Thursday, August 18, 2022

Supaya Ratu Jadi Marilyn Monroe

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bak Jeane Mortenson, setiap sri rejeki punya potensi kecantikan dengan beragam paduan warna. Hot lady mempesona dengan warna hijau dan tulang merah menyala, lady valentine dominan merah muda, sementara harlequin menarik dengan kombinasi warna jingga, kuning tembaga, dan merah muda. Memiliki aglaonema dengan tampilan warna terbaik menjadi dambaan setiap hobiis. Untuk itu dibutuhkan polesan agar sang ratu berkilau.

Sejatinya warna aglaonema ditentukan secara genetik. ‘Dulu semua sri rejeki berwarna hijau, kecuali Aglaonema rotundum yang berwarna hijau-merah,’ kata Greg Garnadi Hambali, pemulia aglaonema di Bogor. Dari persilangan rotundum dengan jenis lain, muncul aglaonema bernuansa merah seperti saat ini. Pride of sumatera dan dona karmen, generasi kedua. Yang pertama precusor, meski warna merah masih samar-samar sri rejeki hibrid berdarah merah. Belakangan muncul tiara, widuri, hot lady, legacy, lady valentine, ruby, shocking pink, dan prosperity.

Namun, meski secara genetik sama, penampilan akhir bisa berbeda. Itu karena pengaruh lingkungan seperti media, unsur hara, dan cahaya. ‘Yang kita lakukan adalah membuat aglaonema optimal menampilkan warna-warnanya. Yang merah keluar warna merahnya, yang jingga, keluar jingganya,’ tutur Handry Chuhairy, kolektor di Tangerang.

Netral

Menurut pemilik nurseri Han’s Garden itu, media memegang peranan terpenting. ‘Enampuluh persen keberhasilan merawat aglaonema ditentukan oleh media,’ ujar Handry. Media yang baik ber-pH netral antara 6,5-7, tidak boleh gampang hancur, dan porous. Saat pH netral, penyerapan unsur hara-termasuk unsur hara mikro pengontrol warna-optimal. Warna-yang diinginkan selain hijau-pun keluar.

Handry menggunakan campuran sekam bakar dan pasir malang dengan komposisi 3:1. Komposisi serupa digunakan oleh Fransiskus Kusdianto di Semarang. Sementara Adil Barus di Medan memilih media pakis cincang, sekam bakar, kompos, dan pasir malang. Pemilik Barus Florist itu percaya penambahan pasir malang memunculkan warna-terutama merah.

‘Tengok legacy yang ini, merah menyala bukan?’ tanya Barus sambil membandingkan dengan legacy yang medianya tanpa pasir malang. Sangat jelas terlihat, legacy yang ditanam tanpa pasir malang warnanya lebih kusam. Menurut Ir Edhi Sandra MS, pakar fisiologi tanaman di Institut Pertanian Bogor, pasir malang memang kaya berbagai macam mineral yang tergolong hara mikro. Termasuk mineral pendorong warna nonhijau.

Mikro lengkap

Bila media yang dipakai tepat, kunci lain mengeluarkan warna nonhijau ialah pemberian pupuk makro dan mikro secara seimbang. Di dalam komposisi pupuk, unsur besi (Fe) dan magnesium (Mg) pembentuk klorofil. Jika ingin memunculkan warna nonhijau maka unsur pembentuk klorofil dikurangi. ‘Tapi teknik ini tidak disarankan karena mengontrol Fe dan Mg lebih sulit ketimbang menambahkannya,’ kata Edhi.

Paling aman meningkatkan pembentukan plastida (bagian protoplasma berupa butiran yang mengandung zat warna, red) berwarna merah. Itu dilakukan dengan menambahkan hara mikro secara lengkap-yang berperan sebagai katalisator pembentuk plastida nonhijau-dari kuning hingga jingga. Contohnya cuprum alias tembaga memicu pembentukan plastida nonhijau. Bagi para hobiis, penggunaan pupuk daun dengan kadar hara makro dan mikro lengkap sudah memadai. ‘Yang penting hara mikro tersedia. Toh, jumlah yang dibutuhkan sangat sedikit, kurang dari 1.000 ppm,’ lanjut Edhi.

Cara lain dengan menyemprotkan pewarna dan perekat alami ke permukaan atas daun. ‘Ibaratnya seperti memberi lipstik pada bibir. Kelemahannya warna itu hanya tahan beberapa bulan. Warna cepat pudar oleh air atau sinar matahari berlebih,’ kata staf pengajar di Fakultas Kehutanan IPB itu. Pewarna itu diperoleh dari ekstrak kunyit atau dari tanaman lain yang berwarna kuning hingga merah. ‘Pemberian cukup dalam konsentrasi rendah agar tak merusak daun,’ katanya. Aplikasi dilakukan seminggu sekali sampai daun basah.

Atur cahaya

Setelah pemilihan media tepat dan pemberian hara makro dan mikro, berikutnya pengaturan cahaya. Menurut Gustian, setiap aglaonema memiliki kebutuhan cahaya berbeda agar warnanya muncul. Sebut saja, legacy dan venus. Sri rejeki itu membutuhkan cahaya 30% agar warna merah muncul optimal. Sementara jenis pride of sumatra, heng-heng, dan turunan cochin membutuhkan cahaya yang lebih temaram, 20%.

Lazimnya pekebun mendapatkan cahaya 30% dengan memasang penaung 70%. Gustian memasang penaung menempel di atas plastik UV yang menjadi atap. Pekebun lain meletakkan penaung di bawah plastik UV. Cara itu mengandung kelemahan. Cahaya yang melewati shading net intensitasnya lebih rendah karena sebagian sudah dipantulkan plastik.

Dengan pemasangan menempel di atas plastik UV, cahaya diserap lebih banyak. Plastik UV dipasang hanya untuk melindungi aglaonema dari terpaan air hujan. Perlakuan itu optimal untuk aglaonema jenis legacy, venus, lady valentine, dan tiara. Untuk jenis lain yang membutuhkan 20% cahaya, Gustian menambahkan jaring berkerapatan 50% di bawah atap. Cara sama digunakan oleh Dr Purbo Djoyokusumo di Jakarta.

Menurut Edhi, pengaturan cahaya mengoptimalkan proses fotosintesis. Fotosintesis optimal mendorong metabolisme tanaman seimbang. Pembentukan plastida nonhijau berjalan lebih baik. Sang ratu pun tampil lebih atraktif bak Marilyn Monroe. (Destika Cahyana/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img