Wednesday, August 17, 2022

Suling si Minyak Harum

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Lahan yang dibutuhkan para penyuling besar biasanya di atas 60 m2. Namun, dengan alat sederhana yang dirakit sendiri, Prayitno melakukan penyulingan di lahan seluas 2 m x 3 m. Soal singkatnya waktu, itu karena melati dihancurkan dahulu sebelum diekstrak. ‘Proses inilah yang sangat penting,’ ujar Prayitno. Dengan dihancurkan, partikel-partikel minyak pada bunga melati lebih mudah larut.

Itulah yang selama ini diabaikan para produsen minyak melati. Lazimnya mereka mengekstrak bunga dalam bentuk utuh. Oleh sebab itu waktu yang diperlukan cukup panjang. Melati direndam dalam pelarut hingga 12 jam. Itu lantaran pelarut kesulitan menembus dinding jaringan bunga yang masih utuh. Dengan teknologi Prayitno, hanya perlu waktu sejam.

Pelarut nonpolar

Prayitno menggunakan pelarut nonpolar seperti metanol, etanol, kloroform, aseton, petrolium benzen, petrolium eter, dan etilasetat berkadar 96% untuk mengekstrak melati. ‘Pelarut nonpolar hanya mengikat minyak dan tidak mengikat air,’ kata dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman itu. Dengan begitu air yang terkandung dalam bunga tidak terlarut dalam ekstrak.

Sebelum didestilasi, larutan ekstrak disaring untuk menghilangkan ampas. Meski ampas sudah dibuang, larutan itu masih mengandung lilin sehingga harus dipisahkan juga dari larutan. Caranya dengan memasukkan larutan pada tabung pemisah yang bagian dasarnya terdapat keran. Biarkan larutan beberapa saat hingga lilin mengendap. Setelah itu, buka keran sedikit demi sedikit hingga endapan lilin habis. Larutan yang tersisa lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer berkapa-sitas 2 liter.

Tabung itu direndam dalam panci penanak nasi elektrik dan di-panaskan hingga temperatur 40 – 50oC. Prayitno menggunakan rice cooker untuk menggantikan peran evaporator vakum yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. Dengan modifikasi itu ia dapat menghemat investasi. Untuk seperangkat rice cooker dan alat destilasi, Prayitno hanya merogoh kocek Rp1-juta.

Pada suhu itu minyak asiri menguap dan mengalir melewati tabung destilasi. Alat destilasi berupa tabung kaca yang di dalamnya terdapat pipa. Ke dalam tabung itu dialirkan air untuk mendinginkan uap asiri. Hasil destilasi berupa larutan concrete. Untuk memurnikannya larutan itu didestilasi ulang. Dari 50 kg bahan baku, Prayitno menghasilkan 100 g minyak melati.

Untuk mendestilasi 2 liter ekstrak, Prayitno memerlukan waktu sejam. Jangka waktu itu memang lebih lama dibanding-kan dengan evaporator vakum yang hanya 45 menit. Maklum, pada evaporator vakum suhu dan tekanan dalam tabung dapat dikendalikan sehingga pemanasan lebih efektif.

Temperatur ideal pada saat evaporasi semestinya 35oC dan tekanan 550 mmHg. Sayangnya, dengan rice cooker kedua indikator itu tidak dapat dikendalikan. Suhu pada saat evaporasi bisa mencapai 80oC. Pengalaman Prayitno, kondisi itu tak mempengaruhi kualitas minyak melati yang dihasilkan. ‘Bau melati tidak hilang. Hanya waktu saja yang lebih lama 15 menit,’ tuturnya. Meski waktu evaporasi lebih lama, energi listrik yang digunakan sebetulnya sama karena daya yang dibutuhkan rice cooker hanya 300 watt, lebih rendah daripada evaporator vakum yang mencapai 375 watt.

Skala mini

Modifikasi alat penyuling minyak asiri juga dilakukan Antonius Dian Adhy Feryanto, produsen minyak pala di Ciawi, Bogor. Alat hasil rancangan Fery cocok bagi mereka yang tertarik memulai usaha dengan skala kecil berkapasitas 30 kg bahan baku. ‘Alat itu cocok bagi pemula karena lebih murah, sekitar Rp12-juta/unit,’ ujar alumnus Teknik Kimia ITB itu. Bandingkan dengan harga mesin berkapasitas 150 kg bahan baku yang mencapai Rp90-juta/unit yang lazim digunakan produsen besar.

Alat penyuling yang dirancang Fery juga sederhana dan tak memakan banyak tempat. Tangki bahan baku terbuat dari stainless steel berdiameter 40 cm dan tinggi 60 cm. Untuk pemanasan digunakan boiler berkapasitas 50 liter air yang terpisah dengan tangki bahan baku. ‘Sebetulnya tangki bisa dirancang seperti alat kukus, cuma tekanannya tidak dapat diatur sehingga sulit mengontrol suhu,’ katanya. Temperatur ideal pada saat penyulingan 100oC dengan tekanan 1 atm atau 120oC dengan tekanan 2 atm.

Karena volume produksi lebih kecil, proses penyulingan pun menjadi lebih singkat, kurang dari 20 jam; alat berkapasitas 150 kg perlu waktu 24 – 30 jam. Konsumsi bahan bakar pun lebih irit, hanya 1 liter/jam. Itu lantaran kapasitas boiler juga jauh lebih kecil, hanya 50 liter. Kapasitas boiler untuk skala besar mencapai 400 liter sehingga kebutuhan bahan bakar 10 kali lipat.

Itulah sebabnya alat itu sangat ekonomis. Berdasarkan pengalaman Feryanto, dari 30 kg biji pala dihasilkan rata-rata 3,6 kg minyak pala. Dengan harga jual Rp450.000, omzet yang diperoleh Rp1,62-juta/sekali produksi. Setelah dikurangi biaya produksi Rp381.944/kg, total laba bersih Rp245.000/batch. Bila dalam sebulan 20 kali produksi, total pendapatan Rp4,9-juta/bulan. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img