Sunday, April 12, 2026

Semarak Pasar Petani Garuda: Mendorong Legalitas Pengedar Benih dan Varietas Unggul Lokal

Rekomendasi
- Advertisement -

Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, tengah mendorong ekosistem perbenihan hortikultura yang lebih tertib, kompetitif, dan sesuai regulasi. Itu terlihat dari sosialisasi sertifikat pengedar benih hortikultura yang digelar bersama Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kabupaten Bogor.

Kegiatan yang berlangsung di di Pasar Petani Garuda pada 7 April 2026 itu mempertemukan para pedagang benih, petani, dan pemangku kebijakan. Mereka sepakat bahwa benih yang beredar perlu bersertifikat agar lebih mudah masuk ke sistem pengadaan dan pemasaran resmi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Entis Sutisna, S.Pd., M.M. menegaskan bahwa acara ini memang dirancang untuk mendorong para petani hortikultura di Kabupaten Bogor agar tanaman yang mereka hasilkan bersertifikat.

Dengan begitu, benih yang dipasarkan memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pengadaan pemerintah maupun kebutuhan para pelaku usaha. Entis juga menyebut sertifikasi menjadi pintu agar produk bisa dimunculkan di e-katalog. Alasannya karena penggunaan anggaran pengadaan pada umumnya membutuhkan sistem tersebut.

Selama ini varietas tanaman di Kabupaten Bogor cukup beragam, tetapi jumlah yang sudah bersertifikat masih minim. Kondisi itu membuat sejumlah pembeli atau daerah lain tetap mencari bibit ke luar. Oleh karena itu, sosialisasi itu diharapkan menjadi titik awal agar para pelaku usaha benih di daerah lebih siap memenuhi kebutuhan pasar sendiri.

Ketua Forum Komunikasi P4S Kabupaten Bogor, Ruslan, S.H., menjelaskan bahwa kegiatan itu diselenggarakan untuk para pedagang benih tanaman buah dan tanaman hias di Pasar Petani Garuda. “Tujuannya agar para pedagang dan petani di pasar itu memiliki kompetensi memproduksi benih unggul, mengedarkan benih unggul, serta memiliki sertifikasi. Baik pada benih maupun pada orangnya, sesuai regulasi yang berlaku,” kata Ruslan yang juga mnjabat sebagai ketua Paguyuban Pasar Petani Garuda.

Ketua Forum Komunikasi P4S Kabupaten Bogor dan Ketua Paguyuban Pasar Petani Garuda, Ruslan, S.H. (Riefza Vebriansyah)

Menurut Ruslan, di Pasar Petani Garuda ada sekitar 75 orang yang tergabung. Jenis komoditas yang diperdagangkan pun beragam. Mulai dari tanaman buah unggul, tanaman hias, bonsai, pupuk, perlengkapan pertanian, sampai tanaman taman. Selain sosialisasi, acara penting lainnya yakni penyerahan Tanda Daftar Alpukat Garuda Yaksa dari perwakilan Kementerian Pertanian dan pembagian bibit alpukat unggul itu. Bahkan ada sesi icip-icip buah itu. “Alpukat Garuda Yaksa, varietas unggul lokal Bogor yang sudah dikembangkan sekitar tujuh tahun dan terbukti adaptif di dataran rendah, menengah, hingga tinggi di Kabupaten Bogor,” kata Ruslan.

Alpukat Garuda Yaksa awalnya merupakan alpukat introduksi. Namun, setelah dikembangkan lebih dari enam tahun dan terbukti tumbuh adaptif serta menghasilkan buah unggul, varietas itu didaftarkan sebagai alpukat lokal Bogor. Nama Garuda Yaksa dipilih sebagai identitas unggulan daerah. Ia menyebut keunggulannya antara lain produktivitas tinggi, daging buah lembut dan pulen, kulit buah tebal, percabangan rimbun, serta tingkat keberhasilan perbanyakan yang bisa mencapai 95%.

Para peserta acara itu sama-sama menekankan satu hal yaitu sertifikasi bukan sekadar administrasi. Melainkan jalan agar benih hortikultura dari Bogor benar-benar punya daya saing. Dengan benih yang tertib, unggul, dan tersertifikasi, Kabupaten Bogor ingin memperkuat posisinya sebagai daerah penghasil benih yang siap masuk pasar yang lebih luas. Termasuk menjaga nama baik komoditas lokal seperti alpukat Garuda Yaksa. (Riefza Vebriansyah)


Artikel Terbaru

Mengubah Sampah Jadi Listrik di TPPAS Galuga Bogor: Peluang dan Tantangannya

Rencana menyulap tumpukan sampah menjadi energi listrik di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Galuga, Kabupaten Bogor, Provinsi...

More Articles Like This