Wednesday, May 13, 2026

Sustainabilitas Perkebunan Sawit: Benarkah Bisa Ramah Lingkungan?

Rekomendasi
- Advertisement -

Sawit terus menjadi sorotan global karena isu lingkungan mulai dari konversi hutan hingga emisi gas rumah kaca. Corley dan Tinker dalam The Oil Palm menyatakan bahwa produktivitas sawit yang tinggi justru berpotensi mengurangi tekanan ekspansi lahan global. Syaratnya jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan. 

Isu deforestasi menjadi kritik utama terhadap industri sawit. Carlson dan rekan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences/PNAS menegaskan bahwa ekspansi sawit pada 1990—2010 berkontribusi pada hilangnya hutan dataran rendah di Sumatra dan Kalimantan. Namun kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) telah mengubah pola ekspansi menjadi pembangunan kebun pada lahan terdegradasi. Analisis Gaveau dan rekan dalam Scientific Reports menunjukkan percepatan adopsi NDPE perusahaan besar sejak 2015 yang terbukti menurunkan angka deforestasi di konsesi bersertifikat.

Dari sisi emisi karbon, pengelolaan lahan gambut merupakan isu krusial. Murdiyarso dan rekan dalam Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change melaporkan bahwa drainase gambut untuk budi daya sawit melepaskan emisi hingga 55 ton CO₂/ha/tahun. Oleh karena itu, praktik konservasi seperti menjaga tinggi muka air tanah dan menutup kanal direkomendasikan.

Indonesia menerapkan sertifikasi ISPO, sedangkan pasar global mengandalkan RSPO. RSPO mewajibkan perlindungan area High Conservation Value (HCV) dan pengelolaan limbah yang ketat. Studi Schouten dan Glasbergen dalam Ecological Economics menunjukkan bahwa sertifikasi RSPO meningkatkan transparansi rantai pasok dan menurunkan risiko konversi hutan. Sementara ISPO berdasarkan regulasi Pemerintah Indonesia diperkuat sejak 2020 untuk memastikan kepatuhan terhadap perlindungan lingkungan dan sosial.

Praktik perkebunan sawit berkelanjutan berkembang pesat. Buktinya ada pemanfaatan limbah cair (POME) menjadi biogas, penggunaan tandan kosong untuk mulsa, hingga pemupukan presisi berbasis tanah–daun. Henson dalam Journal of Oil Palm Research mencatat bahwa pemanfaatan limbah padat meningkatkan kesehatan tanah dan mengurangi ketergantungan pupuk kimia. Sementara Meijaard dan rekan dalam Biological Conservation, menunjukkan bahwa integrasi agroforestri dan koridor satwa di kebun sawit mampu memperbaiki keanekaragaman hayati tanpa menurunkan produksi. (Naya Maura Denisa)


Artikel Terbaru

Pameran Tanaman Hias Internasional Terbesar FLOII Expo 2026 Resmi Diluncurkan

Kabar gembira bagi Anda para pencinta flora tanah air. Pameran tanaman berskala internasional, Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026,...

More Articles Like This