Penyakit cacing gastrointestinal (GIN) merupakan masalah utama dalam peternakan kambing. Terutama di daerah tropis karena infeksi nematoda seperti Haemonchus contortus, Trichostrongylus colubriformis, dan Oesophagostomum columbianum dapat menurunkan pertumbuhan dan produktivitas ternak.
Penelitian lapangan oleh VR Pertiwi & O. Silaen dalam Jurnal Veteriner dan Biomedis menunjukkan bahwa kambing yang dipelihara secara intensif di kandang masih memiliki prevalensi telur cacing tinggi. Studi ini menekankan pentingnya pengelolaan pakan, kebersihan kandang, dan sirkulasi udara yang baik untuk mengurangi infeksi parasit pada sistem pemeliharaan rakyat.
Pengendalian alami menggunakan tanaman herbal dengan sifat antelmintik sepert semanggi semaki (Sericea lespedeza atau Lespedeza cuneata), terbukti efektif menekan beban cacing. TH Terrill dan rekan dalam Veterinary Parasitology menemukan bahwa pemberian hay SL sebesar 50—75 % dari diet harian dapat menurunkan jumlah telur tinja (FEC) hingga 84—92% pada minggu keenam dibandingkan kontrol. Hal ini membuktikan bahwa hijauan tertentu dapat menjadi strategi alternatif pengendalian parasit tanpa bergantung pada obat kimia.
Rotasi padang penggembalaan terbukti efektif menurunkan beban cacing gastrointestinal pada kambing di daerah tropis. Sistem ini diterapkan dengan membagi padang menjadi beberapa paddock, menggembalakan kambing selama beberapa hari, kemudian memberi jeda istirahat di padang sekitar 3—7 minggu.
Studi oleh Pertiwi dan rekan dalam jurnal Jurnal Veteriner dan Biomedis, menunjukkan bahwa kambing yang digembalakan secara bergilir dan manajemen padang yang baik memiliki jumlah telur cacing per gram feses (EPG) lebih rendah dibandingkan kambing yang digembalakan terus-menerus.
Penelitian terbaru mendukung bahwa pengaturan durasi penggembalaan dan jeda istirahat padang merupakan elemen penting dalam pencegahan infeksi cacing. Khirqah, A. dan rekan dalam Jurnal BioEksakta, menyatakan bahwa pengaturan padang dapat secara signifikan memutus kehidupan larva parasit sebelum tertelan kambing. Dengan begitu infeksi menurun dan ketergantungan pada obat kimia berkurang. (Naya Maura Denisa)
