Wednesday, August 10, 2022

Spektakuler Kurma Tropis 3 Tahun Panen

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kurma kultivar KL-1 hasil perbanyakan dari biji berbuah perdana pada umur 3 tahun.
Kurma kultivar KL-1 hasil perbanyakan dari biji berbuah perdana pada umur 3 tahun.

Perjalanan ke kebun-kebun kurma di Thailand yang tropis. Pohon berbuah perdana pada umur tiga tahun dan tanpa perangsangan.

Sebanyak 300 pohon kurma itu seragam, tinggi 2—3 meter dan berbaris rapi di lahan 2 ha. Dari balik pelepah muncul tandan seukuran tangan orang dewasa yang melengkung karena menahan beban buah yang kuning seronok. Posisi buah hampir menyentuh tanah, kira-kira sejenggal di atas permukaannya. Andai pekebun tak mengikat tandan dengan tali plastik dan penopang bambu, niscaya buah kurma yang menggiurkan itu menyentuh tanah.

Sebuah pohon umur 3 tahun rata-rata terdiri atas 5—8 tandan. Adapun bobot sebuah tandan rata-rata 10 kg. Pemandangan sangat memanjakan mata itu bukan di Mesir, Arabsaudi, atau Iran yang selama ini menjadi sentra terbesar kurma di planet Bumi. Bukan pula di negeri bergurun di kawasan Asia barat daya. Kurma sarat buah yang sedap dipandang itu Trubus saksikan di Provinsi Suphanburi, Thailand, 2 jam bermobil dari ibukota Bangkok.

Sebuah pohon berumur 3 tahun menghasilkan 5—8 tandan dengan bobot 5—10 kg per tandan.
Sebuah pohon berumur 3 tahun menghasilkan 5—8 tandan dengan bobot 5—10 kg per tandan.

Pohon genjah
Kebun kurma di Suphanburi berketinggian 12 meter di atas permukaan laut itu milik Chong Chai. Mantan pejabat pemerintah itu menanam kerabat kelapa sangat rapi, jarak tanam 7 m x 6 m. Populasi 2 ha mencapai 300 tanaman yang kini berumur 3—7 tahun. Saat Trubus mengunjungi kebun itu pada pengujung Agustus 2015, tersisa 10 pohon yang berbuah. Ratusan pohon lain selesai panen.

“Itu buah sisa panen,” ujar Tamrongsak, petugas kebun. Musim berbuah kurma di Thailand pada Juni—Agustus. Tamrongsak memetik 6,25 ton kurma segar pada panen ketiga lalu. Kurma di lahannya berbuah perdana pada 2013 ketika pohon berumur 2 tahun pascatanam. Chong Chai menanam bibit hasil perbanyakan dari biji kurma berumur 11—12 bulan setinggi 50 cm. Artinya umur total pohon ketika panen perdana baru 3 tahun.

Barisan pohon kurma di pelataran pasar swalayan Siam Paragon, Bangkok, Thailand.
Barisan pohon kurma di pelataran pasar swalayan Siam Paragon, Bangkok, Thailand.

Volume panen perdana 50—70 kg per pohon. Frekuensi berbuah pohon Phoenix dactylifera itu sekali setahun. Dengan demikian Chong Chai panen untuk kali ketiga pada 2015 saat umur pohon 6 tahun. Sejak berbuah perdana hingga ketiga, tak sekalipun Chong Chai melakukan perangsangan agar pohon berbuah. Kurma di dataran rendah itu berbuah secara alamiah.

Keruan saja ia merawat secara intensif antara lain dengan menaburkan 3 kg pupuk kandang kotoran ayam setiap 3 bulan. Ia juga membersihkan gulma di sekeliling tanaman untuk mencegah kompetisi hara. Dengan perawatan seperti itulah kurma di kebunnya rutin berbuah dalam tiga tahun terakhir. Sejatinya perawatan yang dilakukan Chong Chai amat standar.

