Thursday, June 11, 2026

Strategi Peru Masuk Pasar Indonesia Lewat Superfood dan Misi Dagang

Rekomendasi

Di balik meja-meja business matching di Hotel JW Marriott Jakarta, Peru tidak hanya menawarkan produk. Mereka juga sedang membaca pasar Indonesia. Negara di Amerika Selatan itu membawa perusahaan-perusahaan pangan dan superfood untuk bertemu calon mitra bisnis Indonesia. Mereka ingin mengetahui peluang, kebiasaan konsumsi, kanal pasar, dan persyaratan yang perlu dipenuhi agar produk Peru bisa masuk lebih kuat.

Duta Besar Peru untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Luis Tsuboyama, menjelaskan acara Peru-Indonesia B2B Meeting Andean Superfoods and Food Products menghadirkan perusahaan-perusahaan Peru yang berminat mengekspor produk pangan dan superfood ke Indonesia. Menurut Luis, Indonesia merupakan pasar besar dengan sekitar 280 juta penduduk.

“Mungkin segmen yang kami sasar hanya 10%, tapi 10% dari 280 juta tetap 28 juta orang, dan itu pasar yang sangat besar,” ujar Luis. Pernyataan itu menunjukkan cara Peru melihat Indonesia. Mereka tidak harus langsung menyasar seluruh penduduk. Sebagian kecil dari pasar Indonesia pun sudah cukup besar untuk menjadi peluang dagang.

Asia Tenggara pasar yang relatif baru

Agro-exports Coordinator ADEX, Viviana Noblecilla Obregón, mengatakan Asia Tenggara merupakan kawasan yang relatif baru bagi eksportir Peru. Produk pangan Peru memang telah masuk ke Eropa, Amerika, serta beberapa negara Asia seperti Tiongkok dan Jepang. Namun, pasar Asia Tenggara masih perlu dikenali lebih dekat.

Oleh karena itu, Peru menggelar rangkaian misi dagang di kawasan ini. Misi dimulai dari Malaysia, lalu berlanjut ke Indonesia melalui pertemuan B2B dengan importir. Setelah itu, delegasi Peru akan menuju Bangkok, Thailand, untuk mengikuti Thaifex 2026. Di Indonesia, delegasi Peru tidak hanya duduk di ruang pertemuan. Mereka juga berencana mengunjungi pasar swalayan untuk melihat langsung pola konsumsi masyarakat, jenis produk yang tersedia, serta dinamika pasar pangan di Indonesia.

Duta Besar Peru untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Luis Tsuboyama. (Foto: Riefza Vebriansyah)

“Kami tertarik untuk memahami pasar ini. Kami sangat senang berada di negara yang indah ini dan berharap dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara Indonesia dan Peru,” ujar Viviana.

Viviana juga menyebut bahwa Indonesia bisa menjadi peserta aktif . ADEX menyelenggarakan Expoalimentaria, pameran dagang pangan terbesar di Amerika Selatan, setiap tahun di Lima, Peru. Edisi ke-18 dijadwalkan berlangsung pada September 2026 selama tiga hari. “Jika ada importir atau perusahaan Indonesia yang berminat, mereka bisa mendaftar melalui program hosted buyer kami,” kata Viviana. Dua hingga tiga tahun lalu pernah ada stan Indonesia yang berpartisipa. Ia berharap hal itu bisa terulang karena hubungan dagang, menurut Viviana, seharusnya berjalan dua arah.

Produk yang mereka bawa pun beragam. Ada superfood, biji-bijian seperti quinoa, amaranth, dan chia, buah beku seperti alpukat dan mangga, produk perikanan, serta pangan olahan lain. Menurut Viviana, kekuatan itu menunjukkan transformasi Peru. Negara yang dulu lebih dikenal sebagai penghasil tambang kini semakin diperhitungkan dalam industri pangan dunia.

