Friday, August 12, 2022

Suling Nilam Rendemen Jalur Tengah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Agus Hadipermana (kiri) dan Atok Fastiono,penyuling nilam di Lumajang, Jawa Timur
Agus Hadipermana (kiri) dan Atok Fastiono,
penyuling nilam di Lumajang, Jawa Timur

Cara suling terbaru nilam dengan rendemen 5,5%. Jalan tengah antara teknik konvensional berendemen 2% dan teknik ala Herdi Waluyo (10%) yang belum terbukti.

Atok Fastiono dan rekan (Agus Hadipermana, Agus Siswoyo, dan Agus Salim) bergerak cepat begitu memperoleh informasi soal kapang yang mampu meningkatkan rendemen penyulingan daun nilam. Mula-mula mereka membeli 100 kg daun Pogostemon cablin segar serta ragi tempe dan ragi roti pada Maret 2012 begitu memperoleh informasi dari Majalah Trubus edisi Februari 2012 bahwa kapang Rhizopus mendongkrak produksi.

“Daun nilam diinjak-injak di kolam ini sambil diberi ragi (ragi tempe dan roti, red),” kata  Agus Hadipermana, rekan Atok, sembari menunjuk sebuah kolam beton berukuran 1 meter x 3 meter di belakang rumah Atok yang kini berubah menjadi kolam lele. Agus tak menimbang kedua ragi itu.

Agus menggunakan daun dan batang nilam segar dan utuh. Selama proses tidak ada penambahan air. “Lama-kelamaan kok kaki terasa panas. Ini berarti ragi bekerja,” kata Agus yang bersama Atok akhirnya mengikuti pelatihan menyuling nilam yang diselenggarakan oleh Majalah Trubus dengan narasumber Herdi Waluyo itu. Setelah daun dan batang lumat, ia menyuling biomassa dengan teknik tak langsung. dan memperoleh rendemen 3%. Atok menyuling nilam sejak 1994 dan rata-rata memperoleh rendemen 2%.

Lebih lengkap

Sejak itulah ia meyakini bahwa kapang Rhizopus oligosporus berpeluang meningkatkan rendemen penyulingan nilam. Dalam industri penyulingan asiri, peningkatan rendemen 1% sangat berarti. Itulah sebabnya Atok kemudian berupaya membiakkan kapang sendiri, meski pada awalnya gagal. Sebab memperoleh kapang Rhizopus oryzae dan R. oligosporus relatif sulit.

Selain membuat kapang, Atok dan rekan-rekan juga mendesain satu unit penyulingan yang menelan biaya Rp400-juta. Itu meliputi biaya pembuatan tabung fermentasi, dua ketel penyulingan, boiler, mesin perajang, dan kolam kondensasi terbuat dari baja. Tabung fermentor, misalnya, berukuran 120 cm, terbuat dari besi nirkarat tipe 3,04, ketebalan 3 mm.

Satu unit alat penyulingan yang selesai dibuat pada 2012 itu kini terletak di belakang rumah Atok Fastiono di Desa Kaliboto Lor, Kecamatan  Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Atok sebelumnya memiliki alat penyulingan, tetapi temannya meminatinya sehingga terjual. Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang itu beberapa kali menguji coba penyulingan dengan fermentasi  pada pertengahan November 2012. Ia memperoleh rendemen bervariasi, 4,9-5,5%.

Pada 19 November 2012, misalnya, pria kelahiran 21 Oktober 1965 itu menyuling 1.000 kg daun nilam segar. Menurut ayah tiga anak itu bahan sulingan setara 200 kg kering. Ia memanfaatkan daun nilam segar varietas tapaktuan hasil budidaya petani di Candipuro, Kabupaten Lumajang, berketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Waktu tempuh dari lokasi budidaya ke tempat penyulingan dua jam. Panjang batang 40-50 cm, lalu dirajang. Dalam proses fermentasi Atok menambahkan air dengan perbandingan 1 : 4 (rajangan daun : air) atau total volume bahan yang difermentasi mencapai 4 ton (lihat ilustrasi: Rendemen 5,5% halaman 120).

Menurut penyuling di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, Sugono mengolah nilam segar memang berpeluang mendapatkan minyak dengan struktur kimia lebih lengkap. Sayangnya, karena daun masih segar, ikatan antarsel masih kuat sehingga minyak lebih sulit keluar. Sugono mengatakan untuk mengatasinya antara lain dengan perajangan daun menjadi ukuran lebih kecil. Sugono menyarankan penyuling baru sebaiknya mendestilasi daun layu berkadar air 15%; kadar air daun segar, 35%. Itu hasil kering angin selama 3 hari.