Para pekebun komoditas lain seperti mangga Mangifera indica dan jambu biji kristal Psidium guajava di Indonesia menerapkan hal serupa. Perawatan standar itu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Bandingkan dengan petani lengkeng dataran tinggi, misalnya, yang memerlukan klorat untuk merangsang pohon berbuah.

"Dengan perawatan intensif, kurma kultivar KL-1 mampu berbuah perdana pada umur 3 tahun dari bibit hasil perbanyakan biji. Pembuahan terjadi secara alami tanpa perangsangan," ujar Anurak Boonlue, pekebun kurma di Kanchanaburi.
“Dengan perawatan intensif, kurma kultivar KL-1 mampu berbuah perdana pada umur 3 tahun dari bibit hasil perbanyakan biji. Pembuahan terjadi secara alami tanpa perangsangan,” ujar Anurak Boonlue, pekebun kurma di Kanchanaburi.

Kebun tersebar
Perawatan intensif itu juga menghasilkan buah kualitas tinggi. Tamrongsak menyodorkan buah berbentuk oval yang baru saja dipetiknya. Ketika Trubus menggigitnya, terdengar suara kres pertanda buah sangat renyah. Air buah perlahan mengalir membasahi kerongkongan dan bercitarasa sangat manis tapi sedikit sepat. Buah kurma bermutu tinggi itu menjadi incaran pasar.

Chong Chai membawa sebagian besar buah hasil panen ke pasar swalayan di Bangkok. Harga jual 600 baht setara Rp320.000 per kg. Selain itu pengunjung yang berdatangan ke kebun juga membeli kurma segar Rp800 baht per kilogram. Chong Chai mengebunkan kurma kultivar KL-1 alias kolak one—hasil persilangan kurma barhee dengan deglet noor (baca: “Aneka Kurma Pilihan” halaman 18—19).

“Sebagian besar pekebun kurma di Thailand menanam KL-1 sebab cepat berbuah,” kata Tamrongsak. Ia menuturkan pekebun dapat menuai buah saat tanaman berumur 3 tahun dari bibit hasil perbanyakan biji. Kebun Chong Chai bukan satu-satunya di negeri Gajah Putih itu. Parichat Chaleekure dan Suparavee Tharnjarukarn “tandem” mengebunkan kurma di lahan 20 rai setara 3,1 hektar.

Parichat Chaleekure dan Suparavee Tharnjarukarn (kanan) menanam 135 pohon kurma berbagai kultivar seperti barhee, sukkary, khalas, ajwah, dan degleet noor.
Parichat Chaleekure dan Suparavee Tharnjarukarn (kanan) menanam 135 pohon kurma berbagai kultivar seperti barhee, sukkary, khalas, ajwah, dan degleet noor.

Lokasi kebun Parichat Chaleekure dan Suparavee Tharnjarukarn di Provinsi Ayutthaya, 1,5 jam bermobil dari Bangkok ke arah utara. Di area berketinggian 7 meter di atas permukaan laut, kedua perempuan itu menanam 8 bibit kurma pada 2012. Duet pekebun itu melindungi setiap pohon dengan pagar semen berbentuk lingkaran.

Tujuannya supaya pemberian pupuk lebih efektif. Parichat memperoleh 4 pohon betina dari 8 bibit yang ditanam pada 2012. Pada Juni—Agustus 2015, keempat pohon betina itu berbuah, masing-masing 100 kg/pohon. Parichat menuturkan Ayutthaya cocok untuk budidaya kurma karena beriklim panas dan sangat kering. Mereka menambah populasi menjadi 135 pohon berbagai kultivar seperti barhee, sukkary, khalas, ajwah, dan degleet nor.

