Thursday, December 8, 2022

Strategi Mutu Tinggi

Rekomendasi
Widaryanto, hasilkan 80% pepaya kualitas A
Widaryanto, hasilkan 80% pepaya kualitas A

Rata-rata hanya 40% pepaya kalifornia produksi pekebun bermutu bagus. Widaryanto mampu menghasilkan 80% berkualitas tinggi.

Petani di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Widaryanto, mampu menghasilkan 80% pepaya bermutu tinggi. Artinya 80% dari total panen sesuai standar pasar swalayan. Ia mengelola 600 tanaman di lahan 1.600 m2. Pekebun berusia 26 tahun itu rutin panen sekitar 100 kg per pekan. Pada pertengahan Desember 2012, pekebun pepaya itu mendapatkan harga Rp2.500-Rp3.000 rupiah per kg.

Padahal, menurut Iwan G Rory dari PT Sewu Segar Nusantara rata-rata hanya 40% pepaya kalifornia produksi pekebun bermutu bagus. PT Sewu Segar Nusantara mendistribusikan pepaya kalifornia di beberapa kota besar. Menurut pemasok buah tropis di Jakarta Utara, Tatang Halim, kriteria pepaya kalifornia bermutu tinggi berbentuk lonjong, tanpa ada cacat karena benturan fisik maupun serangan penyakit.

Sementara menurut Zoilus Sitepu, fresh product manager sebuah perusahaan retail di Jakarta, kriteria pepaya yang bagus berbobot 1-1,5 kg, buah tanpa cacat fisik dengan warna hijau kekuningan. “Warna kuningnya sekitar 30-40%,” kata Zoilus. Pepaya seperti itulah yang diinginkan pasar swalayan. Keruan saja pekebun bakal memperoleh harga lebih tinggi. Sebagai gambaran, harga jual pepaya kelas A Rp2.700-Rp3.000 per kg; pepaya mutu rendah, Rp1.200-Rp1.500 per kg.

Tanam ganda

Menurut Widaryanto ada 2 macam bunga pepaya: betina dan hermafrodit. Disebut hermafrodit karena satu bunga mempunyai alat kelamin jantan dan betina. Bunga betina menghasilkan buah yang membulat dan bengkok, yang termasuk kelas apkir; hermafrodit, lurus dan lonjong sesuai standar mutu. “Buah bulat hanya laku Rp1.200-1.400, sementara harga buah lonjong bisa 2 kali lipat,” tuturnya.

Oleh karena itu Widaryanto menyeleksi tanaman pepaya calina-di pasar dijual dengan nama kalifornia-yang berbunga lonjong. Sebab, itulah kunci awal mendapatkan buah berkualitas. Sayangnya, ia belum bisa membedakan bibit pepaya yang bakal menghasilkan buah lonjong ketika tanaman belum berproduksi. Namun, ia punya strategi jitu dengan cara menanam dua bibit pepaya berjarak sekitar 35 cm atau bibit ganda (lihat ilustrasi). Tujuannya untuk mengantisipasi jika tanaman pepaya menghasilkan buah bulat dan bengkok.

Penanaman ganda mungkin menghasilkan kedua bibit menjadi tanaman hermafrodit, keduanya menjadi tanaman betina, atau salah satu hermafrodit. “Biasanya satu bibit hermaprodit, lainnya betina,” kata Widaryanto. Itu terjawab ketika tanaman berumur 2,5 bulan dan mulai berbunga. Saat itu Widaryanto menyeleksi satu per satu tanaman. Ia hanya mempertahankan satu-di antara dua bibit itu-tanaman yang berbunga hermafrodit. Cirinya bunganya lonjong dan lurus.

Strategi itu ia terapkan sejak 2009. Selama ini minimal salah satu-di antara dua bibit itu-menjadi tanaman berbunga hermafrodit. Persentasenya mencapai 80-90%. Jika keduanya hermafrodit, maka sebuah bibit yang tercabut ia manfaatkan untuk menyulam bibit betina. Agak repot memang, tetapi cara itu efektif menghasilkan pepaya lonjong yang termasuk kelas A.

Seleksi buah

Bandingkan dengan sebelum 2009, saat Widaryanto menanam tunggal atau hanya sebuah bibit. Hasilnya ia memperoleh hanya 50% populasi yang berbunga hermafrodit atau menghasilkan buah lonjong. “Setiap tanaman pepaya hanya bisa memunculkan satu jenis bunga,” kata Widaryanto. Artinya, saat tanaman mengeluarkan bunga betina 2,5 bulan pascatanam, maka seterusnya tanaman itu menghasilkan buah apkir.

