Monday, August 8, 2022

Tabungan Protein

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Belum lagi buah-buahan hutan, ada salam, duwet, buni, salak, rukem, dan umbi-umbian yang disediakan gratis oleh alam. Jadi bagaimana kita bisa kelaparan? Bisa jadi justru mati terlalu kenyang. Apalagi kalau sempat membawa bekal garam dapur satu bata. Semua jadi lezat, sungguh nikmat dunia. Apalagi kalau pandai menangkap kijang dan ayam hutan, pasti gendut dan sehat. Kalau bukan memanggang bekisar, ya pasti telurnya.

Setelah dewasa pun hal itu selalu terulang. Setiap kali pulang dari Nanggroe Aceh Darussalam (sebelum tersapu tsunami, terutama), kolesterol dan asam urat selalu meningkat. Di Aceh, orang bisa menikmati kepiting dan udang besar-besar dengan mudah dan murah. Tuhan telah melimpahkan berkah makanan melimpah ruah di daerah tropis yang supermakmur dan superindah.

Oleh karena itu sungguh saya ingin menangis. Mengapa sampai begitu banyak anak menderita busung lapar, kurang gizi, bahkan harus meninggal dalam keadaan lapar. Di Yahukimo, Papua, pada akhir Desember 2005, bahkan 80 orang lebih tewas dengan perut kosong. Apakah para pemimpin dan guru bangsa tidak mengajar mereka menikmati hidup? Tidak ada upaya untuk menciptakan cadangan pangan? Atau karena bencana alam, semisal banjir, gempa bumi, topan, dan hujan es tidak tertanggulangi?

Alasan paling kuat, kelaparan timbul akibat bencana alam yang besar dan kelalaian manusia. Bencana buatan sendiri, seperti pembakaran hutan, pemogokan industri, dan kerusuhan sosial. Namun, untuk mencegah kelaparan akibat kekacauan politik pun ada kiatnya. Ketika terjadi krisis ekonomi 1998, misalnya. Semua tahu, Sultan Hamengku Buwono X melepaskan ratusan, bahkan ribuan bibit ikan di sawah-sawah dan irigasi. Orang juga menanami lahan-lahan kosong dengan sayur-mayur dan ubi.

Bila terpaksa, rakyat bisa menangkap ikan dan mengkonsumsi cadangan makanan apa saja di sekitarnya. Bisa ternak, bisa jamur, bisa ikan yang dikeringkan, bisa buah-buahan yang diawetkan, biji-bijian, bisa hasil budidaya pangan, pemuliaan tanaman dan hewan, maupun hasil-hasil fermentasi. Ingat: ada tapai ubi, tapai pisang, dan berbagai minuman keras.

Ketika tentara Jepang datang pada 1942 dan menjarah makanan rakyat, berbagai upaya menanggulangi kelaparan juga dilakukan. Para peternak babi di Bojonegoro melepaskan ternak mereka ke hutan. Daripada dirampas, lebih baik dilepas ke alam bebas, di Pegunungan Kapur Utara. Benar saja, babi-babi itu bercampur dengan celeng (babi hutan) dan menghasilkan keturunan yang konon paling lezat dagingnya. Hingga akhir 1960-an, cadangan protein dan lemak hutan paling andal tersedia di sana.

Lemak dan anggur

Kalau Anda tidak suka ikan sardin, dapat disumbangkan untuk yang membutuhkan. Tentu saja, kalau Anda merasa ikut prihatin dan menolak untuk bersedih hati. Namun, Anda merasa sedih atau tidak, kelaparan terus menjadi berita setiap tahun. Bukan hanya di Yahukimo, daerah pegunungan tinggi kawasan Papua yang dingin dan mencekam, tapi juga di kawasan Barito Utara, Muarateweh, Kalimantan, yang hangat sentosa. Itu jadi berita besar pada 2002. Bukan hanya di daerah terpencil, tapi juga di kawasan perkotaan.