Pratin Apichatsanee memilih Provinsi Nakhonratchasima, Thailand, sebagai lokasi kebun. Ia mengelola lahan kurma seluas 60 rai setara 9,6 hektare. Populasinya 2.200 pohon terdiri atas beragam umur, 104 pohon di antaranya produktif berumur 4 tahun. Pria separuh baya itu mengebunkan 2 varietas kurma yakni KL-1 hasil perbanyakan biji dan barhee, kultur jaringan. Pada Agustus 2015 ia memanen 10 ton kurma segar (baca: “Berhenti Bankir Berkebun Kurma”, halaman 16—17).

Kebun kurma milik Pratin Apichatsanee di Nakhon ratchasima seluas 9,6 ha.
Kebun kurma milik Pratin Apichatsanee di Nakhon ratchasima seluas 9,6 ha.

Demam kurma
Tiga kebun kurma di tiga provinsi berbeda—Suphanburi, Ayutthaya, dan Nakhonratchasima—bukti bahwa Thailand tengah dilanda demam kurma. Selain di tiga provinsi itu, lokasi pengembangan lain kurma juga di Kanchanaburi, Chiangmai, dan Pathumthani. Para pekebun mengatakan bahwa inthaphalam—sebutan kurma di Thailand—tengah naik daun. Keberhasilan pekebun kurma membudidayakan tanaman asal Asia barat itu menjadi topik perbincangan masyarakat yang menarik.

Lihatlah kebun-kebun kurma itu tak pernah senyap dari kunjungan masyarakat yang hendak menyaksikan sosok kurma berbuah, memetik buah secara langsung, dan mencecap lezatnya kurma segar. Harap mafhum, warga Thailand, seperti halnya penduduk Indonesia, lazimnya mengonsumsi kurma kering. Menurut ahli hortikultura di Kementerian Pertanian Thailand, Manoo Posomboon, kurma segar menjadi komoditas baru di Thailand.

Suphan (kiri) dan Preecha Thammanuchaowarot (kanan), masing-masing mengebunkan kurma di Suphanburi dan Pathumtani
Suphan (kiri) dan Preecha Thammanuchaowarot (kanan), masing-masing mengebunkan kurma di Suphanburi dan Pathumtani

Trubus menemui Manoo di kantornya yang resik dan mentereng di jantung Kota Bangkok usai mengunjungi 5 kebun kurma di seantero Thailand. Manoo mengatakan masyarakat demam kurma karena selama ini tanaman anggota famili Arecaceae itu identik dengan negeri gurun seperti negara-negara di Asia barat. Di sana suhu udara terik, curah hujan sedikit, dan kelembapan rendah.

Sebelum Thailand mengembangkan, tak ada negara tropis, khususnya di Asia tenggara, yang serius membudidayakan kurma dalam skala luas. Yang ada pehobi yang menanam satu-dua pohon di pekarangan atau sekadar penghias taman. Gugum Gumbira di Bandung, Jawa Barat, misalnya, menanam sebatang pohon kurma hasil perbanyakan dari biji. Menurut Gugum pohon berbuah perdana saat umur 15 tahun. Buah berbiji kecil bahkan tanpa biji sehingga daging buah tebal.

Menurut Pratin budidaya kurma di Thailand bermula pada 2005. Ketika itu Sak Lamjuan di Chiangmai, Thailand bagian utara, membudidayakan kurma hibrida hasil persilangan barhee dengan deglet noor. Saat berumur 3 tahun tanaman berbuah perdana. Pemilik Kolak Farm itu sama sekali tak merangsang agar kerabat palem itu berproduksi.

Harga kurma di kebun minimal 500 baht setara Rp200.000/kg.
Harga kurma di kebun minimal 500 baht setara Rp200.000/kg.

Setelah eksperimen itu sukses, barulah ia menanam kurma dalam skala luas. Lokasi penanaman di Chiangmai, berketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Suhu di Chiangmai cenderung sejuk, mirip suhu di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Seperti pada penanaman sebelumnya budidaya kurma hibrida skala luas juga sukses.

