Wednesday, August 10, 2022

Tahan 40 Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Meski lunak, kayu jabon tahan hingga 40 tahun. Kuncinya pengawetan.

 

Ardha Primatopan di Kendal, Provinsi Jawa Tengah, memesan mebel berbahan kayu jabon pada awal 2012. Ia ingin melihat langsung penampilan hasil olahan kayu jabon. Ternyata, “Para perajin menyukai kayu jabon lantaran ringan, serat kayu tegas, dan liat sehingga tidak mudah patah,” kata Ardha. Meski demikian, perajin di Semarang, Jawa Tengah, itu menilai kayu kadam itu rentan serangan kumbang bubuk dan rayap.

Kelembapan tinggi juga “musuh” jabon. Itulah sebabnya para perajin lebih memilih kayu lain, seperti jati, mahoni, dan kayu nangka. Jabon memang tergolong kayu lunak dengan bobot jenis 0,42. Bandingkan dengan kayu keruing (0,61), jati (0,72), dan ulin (0,88). Toh, kayu jabon menjadi idola pekebun lantaran cepat tumbuh, adaptif, dan relatif toleran gangguan hama dan penyakit.

Rendam

Ardha yang juga membibitkan jabon memprediksi, “Kelak kayu jabon banyak terdapat di pasar sehingga akan menjadi bahan berbagai peralatan.” Sebab, tiga tahun terakhir memang banyak pekebun yang menanam pohon anggota famili Rubiaceae itu. Artinya, 2-3 tahun mendatang banyak pekebun menuai hasil. Keruan saja pengawetan menjadi wajib untuk memperpanjang masa pakai peralatan berbahan kayu jabon.

Cara pengawetan paling konvensional dengan merendam kayu dalam lumpur sungai atau lumpur sawah. “Waktunya bisa sampai setahun lebih,” kata Prof Dodi Nandika guru besar Fakultas Kehutanan IPB. Tujuannya membilas sisa zat pati dalam batang. Pati itulah yang mengundang kumbang pelapuk untuk hinggap dan meletakkan telur. Maklum, perusak utama bukan kumbang dewasa, melainkan larva yang baru menetas. Namun, perendaman sampai waktu tertentu malah menyebabkan pori-pori kayu tertutup sehingga mempersulit pengecatan.

Saat ini teknik perendaman masih menjadi salah satu prosedur pengawetan kayu pascatebang, tapi tidak lagi dilakukan di sungai maupun kolam lumpur. Pengguna merendam kayu dalam cairan pengawet dengan cara dingin, panas, maupun campuran keduanya. Pada cara rendaman dingin, cairan pengawet diresapkan ke dalam pori-pori kayu seiring waktu. Cara itu mudah dan murah, tapi perlu waktu lama dan hasilnya kurang terukur. “Bisa jadi bahan pengawet belum meresap sempurna tapi kayu keburu diangkat,” kata Dodi.

Cara itu diperbaiki oleh teknik rendaman panas, dengan memanaskan kayu dalam tandon air hingga hampir mendidih. Cara itu lebih cepat: hanya perlu 2-3 hari untuk memasukkan bahan pengawet dalam tumpukan 20 m3 kayu. Namun, cara itu juga lebih mahal dan sulit lantaran mesti bolak-balik mengisikan cairan pengawet dalam tandon.

Itu sebabnya hadir cara terakhir: campuran dingin-panas. Prinsipnya sederhana: memanaskan kayu dalam air mendidih selama beberapa jam hingga mengeluarkan gelembung, lalu memasukkan bahan pengawet sambil menghentikan pemanasan. “Bahan pengawet akan tersedot masuk pori-pori seiring proses pendinginan,” kata Arinana MSi, dosen teknologi pengawetan kayu dan bambu di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Dengan cara itu, pengawetan kayu tuntas dalam waktu kurang dari setengah hari tapi bisa awet 40-50 tahun.

Hemat

Sejatinya, jabon tidak terlalu buruk soal keawetan. Soal tahan cendawan, pohon kadam itu termasuk kelas awet IV-V. Sementara terhadap rayap kayu kering tergolong kelas awet II. “Artinya jabon pascatebang mudah rusak oleh cendawan tapi tidak terlalu disukai rayap,” kata Dodi. Sayang, kandungan jabon sehingga tidak disukai rayap belum diketahui.

Meski demikian, tidak disukai bukan berarti tidak akan diserang. Saat tidak ada pilihan lain, rayap berpotensi menyerang juga. Dodi mencontohkan kini rayap menyukai bahan gipsum yang terbuat dari semen. Harap mafhum, secara alami rayap berfungsi menguraikan serasah dan sampah di hutan sehingga mampu beradaptasi dengan jenis makanan baru. “Jangankan kayu, yang bukan kayu saja dihantam,” kata Dodi.

Sarif pernah menguji keawetan berbagai jenis kayu terhadap kumbang bubuk. Ia memasukkan potongan berbagai jenis kayu, antara lain balsa, gmelina, jabon, karet, mahoni, dan sengon ke dalam akuarium tanpa air berukuran 80 cm x 100 cm x 50 cm. Ia juga memasukkan bambu betung sebagai pembanding. Kemudian ia memasukkan kumbang bubuk dewasa ke akuarium itu.

Bambu menjadi pilihan pertama. Dua hari kemudian kumbang bubuk itu menggerogoti batang bambu sehingga tampak berlubang-lubang. Berikutnya, kumbang menyerang kayu karet dua  pekan berselang. Sementara jabon sama sekali belum tersentuh hingga kini bulan ke-6. Artinya, jabon tidak disukai rayap dan kumbang bubuk-berkebalikan dengan anggapan para perajin mebel di Semarang.

Kini Sarif tidak lagi melakukan pengawetan pascatebang lantaran kayu langsung masuk mesin pengupas. Menurut Priyono dari PT Serayu Makmur Kayuindo, produsen kayu lapis berbahan sengon dan jabon di Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, industri kayu lapis memasukkan zat pengawet ke dalam lem untuk merekatkan kayu lapis. Dengan demikian, tidak perlu proses pengawetan khusus. “Menghemat biaya dan waktu,” kata Priyono. Yang pasti, umur pakai kayu bisa mencapai 40 tahun dengan biaya minimal. (Argohartono Arie Raharjo)


Keterangan foto :

  1. Jabon tidak disukai rayap dan kumbang bubuk
  2. Mebel jabon: ringan, awet, kuat
  3. Pada industri kayu lapis, bahan pengawet dicampurkan dalam lem
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img