Wednesday, August 10, 2022

Sujadi Guru Dulu, Gurami Kemudian

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sujadi tak tanggung-tanggung beternak gurami. Di Desa Glempang, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, ia mengelola 45 kolam, luas rata-rata 400 – 500 m2. Dengan kolam sebanyak itu ia leluasa mengatur jadwal tebar sehingga panen 8 ton bisa berlangsung saban bulan. Anggota Pramuka teladan itu hanya membesarkan gurami. Benih yang ditebar seukuran bungkus rokok atau tampelan. Empat bulan berselang ikan konsumsi itu siap panen.

Anggota famili Anabantidae itu langsung dikirim ke beberapa restoran di Cianjur dan Bandung. Di luar pasokan itu, sebetulnya ada permintaan lain mencapai 4 ton sebulan, sayang Sujadi belum mampu memenuhinya. Dengan harga Rp15.000 per kg, omzet yang ditangguk pria 51 tahun itu mencapai Rp120-juta sebulan. Menurut perhitungannya, biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg gurami sekitar Rp8.000.

Setelah dikurangi biaya produksi, sebulan Sujadi menikmati laba bersih amat memadai. Pendapatan itu mungkin lebih besar ketimbang gaji eksekutif di jantung bisnis Jakarta. Dari perniagaan gurami itulah mantan pahlawan tanpa tanda jasa mampu membangun rumah mewah dan beberapa mobil.

Di salah satu sudut rumahnya, ia mengawali pagi dengan berlari di treadmill selama 30 menit untuk menjaga kebugaran jantung. Empat tahun lalu ia menjalani operasi jantung koroner di Jakarta yang menelan biaya Rp72-juta. Tak terbayangkan tingginya biaya operasi jika ia masih menjadi si Umar Bakri – julukan bagi guru seperti dikisahkan dalam lagu kreasi Iwan Fals: bersepeda butut dan gaji dikebiri.

Lele

Kehidupan yang mapan itu tentu tak dicapai dengan menggosok lampu aladin. Pada 1990, guru Agama di SD Karangkemiri, Cilacap, itu memulai debutnya sebagai peternak. Kolamnya hanya seluas 8 m x 4 m ditanami lele dumbo yang saat itu tengah populer. Keputusan beternak itu karena, ‘Saya harus berpikir 15 tahun ke depan. Jika mengandalkan gaji sebagai pegawai negeri …,’ katanya tanpa meneruskan kelanjutan kalimat itu.

Sayang, banjir besar menyapu 400 lele di kolam itu. Tersapu pula harapan Sujadi meraih laba. Istrinya uring-uringan lantaran upaya kerasnya menyisakan gaji guru yang relatif cekak akhirnya musnah. Musim berikutnya ia mencoba peruntungan dengan menebar nila. Meski berhasil membesarkan, hambatan lain seperti belum enyah. Ia kesulitan setengah mati memasarkannya.

Hasrat Sujadi beternak ikan memang terkesan melawan arus. Budaya masyarakat Cilacap di tepi pantai Samudera Indonesia itu umumnya engkonsumsi ikan laut. Ketika ditawari ikan air tawar mereka menolak. Ikan nila itu lalu dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Baru pada Mei 1991 pria kelahiran 15 September 1954 itu melirik gurami. Di kolam 32 m2 itu ia menebar 30 kg gurami ukuran silet, kira-kira sekilo terdiri atas 4 – 5 ekor.

Lima bulan kemudian, ia menikmati hasilnya. Soal pemasaran? Waktu itu ada pengepul dari Jakarta yang sedang mencari gurami. Sekitar 120 kg gurami ukuran konsumsi dijual dengan harga Rp3.000 per kg. Ia sengaja minta tolong Siti Uminah, istri yang dinikahinya pada 13 April 1982, untuk menimbang dan menerima uangnya. Sebagian laba beternak gurami dimanfaatkan untuk menambah sebuah kolam berukuran 9 m x 4 m.

