnya, ia memetik 8,6 ton gabah per ha. Padahal panen sebelumnya hanya mendapatkan 4,6 ton gabah per ha. Hal serupa dialami Edi Sutrisno, pekebun di Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia memetik 10,7 ton gabah per ha. Dua panen sebelumnya Edi mengangkut masing-masing 6,5 ton dan 8,5 ton gabah per ha. Itu lonjakan produksi yang sangat signifikan ketimbang hasil saat menggunakan pupuk kimia, 4,5 ton gabah per ha. Padi yang ia tanam bukan varietas hibrida yang lazim berproduksi menjulang, melainkan IR 64.

Lebih hemat

Sumber nutrisi bagi padi-padi itu adalah pupuk organik cair. Syamsuar menghabiskan 2 liter pupuk seharga Rp200.000. Mula-mula ia melarutkan pupuk organik itu dalam air. Konsentrasinya 4 ml pupuk dalam 1 liter air. Bulan pertama penanaman ia menyemprot 3 kali dengan interval 10 hari. Bulan berikutnya kembali menyemprotkan pupuk dengan interval 15 hari.

Penyemprotan terakhir saat tanaman berumur 3 bulan. Total jenderal 6 kali penyemprotan pupuk organik cair. Dengan ongkos penyemprotan Rp30.000 per hari kerja, total biaya pemupukan Rp380.000. Bandingkan ketika Syamsuar menggunakan pupuk kimia. Dalam satu periode tanam, ia 2 kali menabur pupuk. Syamsuar menghabiskan 200 kg Urea dan 50 kg KCl dengan harga Rp2.500 dan Rp8.000 per kg. Jika ditambah ongkos menebar pupuk Rp30.000 per hari, maka total biaya pemupukan Rp960.000.

Bagi Syamsuar bukan hanya penghematan yang diperoleh. Namun, juga produksi tinggi dan mudahnya memperoleh sumber nutrisi. Maklum, ketersediaan pupuk organik melimpah, hampir ada di semua tempat. Menurut Syamsuar pupuk organik sebagai solusi langkanya pupuk anorganik.

Syamsuar mewanti-wanti, ‘Jangan sampai karena pupuk langka, jatah tanaman dikurangi’. Daday, pekebun cabai di Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat menuai akibatnya. Gara-gara pupuk langka, ia hanya memberikan 10 gram Dampaknya produksi anjlok: cuma 7 ons dari sebelumnya 1 kg per tanaman.

Solusi organik

Benarkah pupuk langka? Tak sepenuhnya benar. Setidaknya jika mencermati data Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia. Produksi pupuk nasional 3 tahun terakhir melebihi konsumsi. Pada 2006 produksi pupuk 7.029.521 ton, 2007 (7.925.341 ton), dan 2008 (6,390,117 ton). Sedangkan konsumsi pupuk pada tahun yang sama berturut-turut, 7.021.063 ton, 7.890.120 ton, dan 6.133.850 ton. Artinya produksi melebihi kebutuhan.

Menurut Prof Dr Ir Bustanul Arifin, pengamat ekonomi dan guru besar Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung, kelangkaan pupuk imbas dari buruknya perencanaan kebutuhan, produksi, dan distribusi pupuk. ‘Itu karena melibatkan banyak perbedaan kepentingan. Mulai dari departemen dan BUMN terkait hingga pemerintahan daerah,’ ujar doktor Resource Economics lulusan University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat itu.

Bustanul menuturkan sistem pelaporan dan perencanaan kebutuhan pupuk petani di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat masih buruk. ‘Mustahil mendapatkan kebutuhan yang akurat apabila sistem pelaporan ini tidak berputar sebagaimana mestinya,’ kata ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia itu. Ia mencontohkan, bila surat keputusan kebutuhan pupuk di Jawa Timur 1-juta ton/tahun, ternyata kebutuhan lebih besar daripada itu. Kekurangannya tidak bisa didatangkan begitu saja, karena melebihi ketentuan yang sudah ditetapkan. Akibatnya, petani susah mendapatkan pupuk.

Salah satu alternatif, Bustanul menyarankan untuk tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan mulai menggalakkan penggunaan pupuk organik. ‘Penggunaan pupuk kimia berkepanjangan malah merusak tanah,’ kata Bustanul. Dr Ir Achmad Rachman, kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor mengatakan saat ini jumlah bahan organik di tanah seluruh Indonesia rata-rata hanya 2%. Jumlah itu sepertiganya dibanding 20 tahun lalu, yang nilainya 6,8%. Dampaknya, tanaman pun tak mampu berproduksi maksimal, karena tanah sakit.

‘Salah satu parameter sehat atau sakitnya tanah adalah kandungan bahan organik,’ kata Suwardi, periset Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor. Oleh karena itu bahan organik mesti dikembalikan ke lahan. Salah satunya dengan pemberian pupuk organik atau kompos. Penggunaan kompos dalam jangka panjang mengembalikan kesuburan dan produktivitas lahan. Hasil pengomposan lain, berupa asam humat dan asam fulfat, pemacu pertumbuhan tanaman.

Bahan organik yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan jadi pupuk organik. Nendi misalnya, pekebun padi organik di Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, meramu pupuk berbahan baku kotoran ternak, rebung bambu, bonggol pisang, serta beragam daun dan buah busuk. Berkat pupuk olahan sendiri, produksi padi meningkat.

Namun, jika ingin efisien dan tak repot, pekebun bisa memanfaatkan pupuk organik yang banyak beredar di pasaran. Sekadar menyebut beberapa contoh di antaranya Plantagar, Hantu, RI1, Grow Quick, Guano, Dekorgan, Rite Grow, dan Sampi Biogrow Complete. Dengan memanfaatkan pupuk organik, pupuk langka bukan lagi masalah. (Ari Chaidir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img