Friday, December 2, 2022

Surga Ketakung di Puncak Bukit

Rekomendasi

Nepenthes bicalcarata, salah satu nepenthes yang terancam punah di alam dengan ciri khas bertaring di bagian bawah tutup kantongTaman koleksi nepenthes terlengkap di negeri jiran. Dengan 100 jenis ketakung.

Mobil kabin ganda yang dikendarai Eric Leong melaju perlahan menyusuri jalan menanjak hingga kemiringan 45o dan berkelok. Setelah menempuh jarak 5 kilometer dari Kebun Raya Pulau Pinang, Malaysia, Trubus yang turut dalam mobil akhirnya sampai di puncak Bukit Bendera. Di kawasan wisata itu tampak sebuah gapura besi ditopang 2 kayu gelondongan berdiameter 80 cm yang berdiri tegak. Pada bagian atas gapura tumbuh merambat Nepenthes alata. Itulah Monkey Cup Garden. Di sanalah tempat Eric menyimpan sekitar 100 jenis nepenthes miliknya.

Begitu memasuki area taman, Trubus langsung disambut deretan tanaman paku-pakuan dan semak-semak di bagian kanan dan kiri jalan setapak yang lebarnya 2 m. Pada beberapa titik tumbuh pohon maple yang sedang mengeluarkan daun muda berwarna merah nan cantik. “Saya menanam maple setahun silam. Saya membawanya dari Jepang,” ujar Eric.

Sekitar 50 m dari pintu gerbang, barulah terlihat deretan aneka jenis periuk monyet-sebutan lain nepenthes. Eric menanam tanaman anggota famili Nepenthaceae itu di tanah di pinggir jalan setapak, bukan dalam pot. “Saya ingin memelihara nepenthes seperti habitat aslinya di alam,” ujar Eric. Nepenthes tumbuh di bawah naungan pakis dan semak paku-pakuan. Beberapa di antaranya ada yang tumbuh merambat di permukaan batang pakis. Eric menanam nepenthes di tepi jalan agar pengunjung dapat mengamati langsung aneka jenis ketakung.

Endemik

Jenis nepenthes pada deretan pertama adalah Nepenthes albomarginata. Menurut Eric, spesies itu merupakan salah satu jenis endemik yang menghuni Bukit Bendera. Ciri khas entuyut-sebutan lain nepenthes-berkantung merah marun itu adalah kelir hijau muda keputihan di bibir kantong. Dari ciri itulah muncul namanya, albomarginata, albus = putih, marginatus = batas.

Di Bukit Bendera populasi albomarginata masih tergolong banyak. Itu terbukti saat dalam perjalanan menuju ke sana, terlihat beberapa tanaman tumbuh di lereng tebing cadas di pinggir jalan. “Walaupun populasinya masih banyak, saya khawatir akan cepat habis karena tanaman banyak diburu dan kelestariannya terancam pembangunan kawasan wisata,” ujar Eric. Itulah sebabnya pada dua tahun silam ia mengumpulkan biji albomarginata di alam, lalu menanamnya di nurseri miliknya.

Sekitar 50 m dari lokasi tumbuh albomarginata, tampak gerombolan kantung bawah Nepenthes ampullaria. Beberapa kantong yang tumbuh tertutup serasah daun dari pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Eric membiarkan serasah itu berserakan. “Dengan begitu menambah kesan alami. Serasah daun nantinya menjadi sumber nutrisi organik selain dari serangga yang terjebak di kantong,” ujar pria 47 tahun itu. Ir Agustina Listiawati MP, dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman yang pencinta nepenthes menyebut ampullaria tanaman detrivora-pemakan daun-daunan.

Di sana juga tumbuh nepenthes unik yang di alam terancam punah yakni N. bicalcarata. Ciri  khas ketakung yang banyak tumbuh di Pulau Kalimantan itu memiliki “taring” di bawah tutup kantong. “Taring itu sebenarnya kelenjar nektar raksasa,” ujar Eric. Ia tumbuh di tanah yang permukaannya tertutup lumut. Menurut kolektor nepenthes di Bogor, Jawa Barat, MA Suska, habitat bicalcarata memang di dataran rendah yang lembap. Trubus pernah menjumpainya di hutan gambut basah di ketinggian 0-95 m di atas permukaan laut di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Ia tumbuh subur di dekat sumber air.

