Monday, August 8, 2022

Tahan Segar karena Khamir

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Hasil penelitian mengungkapkan khamir melindungi buah mangga dari penyakit antraknos dan memperpanjang masa simpan. (Foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Khamir melindungi mangga dari antraknos dan memperpanjang masa simpan hingga 54 hari.

Juliana, S.T., lazim menjual mangga premium pada Juni—November setiap tahun. Sebetulnya jadwal penjualan itu bisa berubah tergantung cuaca. Juli—sapaan akrab Juliana—berhenti berjualan mangga segar saat musim hujan. Padahal, saat itu pasokan mangga masih ada di beberapa sentra. Alasannya, “Kualitas mangga berkurang dan banyak hama penyakit ketika musim hujan,” kata pemilik merek Julie Mango itu.

Penyakit antraknos salah satu momok pekebun mangga. Ahli buah dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si., mengatakan, cendawan Colletotrichum gloeosporioides—penyebab antraknos—menurunkan kualitas mangga. Bulatan hitam yang tembus hingga ke daging buah memenuhi kulit Mangifera indica. Tingkat kerusakan mencapai 80% dari total panen.

Tahan 54 hari

Petani lazim mengandalkan fungisida untuk mengatasi antraknos. Cara lainnya yakni memanfaatkan khamir (yeast) sebagai antiantraknos pada mangga. Hal itu sesuai dengan penelitian dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB, Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., dan tim. Suryo dan rekan menguji penggunaan khamir pada penyimpanan suhu ruang dan 15ºC. Kelompok negatif berupa pencelupan ke dalam air tanpa khamir, sedangkan kontrol positif menggunakan fungisida.

Periset di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr.

Jenis khamir yang digunakan yakni Cryptococcus albidus, Cryptococcus terreus, Aureobasidium pullulans, Rhodotorula minuta, Candida tropicalis, dan Pseudozyma hubeiensis. Khamir C. albidus dan C. terreus yang berasal dari tanaman bawang merupakan koleksi KlinikTanaman IPB. Sementara A. pullulans, R. minuta, C. tropicalis, dan P. hubeiensi merupakan isolat galur dari tanaman cabai. Tim peneliti memakai buah mangga berumur 90—100 hari setelah antesis dari 12 tanaman berumur sekitar 20 tahun di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Setelah membersihkan, periset mencelupkan manggaboom—sebutan mangga di Belanda—ke dalam suspensi khamir 105 cfu mL-1 dan fungisida berbahan azoksistrobin berkonsentrasi 0,025% (kontrol positif). Selanjutnya Suryo dan tim menyimpan mangga di rak penyimpanan pada suhu ruang dan 15ºC. Hasil penelitian menunjukkan, mangga dengan perlakuan khamir C. albidus, A. pullulans dan C. tropicalis efektif mengendalikan antraknos mangga pada suhu ruang dan 15°C.

Pemanfaatan khamir C. tropicalis juga meningkatkan umur simpan hingga 21 hari pada suhu ruang. Adapun penggunaan A. pullulans meningkatkan umur simpan sampai 54 hari. Bagaimana cara mikrob itu mengatasi serangan antraknos pada mangga? Khamir A. pullulans membentuk senyawa volatil yang menghambat perkecambahan konidia patogen. C. albidus pun menekan infeksi antraknos pada mangga lantaran mempunyai efektivitas tinggi sebagai pengendali hayati.

Selain itu, khamir A. pullulans dan C. tropicalis mempunyai aktivitas kitinolitik yang berhubungan dengan hiperparasitisme. Mekanisme itu berkaitan dengan sekresi enzim hidrolitik suatu agen antagonis yang menyebabkan hifa patogen hancur. Peran khamir A. pullulans dan C. tropicalis lainnya yakni menunda kematangan buah lantaran mempunyai aktivitas enzim ACC deaminase yang menekan produksi etilen.

Hormon etilen berperan dalam pemasakan buah. Etilen juga menurunkan umur simpan buah dan memicu kerusakan. “Pemanfaatan mikrob pada pascapanen sangat jarang di Indonesia, sedangkan di luar negeri banyak,” kata Suryo yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerja sama dan Pengembangan, Fakultas Pertanian, IPB.

Aman

Suryo memproduksi produk khamir antiantraknos itu secara terbatas. “Produk itu berbentuk cair. Takaran penggunaan hanya 10 cc per liter air. Ada dua cara pemakaian yaitu semprot buah 1—2 hari sebelum panen dan penyemprotan setelah pencucian,” kata ahli hama dan proteksi tanaman itu. Lebih lanjut Suryo menuturkan, penggunaan produk hayati itu tidak mengubah sifat fisik dan kimia mangga.

Khamir Rhodotorula minuta merupakan isolat galur dari cabai. (foto : Suryo Wiyono)

Menurut doktor bidang Patologi dan Proteksi Tanaman alumnus Universitas Gottingen, Jerman, itu pekebun pepaya, pisang, dan jambu pun bisa memanfaatkan produk serupa. Produk itu juga berguna untuk para eksportir buah yang mengeluhkan penyakit pascapanen. Itu salah satu inspirasi Suryo dan rekan meneliti khamir sebagai agen hayati pelindung mangga. Pemanfaatan khamir juga memiliki alasan tersendiri.

Sebetulnya ada bakteri yang berperan sebagai kontrol biologi. Namun, persepsi masyarakat terhadap bakteri telanjur negatif. Citra khamir relatif lebih bagus daripada bakteri terutama untuk produk yang dikonsumsi seperti buah. Apalagi beberapa produk makanan seperti roti diproduksi menggunakan khamir. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img