Tuesday, July 23, 2024

Stop Ulah si Cula Satu!

Rekomendasi
- Advertisement -

Pemandangan di desa itu pun seragam: 2—4 helai daun kelapa kopyor membentuk kipas akibat ulah kwangwung. Dampaknya produksi kopyor turun 20%.

Di antara sentra-sentra kopyor di Kabupaten Pati, serangan di Dukuhseti paling parah. Bayangkan total populasi kopyor di sana 16.575 pohon, hampir 2.500 di antaranya rusak. Sejak memasuki desa itu dari Tayu, ke mana pun pandangan diarahkan, yang tampak daun kelapa yang mirip kipas. Itulah ulah kumbang badak alias kwangwung yang menyerang ujung janur—bakal daun yang masih menggulung. Ketika janur membuka, susunan daun seperti kipas.

Adakalanya pelepah daun termuda diserang hingga menyebabkan pertumbuhan terhambat. Yang paling fatal jika serangan pada titik tumbuh sehingga maut pun menjemput. Sebab, ”Proses fotosintesis terganggu,” ujar Dr Sudrajat ahli kelapa dari Institut Pertanian Bogor. Tak melulu daun yang dilahapnya, tetapi juga buah muda hingga menyebabkan kulit memadat dan sulit dikupas.

Celakanya, palmen nashornkaefer—sebutannya di Jerman—juga membonceng cendawan Phytophthora sp yang tak kalah ganas. ”Cendawan itu menyebabkan busuk batang. Karena kelapa monokotil, ketika bagian pucuk busuk menyebabkan pohon mati,” ujar doktor Biologi dan Produksi Tanaman alumnus ENSA de Rennes Paris. Cendawan datang akibat daun terluka karena gigitan kumbang badak. Serangan sekunder itulah yang sejatinya lebih mematikan.

Cula satu

Disebut kumbang badak lantaran di depan kepalanya yang hitam terdapat sebuah cula. Persis badak. Itulah sebabnya ahli taksonomi Carolus Linnaeus memberi nama ilmiah rhinoceros yang berarti badak. Meski ukuran tubuhnya hanya 35—45 mm daya jelajahnya cukup tinggi. Ia mampu terbang sejauh 9 km tanpa henti. Menurut Sudrajat lingkungan kebun kopyor yang kotor—misalnya ada kayu lapuk—mengundang kumbang badak.

Kayu lapuk atau timbunan sampah menjadi rumah baginya tempat ia memperbanyak diri. Namun, lokasi favoritnya adalah kotoran kerbau (lihat infografi s). Berbagai cara ditempuh pekebun untuk mengatasi serangan kumbang nokturnal itu. Namun, langkah paling bijak adalah mencegah serangga itu datang. Caranya, menjaga kebersihan di lingkungan kebun.

Bor dan infus

Pekebun kopyor di Pati, Jawa Tengah, mengatasi serangan kumbang dengan cara meletakkan garam di pucuk pohon. Dua genggam butiran garam, dimasukkan ke dalam plastik yang permukaannya telah diberi beberapa lubang. Bagian atas plastik dibiarkan terbuka sehingga ketika hujan, air bercampur garam, dan menetes melalui plastik itu. Air garam mengusir anggota famili Dynastidae itu.

Ada yang mengganti garam dengan karbon baterai bekas, irisan jengkol, atau daun tembakau. ”Pekebun percaya, bau tak sedap tembakau atau jengkol mengusir kumbang,” kata Mulyono dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pati. Pekebun lain memanfaatkan jebakan lampu. Di sekitar lampu diletakkan baskom berisi air sabun. Kumbang badak yang aktif pada malam hari mencari sumber cahaya, lalu tergelincir di baskom itu.

Gagal? ”Gunakan insektisida sistemik karena mobilitas kumbang tinggi,” ujar Sudrajat. Bor batang kelapa 1 meter dari permukaan tanah sedalam 10 cm. Sebuah pohon cukup satu lubang bor. Lalu suntikkan 10—15 cc insektisida ke lubang bor. Agar tidak tumpah, bikin lubang bor dengan kemiringan 45 derajat. Setelah itu tutup lubang bor dengan lilin atau tanah liat.

Virus Baccolovirus oryctes dan cendawan Metaresium anisopliare dapat diandalkan untuk mengatasi serbuan kwangwung. Baccolovirus oryctes diteteskan di mulut kwangwung yang telah dipuasakan sehari semalam. Virus itu mirip AIDS yang mematikan kumbang. Sepekan setelah virus menyebar di tubuh kumbang, serangga itu menuai ajal. Sebelum maut menjemput, virus menurunkan nafsu makan, tetapi meningkatkan libido kumbang.

Nah, ketika ia ”berhubungan” virus menginduksi pasangannya. Malahan virus diwariskan kepada generasi baru. Menurut Mulyono, penetesan virus mampu menekan 10% dari populasi hama. Ia menduga virus yang diteteskan belum benar-benar masuk ke tubuh kumbang. Beragam trik jitu untuk mengatasi serbuan si cula satu. Siasat-siasat itu dapat dikombinasikan agar serangan lebih cepat berhenti. (Sardi Duryatmo/Peliput: Dewi Nurlovi & Evy Syariefa Firstantinovi)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img