Wednesday, August 17, 2022

Susahnya Cari Pakan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Anggota keluarga Bovidae itu beralih tempat mencari pakan bukan atas kehendaknya. Semua gara-gara kehadiran tanaman pengganggu yang menghancurkan vegetasi sumber pakan. Puluhan ribu batang kirinyuh Chromolaena odorata menutupi seluruh sudut feeding ground-area pakan-seluas 3 ha di Pringtali. Tumbuhan yang dibiarkan tumbuh rapat hingga mencapai tinggi bahu orang dewasa itu membuat alang-alang Imperata cylindrica, rumput pahit Axonopus compressus, bayondah Isachne milliacea, dan babadotan Ageratum conyzoides-semua pakan kesukaan banteng-sulit menangkap sinar matahari untuk tumbuh.

Akibatnya mudah ditebak. Banteng-banteng itu merelokasi tempat mencari pakan secara swadaya. ‘Itu terjadi karena banteng juga tidak suka memakan kirinyuh,’ ujar Ir R. Garsetiasih MP, peneliti banteng dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Gunungbatu, Bogor. Selama ini kirinyuh dikenal mujarab sebagai insektisida nabati. Jadi wajar banteng tak sudi menyantapnya, salah-salah mereka menjadi mabuk.

Kebun-kebun masyarakat yang turun-temurun ada di dalam kawasan TNMB menjadi sasaran tembak. Tengok saja pucuk daun muda kopi, tongkol jagung, dan buah muda kakao ditelan setiap hari. ‘Bagi masyarakat kehadiran banteng sudah dirasakan mengganggu,’ ujar Garsetiasih. Trubus menyaksikan pada saat hari-hari menjelang tanaman dipanen, beberapa lampu kelap-kelip hingga pagar kayu dipasang untuk menghalau banteng itu. Namun, sejauh ini efeknya tidak terlalu kentara.

Ir Herry Subagdiadi MSc menuturkan, pihak TNMB sejak lama kesulitan memberantas gulma itu. ‘Kalau dibabat dalam waktu sebentar saja segera tumbuh lagi,’ kata kepala TNMB itu. Parahnya kalau didiamkan terus-menerus padang savana itu bersalin rupa menjadi hutan lagi.

Di lokasi lain, Taman Nasional Alaspurwo (TNAP), Jawa Timur, gangguan gulma itu masalah serius. Banteng-banteng di padang penggembalaan Sadengan seluas 80 ha semakin hari sulit mendapat rumput hingga mereka perlu menelusup jauh ke dalam hutan. Lima belas tahun lalu, produktivitas rumput yang dihitung dari selisih produksi di musim kemarau dan penghujan berkisar 87,45 kg/ ha/hari. Berselang tiga belas tahun kemudian, produksinya hanya 27,196 kg/ha/hari. ‘Yang terlihat kini hampir 90% padang penggembalaan tertutup kirinyuh dan eceng-eceng,’ kata Banda Nurhaya, koordinator PEH TNAP.

Daya dukung habitat di TNAP dianggap masih mencukupi kebutuhan pakan, sehingga banteng tidak bermigrasi ke luar kawasan. Kebutuhan pakan setiap banteng rata-rata 24,53 kg/hari. Sementara total jenderal pakan yang tersedia di TNAP dari 3 ekosistem di padang penggembalaan, hutan dataran rendah, dan hutan tanaman mencapai 132.000 kg/tahun. Jumlah itu dapat menghidupi sekitar 4.772 banteng. Padahal, populasi banteng di TNAP hingga 2005 hanya sekitar 300 ekor.

Menurut Ir MZ Budiono, kepala TNAP, Sadengan kini terus dibenahi. Tumbuhan kategori invasif-mengganggu pertumbuhan tanaman lain-dikikis dengan cara dibabat. Beberapa bak semen berukuran 1 m x 4 m dibuat di beberapa titik untuk tempat minum dan mengasin. ‘Fungsi padang sebagai tempat mencari pakan harus dikembalikan. Selain itu juga mempermudah wisatawan untuk

melihat banteng,’ katanya.

Di luar dugaan banteng juga menyukai kulit batang aneka pohon sebagai pakan selingan. Sengon Acacia parasiantes, johar Cassia seamea, dan gamal Gliricidia sepium, adalah beberapa jenis pohon yang dipilih. Sejauh ini belum diketahui manfaatnya selain diduga turut memperlancar metabolisme tubuh. Namun, bagi banteng di mana pun ia tinggal, rumput tetap menjadi makanan paling enak. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img