Hibrida

Di taman seluas 2 ha itu tak hanya tumbuh aneka jenis nepenthes spesies. Sebagian besar justru ketakung hasil perkawinan silang, baik alami, hibrida dari beberapa nurseri tanaman hias di Pulau Pinang, maupun hasil silangan Eric. Maklum, untuk memperoleh nepenthes spesies ia mesti berburu ke habitat aslinya di alam. “Di alam juga belum tentu mendapatkannya,” katanya. Di habitatnya kantong semar kerap tumbuh berbarengan sehingga terjadi perkawinan silang di alam.

Salah satu nepenthes hibrida yang istimewa adalah silangan antara N. veitchii dan N. platychila. Penampilan ketakung itu lebih dominan menggambarkan karakter veitchii. Ciri khas nepenthes yang adaptif di dataran rendah hingga tinggi itu terlihat dari bentuk kantong yang bulat silindris, tapi lebih ramping. Ciri khas lainnya terlihat pada bibir kantong alias peristome yang lebar dan bergelombang dengan corak garis-garis marun. Sementara platychila hanya mewariskan totol-totol cokelat di sekujur kantong.

Nepenthes hibrida lain yng juga elok merupakan hasil perkawinan silang antara N. ventricosa dengan N. ephippiata. Pada monkey cup-sebutan lainnya-silangan itu karakter ventricosa lebih dominan. Itu terlihat dari bentuk kantong berbentuk gelas berwarna merah dan nyaris tidak bersayap. “Guratan sayap muncul karena warisan darah ephippiata, tapi tidak sampai keluar sayap,” kata Eric. Sementara ephippiata menitiskan bentuk peristome yang agak lebar dan bergelombang. Hanya saja warna peristome mengikuti warna ventricosa yang berwarna merah cerah.

Rawa buatan

Untuk menambah kesan habitat asli ketakung di alam, Eric menyulap cekungan di permukaan tanah menjadi seperti rawa buatan. Ia menggenanginya dengan air lalu membiarkan semak-semak tumbuh begitu saja bersama beberapa jenis nepenthes. “Rawa buatan berperan sebagai sumber air untuk menjaga kelembapan yang dibutuhkan oleh nepenthes,” ujarnya. Agar tetap dapat dilintasi pengunjung, Eric memasang jembatan besi.

Eric pun menambahkan beberapa ornamen seperti tiang-tiang beton yang permukaannya dibuat sedemikian rupa menyerupai batang kelapa. Di ujung tiang tumbuh kadaka. Tiang-tiang itu disusun di bagian tengah rawa yang ditimbun batu-batu kecil. Sementara batu-batu besar ditata berderet rapi mengelilingi cekungan rawa. Di bagian tepi taman tumbuh aneka jenis bromelia, pakis, dan talas-talasan.

Taman koleksi nepenthes itu wujud dari mimpi Eric untuk mengumpulkan koleksi nepenthes terlengkap pada 3 tahun silam. Ia tertarik mengoleksi periuk kera setelah melihat tanaman itu dijajakan di salah satu pusat perbelanjaan di Pulau Pinang. “Kalau diperdagangkan seperti itu khawatir mendorong perburuan nepenthes di alam,” katanya. Beruntung seorang kolega membatalkan pembangunan sebuah rumah peristirahatan di Bukit Bendera. Lokasi itulah yang Eric sewa untuk membuat taman koleksi nepenthes seluas 2 ha. Eric berharap ketakung tetap lestari di Bukit Bendera. (Imam Wiguna)

Keterangan Foto :

  1. Nepenthes bicalcarata, salah satu nepenthes yang terancam punah di alam dengan ciri khas bertaring di bagian bawah tutup kantong
  2. Hamparan kantung bawah Nepenthes ampullaria yang tumbuh di atas permukaan serasah daun
  3. Nepenthes albomarginata, salah satu nepenthes endemik Pulau Pinang dengan ciri khas berkelir putih di bawah bibir kantong
  4. Nepenthes hasil persilangan antara N. veitchii dan N.platychila. Penampilannya lebih dominan karakter veitchii
  5. Nepenthes hasil persilangan antara N. ventricosa dengan N. ephippiata. Pada silangan itu karakter ventricosa lebih dominan
  6. Eric Leong bersama Nepenthes truncata yang berkantung raksasa. Ia mengoleksi 100 jenis nepenthes dan menanamnya di Bukit Bendera, Pulau Pinang, Malaysia
Previous articleJuara Dua Dunia
Next articleSang Ratu Pelipur Rindu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img