Fermentasi sempurna

Atok menggunakan tabung fermentasi berkapasitas 2.000 liter. Oleh karena itu ia melakukan dua kali fermentasi. Setiap proses fermentasi selama 12 jam. Hasil fermentasi pertama ditampung dalam sebuah bak sembari Atok menunggu proses fermentasi kedua. Ayah tiga anak itu lantas menyuling total 4 ton larutan fermentasi dengan 2 ketel masing-masing berkapasitas 400 liter. Ketel pertama menampung larutan fermetasi, sedangkan ketel kedua untuk biomassa daun nilam. Oleh karena itu sebelum menyuling Atok menyaring larutan fermentasi untuk memisahkan larutan dengan biomassa.

Setiap ketel mendapatkan uap panas dari boiler. Lama destilasi 6 jam dengan tekanan 2 bar dan suhu 130oC. Sepuluh menit pertama, minyak nilam mulai mengalir dari saluran keluar yang terhubung dengan ketel berisi larutan. Setelah penyulingan berakhir-total 4 kali menyuling, ia memperoleh 11 kg minyak nilam.

Jika mengonversi 1.000 kg daun nilam segar setara 200 kg kering, maka rendemen penyulingan Fastiono mencapai 5,5%. Selama ini perhitungan rendemen penyulingan nilam di Indonesia 2% dari bahan kering. Sebelum menerapkan sistem fermentasi, Fastiono yang menerapkan sistem uap langsung hanya memperoleh 4 kg minyak dari volume bahan yang sama (rendemen 2%).

Agus Hadipermana menyebut rendemen 5,5% itu sebagai rendemen jalur tengah. Artinya berada di antara rendemen penyulingan konvensional dengan rendemen rata-rata 2% dan destilasi ala Herdi Waluyo (rendemen 10%), tetapi belum terbukti. Itulah sebabnya Fastiono dan rekan yang kini piawai memproduksi kapang itu akan mempertahankan inovasi penyulingan melalui fermentasi.

Fastiono mampu meningkatkan rendemen melalui teknik fermentasi setelah mencoba beberapa kali destilasi. Semula saat menerapkan teknik fermentasi paling banter ia memperoleh rendemen 2%. Bahkan, pernah gagal memperoleh minyak sama sekali. Itu karena bak pendingin terbuat kolam semen ambrol karena tak mampu menahan 2,1 ton air pendingin. Ketika itu Fastiono menyuling 400 kg nilam.

Rendemen 5,5% itu memang tergolong amat tinggi dibandingkan dengan rendemen rata-rata penyuling di Indonesia. Penyuling di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, Sugono, juga pernah memfermentasi nilam dan menyuling dengan rendemen 5%. Sugono yang pernah menghitung kadar minyak pada daun nilam 7% itu mengatakan teknik fermentasi krusial alias rumit bagi pemain baru. Sebab, bisa jadi fermentasi berlangsung hanya 9 jam, bukan 12 jam seperti rekomendasi Herdi Waluyo, penyuling di Bandung yang mencetuskan ide fermentasi itu.

“Fermentasi harus segera diproses jika sudah sempurna, tak harus 12 jam,” kata Sugono. Ia menyebutkan bahwa ciri fermentasi sempurna jika warna larutan sudah cokelat. Jika fermentasi sempurna pada jam ke-9 dan penyuling membiarkan, maka minyak nilam bisa “terurai” sehingga rendemen justru turun saat destilasi. Itulah sebabnya alumnus Akademi Kimia Analis itu menyarankan penyuling yang menerapkan fermentasi idealnya berpengalaman menyuling secara konvensional. (Sardi Duryatmo/Peliput: Evy Syariefa)

Keterangan Foto :

  1. Varietas nilam tapaktuan
  2. Minyak nilam hasil sulingan Atok Fastiono yang menerapkan teknologi fermentasi
  3. Agus Hadipermana (kiri) dan Atok Fastiono, penyuling nilam di Lumajang, Jawa Timur
  4. Kolam kondensasi terbuat dari baja
  5. Kapang siap pakai (kiri) dan kapang yang masih dormansi
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img