Friday, August 12, 2022

Surabaya Snake’s Sting 2007 Kota Pahlawan Pilih Madagaskar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Boa jantan itu layak terpilih sebagai grand champion. ‘Ia istimewa, proporsi tubuh dan ekor seimbang,’ kata Slamet. Ular berumur setahun itu juga memiliki motif batik yang tegas. Itu ditunjang lagi temperamennya yang tenang. Wajar bila juri terpikat, ‘Apalagi jenis ini termasuk langka,’ ujar Syamsul Bahri, juri asal Surabaya.

Saingan terberatnya, Python reticulatus albino sebenarnya mendapat poin lebih tinggi. Kesehatannya tak kalah prima. Namun, juri memiliki pertimbangan lain. Klangenan milik Turtle World itu dinilai tidak elegan. Corak kuning di tubuh pucat dan motif tidak tajam. ‘Sebetulnya ular ini bagus, tapi kesan pertama tetap kalah dengan madagaskar,’ kata Slamet.

Sehat utama

Bertarung di kelas open boa, madagaskar dinobatkan menjadi kampiun setelah menumbangkan 9 lawan-lawannya. Perlawanan sengit datang dari jenis dumeril yang populer dan banyak dicari karena pendek, kurang dari 1 m. Juri menilai ia istimewa karena postur tubuh bulat penuh-sosok tubuh boa agak mengotak. Namun, karena populasi dumeril banyak dan tergolong mudah dirawat, juri lebih memilih madagaskar sebagai grand champion.

Open python lokal tercatat sebagai kelas yang paling banyak pesertanya. Sekitar 23 ular turun beradu cantik. Lagi-lagi klangenan milik Molking asal Surabaya terpilih menjadi terbaik. Ular hasil persilangan patola-condro itu memukau juri. Ular itu sulit dirawat, tapi Molking mampu membuat python sepanjang 105 cm itu tampil prima. Itu menjadi nilai tambah.

Pesaingnya, molurus terlempar ke posisi kedua. Warna ular milik Turtle World itu sebenarnya lebih terang, pattern-nya pun jelas dengan garis mencolok. ‘Warna dan pattern sang juara tidak jelas, itu malah membuatnya tampak unik,’ kata Syamsul Bahri.

Kelas open colubrid menobatkan jenis hognose sebagai peraih jawara. Dengan warna dasar krem dan motif totol-totol cokelat muda, ia tampak cantik. Sisik dan ekor sempurna, tanda perawatan intensif. Pembawaannya pun tenang. Pesaingnya, milk snake tak kalah cantik dengan warna belang merah putih tanpa bercak. Namun, saat disandingkan, kecantikan klangenan Vito itu kalah pesona dari hognose.

Selain ular, digelar juga lomba kura-kura dan kadal. Kura-kura pardalis mengalahkan pancake di kelas kura-kura impor. Klangenan Leo itu berukuran besar, berdiameter 30 cm. Kukunya utuh dan memiliki tempurung sempurna tanpa gores. ‘Hewan ini dipelihara bagus sehingga kesehatan, warna, dan motif baik,’ ujar Syamsul.

Meriah

Kejadian menarik terjadi saat penyerahan piala. Budi Wonosasmito dari Turtle World kewalahan memegang 3 klangenan sekaligus saat menerima piala. Maklum, ketiga klangenannya-leopard gecko, bearded dragon, dan savana-menyapu bersih piala di kelas kadal impor. Alhasil, Slamet yang ditugasi menyerahkan piala ikut membawa piala itu turun lagi.

Kontes yang digelar pada 26 Mei 2007 di Universitas Airlangga, Surabaya itu berlangsung meriah. Sebanyak 105 peserta ikut bertarung dalam 11 kelas. Acara yang diselenggarakan oleh Kelompok Minat Profesi Veteriner Pet and Wild Animal, Fakultas Kedokteran Hewan, itu diikuti klub-klub dan hobiis dari Yogyakarta, Surabaya, Mojokerto, dan Semarang. Lomba juga dimeriahkan dengan balap kura-kura. Tercatat 12 peserta ikut adu cepat di gelanggang. ‘Animo masyarakat untuk menyaksikan kontes sangat besar,’ kata Rahmen, ketua panitia kontes. (Andretha Helmina/Peliput: Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img