Friday, August 12, 2022

Suatu Pagi Bersama Bunga-bunga Jambu Air

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Seorang diri ia menuju halaman samping dan depan untuk merawat 30 pohon jambu air. Sesekali tangannya membuang tunas air dan ranting tak berguna. Beberapa buah yang matang dipetik dan dipegangnya erat-erat. Itulah kesibukan sehari-hari pemilik PT Gunung Jati di kala pagi di kebun jambu senilai Rp50-juta.

Sejam berselang ia duduk di teras ditemani secangkir kopi sambil mengisap rokok putih. Buah Syzygium Sp yang tadi dipetik dibelah dengan pisau khusus. Lalu disantap sebagai pengganti sarapan pagi tanpa dicuci. Maklum, jambu yang dimakan bebas pestisida dan pupuk kimia sehingga aman. Tak terasa 10 buah di atas meja tandas tak tersisa. “Setiap pagi seperti ini. Pikiran menjadi segar melihat warna hijau dan merah bergerombol di pohon. Buah yang dimakan menghapus rasa lapar,” kata suami Sylvia Liyenita itu.

Sejak 5 tahun silam, rumah di bilangan Kedoya, Jakarta Barat, itu bagai surga bagi Widartono. Halaman samping seluas 100 m2 disulap menjadi kebun. Di sana 15 jambu air tumbuh subur dan rajin berbuah. Koleksinya pun tak hanya satu jenis, tapi beragam. Sebut saja citra, king rose apple, madura, cincalo madu, lilin hijau, lilin merah, cincalo madu, dan bangkok. Di halaman depan, ada 5 pohon jambu menyambut setiap tamu yang datang.

Masa kecil

Bukan tanpa alasan kelahiran Banyuwangi 50 tahun silam itu memilih jambu air. Widartono kecil kerap main perang-perangan di kebun jambu. Senapannya terbuat dari bambu, pelurunya dari bunga jambu. “Kalau lagi main sampai lupa diri. Rasa sakit seperti tak dirasa. Nenek saya sering marah melihat tubuh saya memerah terkena peluru jambu,” kenang Widartono.

Kerinduan pada masa kecil itu seperti terobati saat seorang sahabat menawarkan jambu air, mangga, dan durian sebagai penghias taman. Total jenderal jumlahnya 10 pohon. Tanpa pikir panjang, pada 2000 dia menggelontorkan Rp10-juta untuk beragam jenis tanaman itu.

Sayang, iklim Kedoya hanya cocok untuk jambu air karena kerabat cengkeh itu mempunyai sebaran iklim yang luas. “Akhirnya, saya pilih jambu air. Yang lain tidak, durian dan mangga saya sisakan 1 pohon saja. Itu pun jarang berbuah,” katanya.

Jambu air yang tumbuh subur dan lebat berbuah membuat Widartono kian jatuh cinta pada buah berbentuk lonceng itu. Empat tahun kemudian koleksinya berlipat menjadi 50 pohon. Itu hasil perburuan ke penangkar-penangkar terkenal di Jakarta dan sekitarnya. Baru pada 2005 ia menjarangkan jambunya menjadi 25 pohon untuk dibagi pada rekanan bisnis. Maklum ia kerepotan merawat pohon yang terlalu banyak. Untuk menambah pengetahuan beberapa kali pria bertubuh tinggi itu terbang ke Th ailand. “Bila dirawat sungguhsungguh, jambu air kita tak kalah dengan yang ditanan di Bangkok,” katanya.

Istimewa

Penampilan kebun jambu air nan sentosa tidak lepas dari tangan dingin Widartono. “Dia hobiis paling ahli. Buah jambunya bisa 20% lebih besar. Begitu juga daun, bisa 2 kali lipat dari ukuran ketika dibeli. Saya sampai bingung dibuatnya,” kata Umar, penangkar buah di Kelapagading, Jakarta Utara, yang sering memasok bibit pada Widartono.

Pantas jambu-jambu air ditanam di dalam pot pun tetap prima. Sosoknya tegap dan kuat serta berbuah lebat, sama seperti yang ditanam di lahan. “Kuncinya sederhana, akar jambu di pot terbatas ruang geraknya. Itu diatasi dengan pemberian media yang kaya hara,” kata pengusaha kayu itu.

Penampilan nan menarik itu bahkan tanpa asupan pupuk anorganik. Widartono hanya mengandalkan kotoran kambing sebagai hara. “Saya pernah coba pakai pupuk sintetis, tapi hasilnya jelek. Daun rontok karena kepanasan. Kali lain daun sangat hijau dan subur, tapi tanaman ngga mau berbuah,” katanya. Akhirnya kotoran kambing dengan campuran sekam padi jadi pilihan.

Sepanjang tahun

Karena yang ditanam beragam jenis, sepanjang tahun ayah 3 puteri itu dapat menikmati jambu air. “Masa panen setiap jenis berbeda-beda,” katanya. Saat Trubus berkunjung ke rumahnya akhir Mei, pink rose apple dan bangkok sarat buah hijau kemerahan.

Saking banyaknya buah, Widartono mesti memasang kayu kaso dan bambu sebagai penyangga. Tangkai buah diikat tali dan digantungkan pada penyangga. Itu untuk menghindari patahnya cabang karena bobot yang terlalu berat.

Pohon lain seperti cincalo dan king rose apple berbuah pentil dan remaja. Buah seukuran jempol itu diselimuti koran. “Kalau ngga dibungkus diserang hama. Dari luar buahnya mulus, tapi dalamnya busuk,” katanya. Di pojok halaman terlihat citra dan lilin merah memamerkan bunga berwarna putih.

Lindas pupuk

Merawat kebun jambu sebanyak 50 pohon itu menyisakan cerita menggelikan buat Widartono. Tahun pertama penanaman ia harus bolak-balik ke berbagai penangkar di Jakarta untuk mencari media yang tepat. Namun, hasilnya tak memuaskan. “Saya ngga percaya lagi dengan pupuk kandang yang dijual. Hasilnya ngga bagus karena telah dicampur media lain,” katanya. Alhasil, ketika dicampur dengan sekam atau serutan kayu, kadar haranya jauh berkurang.

Karena itu pada tahun kedua ia memutuskan untuk membuat pupuk sendiri. Bersama seorang pegawai ia berburu kotoran kambing ke sejumlah peternak kecil di Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Depok. Karena belum diolah, ia harus menghancurkan sendiri kotoran kambing itu dengan melindas menggunakan ban mobil. “Saya yang nyetir maju mundur, pegawai yang meletakkan karung berisi kotoran kambing. Jadi seperti anak kecil main mobil-mobilan,” katanya. Kotoran yang hancur kemudian diayak dan didiamkan 1—2 bulan agar proses penguraian selesai.

Kerja kerasnya membuat pupuk sendiri dan merawat setiap hari tak siasia. Banyak penangkar yang memasok bibit padanya terheran-heran melihat hasil kebun jauh lebih bagus ketimbang di tempat asalnya. Pun rekan bisnis yang datang, kerap memintanya untuk berbagi ilmu. Bila sudah seperti itu, meluangkan waktu pagi selama 5 tahun untuk jambu air seperti terobati. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img