Quinoa sebagai pintu masuk

Quinoa menjadi salah satu contoh produk yang dibawa Peru dalam misi dagang itu. General Manager Alisur, Carlos Torres-Llosa E., mengatakan, sebagian besar perusahaan Peru yang hadir memang mewakili industri superfood. Salah satu produk utama yang mereka perkenalkan adalah quinoa, pangan khas kawasan Andes yang selama ini lekat dengan Peru dan Bolivia.

Perhatian dunia terhadap quinoa meningkat setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2013 sebagai International Year of Quinoa. Momentum itu membuat quinoa semakin dikenal sebagai pangan bernilai tinggi.  “Tujuan misi ini adalah menunjukkan kepada pasar Indonesia pentingnya produk ini,” ujar Carlos.

Perhatian dunia terhadap quinoa meningkat setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2013 sebagai International Year of Quinoa. (Foto: Dok. mike_mal/Magnific)

Ia tidak menutup mata bahwa pasar quinoa di Indonesia masih tergolong khusus. Namun, jumlah penduduk Indonesia yang besar membuat peluangnya tetap menarik. Menurut Carlos, jika konsumen Indonesia mulai mengenal dan mencoba quinoa, perdagangan kedua negara bisa tumbuh lebih kuat. “Kami berharap masyarakat Indonesia mencoba produk ini. Dengan begitu, ekspor kami bisa meningkat dan kerja sama ini menjadi saling menguntungkan bagi Peru dan Indonesia,” tutur Carlos.

Pernyataan Carlos menunjukkan bahwa Peru tidak hanya menjual quinoa sebagai komoditas. Mereka sedang memperkenalkan kategori pangan yang bagi sebagian konsumen Indonesia masih baru. Okeh karena itu, tahap awal yang penting bukan hanya transaksi, tetapi juga edukasi pasar.

Tantangan sertifikasi halal

Meski peluangnya besar, jalan masuk ke Indonesia tetap menuntut persiapan. Luis Tsuboyama menyebut sertifikasi halal sebagai salah satu tantangan utama. Beberapa perusahaan Peru sudah memiliki sertifikat halal dari Uni Emirat Arab atau Malaysia, tetapi belum tentu sepenuhnya diakui di Indonesia. “Kalau mau serius masuk pasar Indonesia, sertifikasi halal dari Indonesia sendiri yang harus dipegang,” kata Luis.

Pernyataan itu penting bagi eksportir pangan Peru. Indonesia bukan hanya pasar besar, tetapi juga pasar dengan aturan, kebiasaan konsumsi, dan kepercayaan konsumen yang harus dipahami. Produk yang sudah diterima di Eropa, Amerika, Tiongkok, atau Jepang belum tentu otomatis mudah masuk ke Indonesia.

Sertifikasi halal menjadi salah satu pintu penting, terutama untuk produk pangan dan bahan baku industri makanan. Tanpa pemenuhan persyaratan itu, peluang pasar bisa terhambat meski produknya memiliki kualitas dan permintaan potensial.

Sertifikasi halal menjadi salah satu pintu penting untuk produk pangan dan bahan baku industri makanan. (Foto: Dok. danimikrostok1999/Magnific)

Bagi Indonesia, cerita Peru juga menjadi cermin. Indonesia memiliki banyak produk lokal yang kuat, mulai dari buah tropis, rempah, tanaman obat, pangan lokal, hingga hasil perkebunan. Namun, kekayaan produk saja belum cukup. Produk lokal perlu standar, cerita, sertifikasi, jejaring pasar, dan promosi yang konsisten agar bisa naik kelas.

Di ruang pertemuan itu, Peru datang sebagai tamu. Namun, dari cara mereka menyiapkan produk dan membaca pasar, Indonesia bisa belajar bahwa globalisasi pangan lokal tidak terjadi tiba-tiba. Ia dibangun melalui kerja panjang antara petani, perusahaan, pemerintah, industri makanan, dan promosi dagang yang terarah. (Riefza Vebriansyah)


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This