Selama lima tahun ini, kita melihat dan mendengar gejala kelaparan (dalam bahasa pejabat: indikasi kurang gizi) seolah hanya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada yang karena tidak kuat membeli beras. Ada juga yang karena kegiatan melaut (perikanan) dan pertaniannya jadi kacau, dilanda perubahan iklim dan bencana alam. Namun, secara sederhana, dalam banyak kasus sebabnya hanya dua: nasib sial dipadukan dengan kemalasan dan sikap “masa bodoh”.

Padahal, dengan berbagai inovasi hal itu dapat diatasi. Buah-buahan yang nyaris tidak termakan karena terlalu banyak atau karena terlalu masak, dapat dijadikan dodol dan minuman. Anggur yang terlalu masam dan tidak laku dijual sebagai buah, dapat diolah menjadi anggur minuman. Forum Kerjasama Agribisnis, bekerja sama dengan para pedagang buah di Pasar Induk, pada awal 2006 memperkenalkan anggur pisang, anggur markisa, anggur jambu mete, dan seterusnya.

Berbagai makanan mengandung alkohol ini pada gilirannya akan menjadi tabungan menu berkalori tinggi yang sangat bermanfaat bagi manusia. Itulah sebabnya, kita tidak boleh menganggap rendah tuak, peuyeum, air tapai ubi maupun beras ketan, yang dibuat secara tradisional. Itu sebagai bukti unggulnya kebijaksanaan lokal Toraja, Tapanuli, Minahasa, Bali, dan suku mana saja.

Kebutuhan akan minuman berenergi tinggi, tentu bukan hanya dicukupi melalui tuak beras, aren, atau fermentasi ubi. Bermacam buah liar maupun yang sudah dimuliakan, juga menjadi alternatif. Dengan menjadikan minuman, buah-buahan dapat dikonsumsi lebih lama. Melalui formula sederhana, setiap buah dapat dijadikan jus dan anggur. Namun, dengan sentuhan lebih awal, hampir setiap buah dapat diolah menjadi keripik, manisan, asinan, dan buah-buahan kering. Bahkan apel yang terlalu muda, terlalu kecil, dan terlalu masam, dapat dikeringkan menjadi keripik yang lezat dan tahan lama.

Tantangan dalam meningkatkan cadangan pangan memang terletak pada pengawetan, pengemasan, distribusi dan pemasarannya. Untuk minuman yang mengandung alkohol, termasuk tapai ketan, beras maupun ubi hasil fermentasi, daya tahan dapat meningkat dengan sendirinya. Sedangkan untuk daging, ikan, dan umbi-umbian (sebagai karbohidrat) perlu penanganan tersendiri.

Simpan makanan

Sistem lumbung padi dan jagung tradisional yang terkenal bagus (meskipun kurang efisien) mulai ditinggalkan. Jarang sekali kita melihat rumah petani dengan dinding dilapisi jagung dan padi. Kebutuhan uang tunai membuat rakyat ingin cepat-cepat menjual hasil panen. Beberapa buah dan sayur dijual sebelum layak petik. Jual awal dengan harga super murah itu dikenal sebagai sistem ijon (hijau-an) karena dihargai ketika buah masih sangat muda, bahkan pada saat pohon berbunga.

Itulah awal dari kemiskinan dan runtuhnya budaya menabung di kalangan masyarakat dan keluarga. Pada tingkat yang lebih buruk, ketidaksabaran merawat, memelihara, dan memanen sendiri berujung pada kelaparan. Dimulai dengan lapar uang tunai, akhirnya menjadi lapar segalanya. Para pendamping petani dan nelayan mencatat, kebiasaan menjual cepat hasil panen atau tangkapan (ikan oleh nelayan) mendorong berkembangnya budaya utang.

Utang timbul bila manusia ingin menikmati sesuatu yang tidak atau belum dimilikinya. Masyarakat secara umum seolah terbiasa melihat makanan sebagai bahan konsumsi. Pangan tidak lagi dilihat sebagai tabungan yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diproses, tetapi ingin segera dikonsumsi secepatnya. Di lain pihak, ada juga upaya mempertahankan makanan sebagai barang dagangan.

