Monday, August 15, 2022

Suttikarn Jiamrattanaprateep 5-juta Biji dari sang Kontraktor

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Teks bergerak di layar komputer saat membuka situs hussadee adenium seperti menegaskan, produksi biji andalan nurseri itu. ‘Adenium seeds center of Thailand,’ begitu katanya. Rasanya itu bukan sekadar isapan jempol. Sejak setahun silam Trubussudah mendengar nama Suttikarn Jiamrattanaprateep dari beberapa pemain adenium tanahair.

‘Saya mau beli biji dari Mister Koong,’ ujar Hartono Purnomosidi pada Rosy Nur Apriyanti, wartawan majalah ini, pada November 2006. Sayang waktu arek Surabaya itu mengorder, stok tengah kosong. Nama Koong juga disebut-sebut Tjandra Ronywidjaja di Ponorogo, Rudi Hartono di Yogyakarta, dan Handhi di Tangerang.

Rapi

Kesempatan melanglang ke negeri Siam pada akhir Januari 2007 tak disia-siakan. Berbekal informasi awal, Trubusmenghubungi kenalan di sana. ‘Oh, ini sih teman dekat saya,’ tutur Pramote Rojruangsang alias Tjiew, penyilang aglaonema. Koong, nama pendek Suttikarn Jiamrattanaprateep, dan Tjiew bersahabat dekat sejak puluhan tahun silam.

Berkendaraan van berwarna perak, Trubustiba di sebuah nurseri di tepi jalan desa, 1,5 jam dari Bangkok. Dua batang kayu setinggi 3 m yang dihubungkan pilar selebar 2 m terlihat di dekat jalan masuk. Di bawah pilar menggantung lempengan kayu bertuliskan ‘Hussadee Adenium’.

Di sebelah kiri lapangan terbuka untuk parkir, tampak deretan rak bertiang beton dengan alas asbes. Di atasnya berbaris rapi pot-pot pastik berwarna hitam beragam ukuran. Tanah lowong yang memisahkan antarrak dilapisi batu koral. Kebun jadi terlihat apik. Di gudang terbuka beratap seng terlihat bonggol-bonggol superbesar yang ditidurkan di atas rak. Rupanya adenium-adenium berukuran raksasa itu tengah dikeringanginkan sebelum ditanam ke pot.

Di sisi sebelah kanan, berbaris tanaman raksasa. Trubusmelihat Adenium somalense berbatang kehitaman setinggi orang dewasa. Ada juga pot terakota dengan mawar gurun yang tengah mekar bercorak merah dengan kelopak ganda. Itu dancing lady alias dokxon, adenium berbunga tumpuk. Di barisan tanaman besar itu, Koong menyambut.

81 rai

‘Luas kebun ini 20 rai (setara 3,3 ha, red),’ tuturnya. Ayah 2 anak itu masih punya kebun lain-satu di Nongsua, sisanya di Provinsi Ratchaburi, dan Provinsi Uttaithaini-serta 2 showroom. Total jenderal luasnya mencapai 81 rai. Di kebun-kebun itu, Koong mengawin-ngawinkan adenium. Dari sanalah sumber produksi biji didapat. Total jenderal produksi pada 2006 mencapai 5-juta biji. Jenisnya obesum, arabicum, somalense, socotranum, oleifolium, swazikum, dan bohemianum. Paling banyak produksi obesum, hingga 75%.

Biji-biji itu untuk memasok permintaan konsumen yang masuk ke situsnya. Sebagian lagi dipasok ke pedagang-pedagang perantara. ‘Permintaan paling banyak dari Indonesia,’ ujar Nongnapat Baltip, yang menangani pemasaran. Saat Trubusbertandang, Poob-sapaannya baru mendapat email-dari seorang pembeli di Jakarta.

Tidak semua biji Koong lepas. Silangan-silangan istimewa dibesarkan sendiri untuk mendapat varian baru. Pantas di halaman belakang kantor terlihat pot-pot yang dipisahkan menyendiri. Rupanya itulah varietas-varietas baru hasil silangan pria 50 tahun itu. Salah satunya adenium berbunga besar dengan paduan warna petal separuh kuning separuh putih. Di tanahair, warna kuning incaran para hobiis. Di situ juga ada adenium berwarna dasar merah dengan tepi merah muda yang belum pernah dilihat. Tepinya sedikit bergelombang. Koong percaya, munculnya jenis baru melanggengkan konsumen.

Magic

Trubusjadi teringat pada Rudi Hartono, penggemar adenium di Yogyakarta. Pengusaha bahan bangunan itu rela menyewa mobil van seharian penuh khusus untuk mencari kebun Koong. ‘Kata teman tempatnya jauh, tapi di sana banyak adenium yang unik-unik,’ katanya. Rudi pasti tak kecewa lantaran di kebun memang ada jenis-jenis antik. Sebut saja adenium berdaun keriting, tebal, dan mengkilap. Bunganya kecil-kecil, bulat, berwarna merah muda cerah. Shabi-star berjuluk plastik itu mutasi dari jenis obesum.

Mutasi yang paling istimewa boleh jadi adenium berdaun kecil-kecil, lancip, berwarna merah, dengan cabang banyak. Sosoknya juga kuntet. Di pot 15 cm tingginya hanya sejengkal. ‘Ini magic red dragon,’ kata Koong. Semula mawar gurun itu bersosok bongsor. Koong membawa red dragon-namanya-ke laboratorium radiasi di Kasetsart University, Bangkok. Hasilnya, anggota famili Apocynaceae itu jadi kontet.

Kebun jeruk

Dua puluh tahun bergelut di sana, pria berkacamata itu menuai bosan. ‘Sebetulnya saya justru suka tanaman,’ katanya. Mulailah Koong memulai usaha sendiri sembari tetap menyetir bisnis keluarga. Yang dipilih usaha mengebunkan jeruk yang tengah naik daun. Sayang cerita manis jeruk tak bertahan lama. Serangan penyakit, air tanah yang tercemar, dan harga turun membuat Koong mesti banting setir. Dessert rose itu jadi bisnis berikutnya.

Pilihan Koong tidak salah. Dalam 10 tahun kebun berkembang pesat. Penawaran hasil kebun melalui situs pribadi membuat jaringan pemasaran melintas negara. Mereka meminta biji, seedling, tanaman besar berbunga cantik, tanaman besar berbonggol indah, hingga jenis-jenis antik. Dari Nongsua, sang kontraktor membentang pasar. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img