Konsekuensi menanam bibit ganda, kebutuhan bibit 2 kali lipat. Jika menanam tunggal, Widaryanto memerlukan 600 bibit, tanam ganda, 1.200 bibit. Harga sebuah bibit pepaya calina siap tanam setinggi 15 cm mencapai Rp1.500. Adapun biaya pupuk kandang tak berubah karena penanaman ganda maupun tunggal sama saja, memerlukan 25 kg pupuk kandang per titik.

Setelah mempertahankan sebuah tanaman, maka jarak tanam kini menjadi 2,5 m x 2,5 m. Widaryanto lalu menyeleksi buah saat pentil berukuran dua kali kelereng. Ia mempertahankan buah berbentuk lonjong dan mulus dan membuang buah bengkok dan cacat. Itu bertujuan agar penyerapan nutrisi lebih efisien untuk membesarkan buah berkualitas prima. Seleksi buah meningkatkan buah kelas A lebih banyak, 80-85%.

Sebagai sumber nutrisi, Widaryanto memberikan 500 gram NPK dan 20 kg pupuk kandang kotoran sapi per tanaman di atas umur satu tahun. Interval pemberian setiap empat bulan.  Widaryanto hanya memberi 1 sendok makan NPK per tanaman berumur kurang dari setahun. Saat tanaman berumur 2 bulan, ia mulai menyemprot pestisida setiap bulan hingga tanaman berumur setahun. Namun, ia mengurangi pemberian pestisida menjadi 6 bulan sekali. “Tanaman muda lebih rentan serangan hama kutu putih, kutu bening dan lalat buah,” kata Widaryanto.

Intensif

Jaminan kualitas
Jaminan kualitas

Bambang Suluh menerapkan strategi lain untuk menghasilkan pepaya bermutu tinggi. Sebanyak 60% pepaya produksi Bambang masuk kualitas super dan laku Rp2.900 per kg. Cirinya, bobot rata-rata 1,5 kg berkulit mulus dan bebas cacat. Pekebun pepaya di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu membuat bedengan selebar 2 m dan tinggi 0,5 m untuk menanam pepaya.

Sebelum menanam, Bambang membenamkan 15 kg pupuk kandang kambing terfermentasi di lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm sedalam 30 cm. Sepekan kemudian, ia menanam bibit setinggi 20 cm.

Ia menebarkan Urea dan NPK masing-masing 100 g per lubang tanam 25 hari setelah tanam. Saat tanaman berumur 3 bulan atau setinggi 1 m, ia kembali menaburkan 100 g Urea, 150 g TSP, dan 160 g KCl per tanaman. Bambang menyemprotkan pupuk KNO3 ketika tanaman berumur 4 bulan. Konsentrasi pupuk 2 g per liter air dan dosis 0,1 liter per tanaman. Ia mengulangi pemberian KNO3 per 2 bulan.

Sembilan bulan pascatanam, Bambang mulai panen. Saat ini ia sudah 10 kali panen dengan total 1.824 kg. Menurut Bambang biaya budidayanya mencapai Rp40.000 per tanaman; cara biasa, Rp25.000. Artinya ada selisih Rp15.000 per tanaman. Namun, harga jual pepaya miliknya lebih tinggi, yakni Rp2.900 per kg. Hasil pun meningkat menjadi 150 kg per tanaman dari pertama berbuah sampai saat penggantian tanaman. Pada budidaya konvensional, produksi hanya 50-80 kg per tanaman. Menurut periset kajian Hortikultur Tropis Institut Pertanian Bogor (IPB) Endang Gunawan, masa produksi pepaya calina bisa sampai 3 tahun pascatanam. Syaratnya didukung iklim, dan budidaya intensif. (Bondan Setyawan/Peliput: Rona Mas’ud)

518-HAL-34-35-6Keterangan Foto :

  1. Budidaya pepaya intensif dengan membuat bedengan
  2. Widaryanto, hasilkan 80% pepaya kualitas A
  3. Bambang Suluh, budidaya intensif dongkrak produksi 2-3 kali lipat
  4. Pepaya kualitas super (kanan)= bobot 1,5 kg, kulit mulus, dan bebas cacat hasil budidaya intensif. Bandingkan dengan tanpa perlakuan intensif (kiri)
Previous articleMangga Enak dari Papua
Next articleCalon Pesaing Pondoh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img