Trubus.id— Sulawesi Utara membuktikan sebagai salah satu sentra baru penghasil sarang burung walet di Indonesia. Populasinya bisa jadi ribuan walet hanya di Kota Manado saja. Potensi itu tidak melulu hanya ada di Kota Manado.
Pasalnya, sepanjang perjalanan darat dari Kota Manado menuju Kabupaten Minahasa Tenggara pun, kita dapat dengan mudah melihat liur emas yang berkoloni di siang hari tengah mencari pakan.
Pantas saja hasil dari 1 gedung walet di Sulawesi Utara rata-rata bisa menghasilkan 200—300 kg sarang burung per tahun. Jumlah itu jauh lebih tinggi dengan rata-rata panen di Kalimantan yang paling tinggi hanya 100 kg per tahun.
Hasil itu terus menurun saban tahun. Lantaran alih fungsi lahan dan kerusakan lingkungan di Kalimantan yang cukup tinggi. Alih fungsi lahan itu baik dari semula hutan heterogen ke hutan homogen (perkebunan sawit), atau dari hutan heterogen ke pemukiman.
Hal itu menyebabkan ketersediaan pakan alami walet menurun. Sebagai contoh, hutan yang semula heterogen terdiri dari beragam tanaman sehingga populasi serangga di dalamnya pun beragam.
Walet amat menyenangi pakan beragam, karena makin beragam pakan makin lengkap pula nutrisi yang didapat oleh burung anggota Apodidae itu. Banyak hasil riset membuktikan kian beragam pakan maka kian baik juga mutu sarang.
Jika lingkungan berubah menjadi homogen contohnya perkebunan kelapa sawit, maka serangga yang ada di lingkungan itu pun sudah tidak seberagam dahulu. Sayangnya serangga yang ada pada tanaman kelapa sawit tidak disenangi walet.
Praktik budidaya yang tidak ramah lingkungan seperti aplikasi pestisida berlebih makin memperparah, membuat walet tak betah. Imbasnya si liur emas pergi jauh mencari lokasi ideal dengan ketersediaan tempat pakan alami melimpah.
Banyak pula yang berpendapat walet yang semula berkembang di Kalimantan bermigrasi ke Sulawesi. Hal itu amat memungkinkan karena walet memiliki kemampuan terbang dan daya jelajah yang luas.
Terlebih iklim di Sulawesi memang mendukung untuk walet tumbuh dan berkembang. Indikatornya, alih fungsi lahan masih rendah dan hutan heterogen sebagai tempat pakan alami walet masih banyak di Sulawesi. Hamparan berupa kebun kelapa, sawah, dan hutan heterogen cocok sebagai tempat pakan alami walet.
Contohnya di Kabupaten Minahasa Tenggara, ada perbukitan yang terdapat banyak pohon lamtoro (Leuchaena leucocephala). Walet amat menyenangi serangga yang berasal dari pohon lamtoro itu.
Serangga yang kerap diburu walet antara lain jenis famili Cullicidae, Tachinidae, Hispidae, Formicidae, Hydropiphillidae, Bostrichidae, dan Coccinelliade. Ukuran serangga sesuai bukaan mulut walet dengan panjang 0,4 mm—3 mm dan lebar 0,2 mm—1,5 mm.
Sejatinya, Kota Manado belum bisa disebut sentra besar. Musababnya, pemainnya masih terbatas jika dibandingkan dengan kota lain yang menjadi sentra walet di Indonesia. Bisa dibilang pelakunya masih terbatas dan di satu komunitas. Artinya, persaingan antargedung relatif tidak terlalu ketat di Kota Nyiur Melambai itu.