Semula Sujadi praktis tak membekali diri dengan ilmu beternak gurami. Ia belajar dari logika sederhana. Contoh, pada tahun-tahun pertama, banyak gurami terserang luka cacar. Ia melihat di permukaan kolam banyak daun laban Vitex pubescens membusuk. Dugaannya, daun itu memicu serangan bakteri hingga menimbulkan luka. Pada tahap berikutnya, ia mengambil setiap daun yang berguguran di permukaan kolam. Hasilnya, jumlah ikan yang terserang cacar kian menurun.

Pengalaman masa kecilnya jika kaki terserang kutu air, ia merendam di air garam. Ia mencoba menebarkan garam setelah kolam terisi air. Pada 1996 ahli nutrisi ikan asal Th ailand, Chavalith yang datang ke rumahnya heran melihat Sujadi menaburkan garam. Setelah kembali ke negeri Gajah Putih, ia meriset di sebuah laboratorium. Hasilnya: garam ternyata mengurangi stres ikan. Menurut ahli penyakit ikan Hambali Supriyadi, garam dapat mencegah dan mengatasi serangan bakteri.

Piutang

Laba demi laba beternak gurami terus diputar untuk menambah luas kolam. Ketika kolam mencapai 30 buah pada 1997, Sujadi berhenti menjadi pegawai negeri. Ia mencurahkan perhatiannya untuk beternak gurami. Ayah 3 anak itu juga menerapkan teknologi oksigenisasi sehingga populasi meningkat 80% sekaligus panen sebulan lebih cepat. Itu lantaran pasokan oksigen sangat memadai sehingga pertumbuhan gurami optimal (baca: Produksi Tinggi Karena Oksigenisasi halaman 22 – 23).

Tak hanya intensifi kasi yang dikembangkan mantan peternak teladan nasional pada 10 Februari 1994 – penghargaan itu membawanya ke istana negara berjumpa presiden. Foto bersama orang nomor wahid itu terpampang di dinding rumahnya. Ekstensifi kasi juga diterapkan untuk memenuhi tingginya permintaan. Jumlah kolam Sujadi terus bertambah hingga kini menjadi 45 buah. Tiga kolam di antaranya diterapi teknologi oksigenisasi.

Kepiawaian budidaya gurami menjadikan Sujadi seperti penyuluh. Banyak peternak dari berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang berkonsultasi lewat telepon. Ketika Trubus bertandang ke rumahnya, berkali-kali telepon menjerit minta diangkat. Mereka – para penelepon – umumnya menanyakan berbagai informasi seputar budidaya gurami. Tak ada informasi yang disembunyikannya karena, ‘Saya bukan guru silat yang menyimpan ilmu pamungkas.’

Meski budidaya dikuasai dengan baik, bukan berarti bisnis guraminya tanpa hambatan. Beberapa konsumennya hingga hari ini belum membayar utang-utangnya. Sebuah restoran di Dago dan pedagang besar di Ciroyom – keduanya di Bandung – contohnya, masing-masing tak melunasinya utangnya Rp11-juta dan Rp14-juta. Berbagai upaya ditempuh, tetapi piutang tak dapat ditagih.

Toh, pendiri Forum Gurami Banyumas itu tak patah semangat. Sujadi, ‘Konsisten di gurami. Ia juga dikenal sebagai peternak yang ulet dan responsif jika ada informasi terbaru soal gurami,’ kata Achmad Munajat, peternak di Karanglewas, Kabupaten Banyumas, 40 km dari Maos, Cilacap. Sujadi terus menggeluti gurami yang telah dijalani selama 14 tahun.

Dari perniagaan kerabat sepat itu ia mewujudkan impiannya: mengantarkan anak-anaknya ke bangku perguruan tinggi. Seorang di antaranya tahun ini menyandang gelar dokter. Rumah mewah dan fasilitas lain bukti tetesan keringat beternak gurami setelah meninggalkan profesi Umar Bakri. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img