Wednesday, August 10, 2022

Tahan Rongrongan Bulai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jagung DK 85, potensi 13 ton per hektarWalau penyakit bulai menyerang, Saddin Kasio panen 8,1 ton jagung pipil di lahan 7.582 m2.

Pilot pesawat mengirim pesan Mayday… mayday… kepada pengatur lalulintas udara ketika kondisi darurat. Para pekebun jagung tak sampai mengucapkan mayday berulang-ulang ketika minta tolong akibat serangan maydis. Nama lengkapnya Peronosclerospora maydis, cendawan penyebab penyakit bulai pada jagung. Pertolongan pertama agar bulai tak berulah adalah memanfaatkan varietas tahan bulai seperti DK 77 dan DK 85. Kedua varietas hasil pemuliaan PT Branita Sandhini itu terbukti toleran bulai.

Pekebun di Desa Dungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Saddin Kasio, pada Maret 2011 menguji coba sendiri DK 77. Ia membagi lahan 0,9 ha menjadi dua, yakni 7.582 m2 untuk lokasi budidaya DK 77 dan 1.428 m2 untuk jagung lain yang tak tahan serangan bulai-sebut saja jagung XY. Apa yang terjadi? Saat jagung berumur 10 hari, bulai menyerang jagung XY. Garis-garis kuning membujur dari pangkal ke ujung daun dan akhirnya melebar membentuk pita.

Dalam 5-10  hari, penyakit itu cepat menyebar ke seluruh daun tanaman jagung varietas XY, sedangkan varietas DK 77 sehat sentosa. Pria 41 tahun itu panen DK 77 berumur 100 hari. Dari 54.000 tanaman-jarak tanam 70 cm x 20 cm-Saddin menuai 8,1 ton jagung pipilan. Di bawah pagebluk bulai saja, DK 77 tetap berproduksi tinggi. Menurut Manajer  Pemasaran PT Branita Sandhini, Slamet Rahardjo, potensi produksi DK 77 mencapai 13 ton per ha.

Tahan bulai

Selain DK 77, PT Branita Sandhini juga melepas DK 85 sebagai varietas unggul pada Oktober 2011. Slamet Rahardjo mengatakan bahwa potensi produksi DK 85 mencapai 12,5-13,5 ton per hektar. Menurut Rahardjo DK 77 lebih cocok tumbuh di lahan tegalan dan sawah, sedangkan DK 85 untuk lahan sawah. Umur panen DK 85 lebih lambat 10 hari daripada DK 77. Proses pemuliaan dua varietas jagung itu di Thailand dan dipasarkan di Indonesia pada Oktober 2010 untuk DK 77 dan setahun kemudian DK 85.

Menurut Peneliti Hama dan Penyakit Tanaman dari Balai Penelitian Serealia (Balitsereal) Maros, Sulawesi Selatan, Ir A Haris Talanca, penyakit bulai yang muncul pertama pada 1892 di Ungaran, Jawa Tengah, itu memang musuh utama petani jagung. Seiring meluasnya penanaman jagung di tanahair, cendawan itu pun turut tersebar. “Cendawan menyebar melalui biji jagung terinfeksi, lewat angin, atau serangga vektor,” kata Haris.

Saddin Kasio dua kali panen DK 77DK 77 toleran bulaiHaris mengatakan bahwa serangan bulai mengakibatkan produksi anjlok 100% alias gagal panen. Gejala serangan bulai munculnya garis kuning pada daun. Semakin lama, garis kuning itu memenuhi daun dan merusak klorofil. Tanpa klorofil, keruan saja Zea mays itu tidak bisa berfotosintesis. Serangan pada tanaman berumur kurang dari 10 hari bisa merusak seluruhnya. Jika tanaman berumur 40 hari atau lebih terserang, kerusakan mencapai 40%.

Celakanya serangan bulai bersifat sistemik, artinya terus berjalan dalam jaringan tanaman. Saat jagung muda, virus bulai merusak jaringan sehingga tanaman tidak mampu berproduksi. Setelah memanfaatkan varietas DK 77 yang tahan bulai, Saddin tetap dapat panen jagung. Hingga saat ini, Saddin sudah 20 kali panen jagung meski bulai mengintai.

Perlu pestisida

Meski toleran bulai, jagung hasil inovasi PT Branita Sandhini itu tetap perlu pestisida. Untuk itu Saddin rutin menyemprotkannya saat jagung berumur 10 hari setelah tanam. “Itu untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang biasanya muncul sejak umur 15 hari,” tutur petani jagung sejak 1995 itu. Ia menyemprotkan pestisida berbahan aktif dimehipo dan ziram sebanyak 270 cc dan 360 g per 0,9 ha.

CEO PT Branita Sandhini Cris Peterson (ketiga dari kiri) ketika panen jagung di Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada 5 Juni 2012Ia mengulangi  perlakuan itu 4 kali, ketika tanaman berumur 10 hari, 15 hari, 20 hari, dan 30 hari. Ia menghabiskan total jenderal, 1,08 liter bahan dimehipo dan 1,44 kg bahan ziram. Dengan harga masing-masing Rp70.000 per liter dan Rp65.000 per kg, maka total belanja pestisida Saddin mencapai Rp169.100 per musim tanam. Keperluan belanja pestisida itu tertutupi oleh penambahan penghasilan Saddin lantaran peningkatan panen.

Selain DK 77 dan DK 85, varietas baru lain yang tahan bulai adalah badak. Varietas itu hasil pemuliaan PT Dupont Indonesia, produsen benih jagung, yang merilis pada Maret 2011. “Ia tahan bulai sehingga diberi nama badak, karena kulit badak keras,” kata Manajer Pemasaran PT Dupont Indonesia, Supandi. Produktivitas jagung itu mencapai 9-11 ton pipil kering per ha. Sosok batangnya kokoh dengan warna bulir jagung jingga.

Adapun lambada hasil pemuliaan PT East West Seed Indonesia. Perusahaan benih di Purwakarta, Jawa Barat, itu merilis lambada pada 2011. Menurut Manajer Produk PT East West Seed Indonesia (EWSI), Wakrimin, produktivitas jagung lambada mencapai 16 ton per ton. “Ia tahan terhadap hawar daun, petani biasanya menyebutnya kresek,” kata Wakrimin. (Bondan Setyawan)

 

Keterangan Foto :
1.    Jagung DK 85, potensi 13 ton per hektar
2.    Saddin Kasio dua kali panen DK 77
3.    DK 77 toleran bulai
4.    CEO PT Branita Sandhini Cris Peterson (ketiga dari kiri) ketika panen jagung di Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada 5 Juni 2012

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img