Alumnus Maejo University itu memanen perdana kurma saat tanaman berumur 3 tahun. Ia tertarik mengembangkan kurma karena buah kurma tahan simpan, budidaya mudah, tergolong buah baru. Pohonnya pun memiliki nilai estetis. Keberhasilan Sak Lamjuan itu menjadi daya tarik bagi calon pekebun lain. Saat ini kebun kurma menyebar ke Thailand bagian tengah (Provinsi Suphanburi, Ayutthaya, Katchanaburi dan Pathumtani), timur laut (Provinsi Nakhonratchasima), timur (Chanburi).

Di Ortorkor, pasar modern yang menyediakan buah-buahan premium, pedagang menjual sekilogram kurma segar seharga 800 baht setara Rp320.000.
Di Ortorkor, pasar modern yang menyediakan buah-buahan premium, pedagang menjual sekilogram kurma segar seharga 800 baht setara Rp320.000.

Spesies sama
Kabar kebun kurma berkembang di Thailand bukan informasi baru bagi Gregori Garnadi Hambali, botanis di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Menurut alumnus Birmingham University, Inggris, itu Thailand sejatinya mulai penelitian kurma sejak 1997. Greg pernah bertemu peneliti kurma Thailand yang memberikan catatan hasil penelitian, yakni Pramote Dammasakti. Keberhasilan pekebun di Negeri Gajah Putih itu semakin mengukuhkan kurma mampu beradaptasi di iklim tropis.

Kurma memang sedang menjadi primadona baru di Thailand. Euforia bahkan merambah hingga perkotaan. Di pelataran pusat perbelanjaan megah, Siam Paragon, terdapat belasan pohon kurma yang ditanam sebagai penghias taman. Pemandangannya menarik bila sedang berbuah. Biasanya, pengunjung mal memanfaatkannya untuk berfoto. Ada pula yang ramai-ramai mengambil buah yang jatuh lantaran ingin mengetahui citarasanya.

Pohon kurma di halaman rumah dr Bakarman SpB di Banyuwangi, Jawa Timur, berbuah hingga 7 tandan.
Pohon kurma di halaman rumah dr Bakarman SpB di Banyuwangi, Jawa Timur, berbuah hingga 7 tandan.

Menurut Greg Hambali kurma yang banyak dibudidayakan pekebun Thailand sejatinya sama dengan yang tumbuh di Asia barat seperti Arabsaudi. Meski tanpa perlakuan atau perangsangan, pohon tetap akan berbuah. Jadi, bukan spesies kurma yang khusus untuk daerah tropis seperti Thailand atau Indonesia. Setelah Thailand menanam kurma barulah terkuak bahwa kurma memang adaptif dan mampu berproduksi di wilayah tropis.

Greg Hambali menuturkan sejumlah wilayah di tanahair memang cocok untuk berkebun kurma. Ia pernah mencicipi kurma segar di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sayang, sebagian besar pohon kurma di tanahair ditanam tunggal dan hanya berperan sebagai tanaman hias. Padahal, penyerbukan alami terjadi bila terdapat pohon jantan dan betina.

Chaiaree Wonghan menanam kurma dari biji sejak 10 tahun silam.
Chaiaree Wonghan menanam kurma dari biji sejak 10 tahun silam.

Ia menuturkan pohon betina masih bisa berbuah lantaran bersifat partenokarpi. Artinya, sang pohon betina mampu membentuk buah tanpa perkawinan bunga jantan dan betina. “Buah yang muncul berukuran kecil dan tanpa biji,” ujar Greg. Itulah yang terjadi pada pohon kurma milik Gugum Gumbira. Jika demikian spesies yang sama juga berpeluang untuk dikebunkan di tanahair. Apalagi budaya mengonsumsi kurma juga tumbuh subur di Indonesia. (Andari Titisari/Peliput: Ian Purnama Sari & Rosy Nur Apriyanti).

COVER 1234.pdf

COVER 1234.pdf

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img