Jalan pintas meningkatkan daya tahan makanan ini, secara gegabah ditempuh melalui penggunaan boraks dan formalin. Itulah yang menimbulkan heboh luar biasa pada awal 2006. Berbagai pengusaha tahu dan mi basah yang tidak menggunakan formalin pun terkena imbas dan terpaksa merumahkan karyawan akibat terancam bangkrut. Akibat yang paling buruk, sebagian masyarakat mendapatkan trauma baru, yaitu merasa takut mengkonsumsi masakan yang mengandung formalin. Daging, susu, bakso, mi basah, dan tahu dikhawatirkan lebih banyak yang menggunakan formalin daripada yang tidak. Padahal jelas tidak demikian. Pepatah lama memang sulit dihapus. “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Karena formalin setitik, rusaklah selera makan tahu, mi, dan bakso di Indonesia. Jelas tidak boleh demikian.

Untuk menjamin keamanan pangan, seyogyanya tiap keluarga Indonesia memilih cara menabung atau menyimpan cadangan makanannya. Di Nusa Tenggara Timur, jagung dan kacang-kacangan secara turun-temurun berdampingan dan dibarterkan dengan ikan asin kering. Di Papua dan Maluku, tepung sagu juga dapat disimpan cukup lama. Juga dilengkapi dengan sumber protein, yaitu ulat sagu yang terkenal lezat, nikmat, sehat.

Ke rumah

Di wilayah Indonesia barat, terutama di sepanjang pantai Sumatera dan Jawa, cadangan protein sangat bervariasi mulai dari ikan asin, telur asin, lemak, dan kulit sapi maupun kambing yang dikeringkan. Industri cakar ayam goreng hingga kerupuk kulit, abon ikan dan udang mencukupi kebutuhan lokal maupun diekspor. Terasi, petis, dan berbagai bumbu yang merupakan konsentrat protein pun diproduksi secara kecil-kecilan sebagai industri rumah tangga maupun pabrikan.

Tantangannya sekarang, bagaimana menyebarluaskan teknologi sederhana pengawetan dan penyimpanan protein hewani maupun nabati hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Bila terjadi musibah, misalnya angin topan menggasak ladang jagung di Flores, sanak saudara kita di sana bisa dibantu dengan menu lain yang juga sudah mereka kenal. Alangkah sedihnya bila kalangan yang menderita kelaparan harus semakin menderita karena tidak pernah mengkonsumsi beras, apalagi ikan, hanya karena terbiasa makan ubi semata. Sungguh ironis, bila di satu tempat cadangan abon, telur, dan daging (dendeng maupun kalengan) berlimpah, sementara ada seratus kabupaten lebih tidak punya pengalaman menikmati, apalagi menyimpan protein. Pada akhirnya kita mesti pulang, dan melihat bagaimana cadangan protein di rumah sendiri.

Meskipun tidak punya kulkas, protein dapat disimpan dan selalu diperbarui. Jadi, mohon diperiksa sekarang: apakah di dapur masih ada teri kering, dendeng, abon, telur asin, dan kerupuk mentah yang dapat digoreng kapan saja?

Ketahanan makanan Indonesia terpulang pada kondisi keluarga masing-masing. Kalau setiap orang, baik ayah, ibu, anak-anak, maupun paman, bibi, kakek, dan nenek suka memeriksa dapur dan melihat cadangan pangan untuk keluarganya, insya Allah bencana kelaparan dapat dicegah. Sekarang, setiap orang dapat menyimpan mi kering dan abon sampai berbulan-bulan. Jadi, kalau tidak dapat menabung uang, coba saja dibelikan susu bubuk, daging kaleng, atau makanan apa saja yang dapat disimpan baik oleh keluarga pedesaan maupun perkotaan. Sudah waktunya setiap warga Indonesia sadar gizi, terutama melek dan akrab dengan cadangan protein untuk mempertahankan kehidupan. ***

*)Eka Budianta, sastrawan, direktur eksekutif Tirto Utomo Foundation, kolumnis majalah TRUBUS.

Previous articleUlar Palsu
Next articleVol. 03 Adenium
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img