Tuesday, November 29, 2022

Tajam Hidung sang Pelacak

Rekomendasi

Bronx dilepas dan langsung meloncat ke atas truk yang ditutup terpal. Senti meter demi senti meter bak truk 2,5 m x 7 m x 1,5 m itu ia susuri. Sesekali kepala Bronx menengadah, lalu menunduk kembali untuk memfokuskan penciuman.

Baru 5 menit pelacakan berjalan, suara keras Siburian memecah keheningan, ‘Bagus kamu Bronx.’ Polisi yang kini berpangkat Ajun Komisaris Polisi itu melihat tanda-tanda Bronx telah menemukan narkoba. Tepat di tengah-tengah bak truk, kaki kanan depan Bronx mengais-ngais. Truk yang bermuatan kelapa, barang-barang kelontong, dan sandal itu dibongkar. Betul, ada 5 kardus berisi ganja kering total berbobot 20 kg akan diselundupkan dari Nanggroe Aceh Darussalam ke Jakarta.

‘Kalau tanpa anjing pelacak rasanya sulit untuk ditemukan, karena tempatnya di dasar bak truk, lalu ditimbun berbagai macam barang,’ ungkap Siburian dengan logat Bataknya yang khas. Operasi gabungan yang mengerahkan 11 personal dan 8 anjing pelacak itu sebelumnya mengalami kegagalan. Informasi bocor, sehingga mobil yang dicurigai membawa ganja0 dari Aceh kosong saat digeledah. ‘Ganjanya mungkin sudah dibuang ke laut. Sebab, anjing-anjing kami tetap mengendus bau yang tertinggal,’ lanjutnya.

Oleh karena itulah dengan berpura-pura ‘balik kanan’, petugas berkemah di halaman kantor penambangan batubara di daerah Suralaya-kira-kira 4 kilometer dari Pelabuhan Merak. Dua hari kemudian operasi digelar kembali. Dengan senjata di pundak dan didukung anjing-anjing andalan, para polisi itu merapat ke Pelabuhan Merak. Di sanalah Bronx akhirnya menemukan ganja yang dicari.

Kali ini semua perlengkapan alat komunikasi anggota diamankan. Menurut Ajun Komisaris Polisi Eko Priyanto, Kanit Pelacakan Umum Subdit Satwa Dit. Samapta Polri, Kelapadua, Depok, perlakuan itu sudah menjadi standar operasi narkoba. ‘Saat akan operasi anggota tidak diberi tahu terlebih dahulu,’ ungkapnya.

Karena jasa anjing-anjing pelacak, berbagai kasus narkoba terungkap. Sebut saja pada operasi Nila I yang digelar pada 1986 di bawah pemimpin Brigjen Drs Hadiman, Dirut Samapta Polri waktu itu. Puluhan ton ganja kering dan ladang ganja siap panen di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu ditemukan. Padahal, ‘Ladang-ladang ganja di sana tersembunyi. Jalan masuk berupa terowongan tertutup semak-semak. Pemiliknya ketika masuk berjalan mundur sambil merapikan semak yang terlewati sehingga jejaknya tak kentara,’ tutur Erfan Hardiono polisi yang ikut operasi.

Max, labrador jantan yang dikawal Erfan memang andal. Anjing yang kini telah tiada itu mampu mengendus bau ganja radius 1 kilometer. Namun, masalahnya kalau berupa tanaman segar di ladang, ganja tak mengeluarkan bau tajam. Anjing-anjing pelacak narkoba hanya dilatih untuk mengendus ganja kering. Ladang-ladang ganja yang berhasil ditemukan sebagian besar karena menyimpan ganja kering siap kirim.

