Wednesday, August 17, 2022

Sulitnya Perbanyak si Mini

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Telur serama menjadi harapan setiap peternak. Sebab, bulatan sebesar uang pecahan Rp500 itu awal kehidupan anak ayam. Tak heran bila Hartono bersorak gembira begitu melihat induk mulai berkotek, lalu meletakkan telur di sarang. “Rasanya bangga dan senang, telur yang dinanti-nantikan sudah hadir,” kata pemilik Galeri Serama itu.

Namun, mengharapkan kedatangan si mini ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Persentase keberhasilan menetas sangat kecil. Sosok mungil, bobot 350 g diduga menjadi penyebab. Jumlah telur sedikit dan daya eram induk rendah. Fatalnya, tidak semua induk rajin bertelur.

Kegagalan lain, telur gagal dibuahi lantaran infertil. “Soal kawin serama jago. Tapi tidak semua sperma membuahi sel telur,” kata Rudiasfi e Sjofi nal, penangkar di Pondokbambu, Jakarta Timur.

Induk bermutu

Kunci sukses menternak serama sebenarnya pada pemilihan induk bermutu bagus. Asal-usul induk sangat penting diketahui penangkar pemula. Kelak darah induk bakal diwariskan pada sang anak. Jadi, sosok fi sik menjadi pilihan utama sebelum membeli.

Ayam berukuran mini terbukti menghasilkan induk cebol—kaki pendek. Kelebihan lain, menurut pengalaman Muchsinin betina pendek pun potensial untuk petelur unggul. “Pinggul lebar sehingga daya tampung telur banyak dan gampang bertelur. Betina jangkung biasanya malah menyulitkan pejantan mengawininya,” ucap Muchsinin, penanggungjawab Mega Bird Farm (MBF) di Bogor, Jawa Barat.

Selain sosok, umur induk wajib diketahui agar tidak salah membeli yang kurang produktif. Kasus itu dialami Megananda Daryono, pemilik MBF, puluhan induk asal Malaysia yang dibeli ternyata apkir. Makanya, “Belilah ke penangkar terpercaya yang bisa menjamin kualitas ayam,” kata Muchsinin.

Menurut ayah 2 anak itu lebih baik membeli induk remaja, umur 6—9 bulan dengan harapan peluang bertelur lebih besar dibanding yang sudah dewasa, umur 12 tahun ke atas. Induk muda juga dikhawatirkan menghasilkan telur muda—kerabang lembek. Maklum, organ reproduksinya belum siap sehingga kegagalan pembuahan tinggi.

Agar lebih yakin, Muchsinin selalu mengamati penampilan induk. Memang agak sulit, tapi ia selalu memilih induk berkaki abu-abu. “Betina seperti itu biasanya rajin bertelur; kuning, agak sulit,” katanya. Setelah itu barulah melihat dubur dan supit udang. Pilihlah yang lebar agar mudah bertelur.

Pejantan tangguh pun berasal dari keturunan yang jelas. Paling tidak bisa diperkirakan anak-anaknya kelak. Idealnya, umur pejantan setahun atau lebih. “Kawin dini sah-sah saja untuk perkenalan. Namun, jaga staminanya jangan sampai loyo dengan pemberian pakan bergizi,” ucap Rudiasfi e Sjofi nal.

Waktu kawin

Rudiasfie Sjofinal selalu memprogram kawin untuk meningkatkan keberhasilan pembuahan. “Pakai sistem dodokan saja karena mampu meningkatkan fertilitas hingga 60—70%,” katanya. Memang sepintas agak rumit dibanding sistem koloni dengan mencampur 1 jantan dan 3 betina. Yang penting penangkar perlu mencermati waktu tepat betina birahi. Pengalaman Rudi Pelung— sapaan akrabnya, masa birahi betina biasanya pagi dan sore. Jadi, ia selalu menjadwalkan kawin pada pukul 05.30—08.00 atau 16.00—17.30. Teknik ini juga berguna untuk mendapatkan keturunan hanya dari satu pejantan bermutu.

Keberhasilan pembuahan meningkat bila dibarengi dengan mencabuti bulu di sekitar dubur. Maksudnya agar penetrasi sempurna sehingga sperma tidak tumpah di sekitar bulu. “Kalau bisa kloaka diolesi kapas yang sudah dibasahi air hingga bersih,” kata Ngadilin, peternak di Medan, Sumatera Utara.

Pakan bergizi pun turut meningkatkan fertilitas. Pilih voer bernutrisi lengkap sebagai menu sehari-hari. Berikan pakan itu setiap hari dan selalu tersedia sepanjang waktu. Tambahkan pula vitagrit, gerusan sotong, atau pasir laut agar kerabang tebal. “Berikan toge atau cacahan sawi, d a n p e p a y a seminggu sekali untuk mencukupi g i z i s e k a l i g u s m e n d o n g k r a k l i b i d o , ” u c a p Muchsinin.

Ada benih

Kasus induk ogah mengeram sering dialami penangkar. Fatalnya, induk meletakkan telur di sembarang tempat sehingga sering terinjak hingga pecah. Membiasakan induk bertelur d i s a r a n g b u k a n pekerjaan gampang. (baca: Berharap si Mungil Lahir edisi Januari 2005).

Begitu induk berhasil mengeram bukan berarti pekerjaan sebagai penangkar serama selesai. Pastikan telur yang dierami benarbenar fertil. Keberadaan sel telur perlu dicek dengan meneropong di lampu atau senter pada hari ke-7. Bila terlihat jaringan urat darah di telur berarti ada benih; bening, gagal. Namun, kalau telur hanya tampak bintik hitam segera diambil karena benih mati. Pengecekan telur dapat diulang pada minggu ke-2.

Perhatikan kelembapan udara di sekitar kandang  saat memasuki hari ke-18 atau 21. Ini penting supaya telur menetas sempurna. Idealnya, kelembapan udara di kandang 75%. “Jika terlalu panas, segera siram air atau sediakan air di baskom, lalu letakkan di dekat sarang,” kata Johan Nasution, peternak di Bekasi, Jawa Barat.

Begitu menetas, anak ayam segera dimasukkan ke inkubator yang dilengkapi lampu untuk penghangat. Jumlah lampu sangat tergantung densitas, yang penting pastikan suhu ruangan 38oC. Dengan cara itu, induk akan tetap mengeram hingga telur terakhir pecah. (Nyuwan SB/ peliput:Dian AS)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img