‘Semua tergantung latihan. Dengan ketajaman indra penciumannya, anjing dapat mendeteksi bau apa pun yang di perkenalkan,’ ucap Inspektur Polisi Satu drh Dedi Wijayanto, Kanit Satwa Dit. Samapta Polda Lampung. Indra penciuman anjing 40 kali lebih tajam dibanding manusia. Makanya ia mampu mencium pil ekstasi, inex, atau sabu-sabu yang diselipkan dalam buah durian yang beraroma tajam menyengat, bahkan di dalam minyak tiner-pelarut cat-sekalipun.

Kasus penangkapan pengedar ekstasi pada saat operasi Sinar Krakatau 2006 di sebuah lokalisasi di daerah Panjang, Lampung, adalah sebuah contoh ketajaman penciuman anjing. Carla von Cracia Raya, labrador berbulu hitam pekat yang dipegang Brigadir Polisi Dua Ramos Cronika gelisah, tak mau diam. Matanya mengarah terus kepada pemuda yang tengah nongkrong di atas motor di tempat gelap, berjarak sekitar 3 m dari posisi Carla. Melihat gelagat seperti itu, sang pawang melepasnya. Carla langsung menyatroni si pemuda dan menggaruk-garukan kakinya ke kantong celana.

Lima personel polisi bersenjata lengkap segera menggeledah. Satu per satu kantong celana pengedar ekstasi itu dirogoh. Kantong bagian depan, belakang, dan samping tidak ada. Kenyataan itu membuat kening para abdi negara itu berkerut. Setelah diperiksa lebih teliti ternyata pil mematikan itu ditaruh di kantong tambahan bagian dalam yang dibuat khusus. Berapa jumlahnya? Ternyata, hanya ditemukan 1 butir ekstasi berwarna merah seukuran ujung kelingking. Begitu tajamnya penciuman labrador betina berumur 6 tahun itu.

Menurut Dedi, untuk melatih anjing pelacak rata-rata dibutuhkan waktu 3 bulan. Anjing terlatih mampu melacak narkoba, bahan peledak, atau pelacakan umum yang meliputi pencurian, tindak kekerasan, dan pengendalian masa. Namun, itu semua tergantung tingkat intelegensi anjing. ‘Sebodoh-bodohnya anjing polisi, perlu waktu 3 bulan untuk bisa menjadi anjing karyaguna,’ kata pria yang masuk kepolisian sejak 2004 itu.

Makanya pemilihan ras anjing perlu disesuaikan dengan tujuan pemanfaatan. Untuk pelacakan narkoba, banyak digunakan labrador retriever, golden retriever, dan gembala jerman. Meski tak tertutup kemungkinan menggunakan ras lain. Aldo, misalnya, yang prestasinya diakui sebagai pelacak narkoba terbaik oleh banyak pawang, adalah jenis fox terrier.

‘Keefektifan anjing melacak narkoba belum dan tak mungkin tergantikan oleh satwa lain, bahkan alat canggih sekalipun,’ ujar Komisaris Besar Polisi Drs Y. Agus Mulyono, direktur Samapta Polda Lampung. Ia menunjuk alat pendeteksi narkoba dari Jerman, namanya GT-200, yang berharga miliaran rupiah pasti ada error-nya. Alat itu bisa mendeteksi keberadaan narkoba di balik dinding tembok. ‘Tapi selama ada campur-tangan manusia, kemungkinan penyalahgunaan bisa muncul. Beda dengan anjing yang tak pernah berbohong dan tak mengenal pamrih, pasti benar bekerjanya,’ tambah pria berpenampilan kalem itu.

Kemampuan anjing pun bisa ditingkatkan terus sesuai tuntutan zaman, tidak sekadar melacak narkoba, bahan peledak, atau membongkar kasus pencurian. Seperti yang terjadi di Malaysia belakangan ini, ‘Anjing bisa mendeteksi CD bajakan,’ papar Agus. Anjing-anjing sekelas Bronx, Max, Carla, atau Aldo pasti tak kalah bersaing dengan anjing-anjing di luar negeri. Toh, para pawang anjing di Indonesia demikian kreatif untuk menghasilkan anjing-anjing andal. (Karjono)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img