Friday, August 12, 2022

Tak Henti Panen di Halaman

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Omah Lor berkonsep permakultur milik Dwi Pertiwi di Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.(foto : dwi pertiwi)

TRUBUS — Tren pertanian berkonsep permakultur bertumbuh di beberapa daerah. Kebutuhan pangan sehat terpenuhi dari halaman.

Sekitar 90% kebutuhan hidup Dwi Pertiwi terpenuhi dari kebun sendiri dan tetangga. “Saya ke pasar jika tetangga tidak memiliki bahan makanan yang diperlukan. Opsi terakhir ke pasar swalayan,” kata warga Kapanewon Pakem, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), itu. Dwi membudidayakan sekitar 283 jenis tanaman dan 28 ayam di kebun 3.000 m2. Kelor, kenikir, waluh, markisa, temu kunci, jahe, kunyit, dan serai beberapa tanaman koleksi Dwi yang tumbuh subur tanpa pupuk dan pestisida kimia.

Ia membuat pupuk dan pestisida organik dari bahan alami di kebun. Semua tanaman di kebun itu memiliki lebih dari satu fungsi. Misal daun kelor bisa dimakan dan bahan baku pupuk organik cair. Tanaman kipahit juga untuk pupuk plus berkhasiat kesehatan. Semula Dwi membudidayakan tanaman secara organik. Ternyata konsep itu kurang memadai dan permakultur menjadi pelengkap yang pas. “Konsep permakultur lebih holistik daripada organik dan menekankan keseimbangan alam,” kata sarjana linguistik, Universitas Jember, Jawa Timur itu.

Selaras alam

Dwi mengenal konsep permakultur dari seorang rekan berkewarganegaraan Prancis. Ia mendirikan bangunan berkonsep permakultur bernama Omah Lor. Desain rumah seluas 300 m2 itu menyesuaikan keadaan alam sekitar. Sebelum membangun, Dwi mengamati kondisi iklim yang ternyata kerap terjadi angin puting beliung dari selatan ke utara. “Jadi, saya desain rumah itu agar tahan angin dan aliran udaranya lancar,” kata perempuan kelahiran 10 Maret 1975 itu. Dwi memanfaatkan bambu sebagai dinding rumah serta kayu mahoni dan kayu kelapa untuk lantai.

Permakultur di pondok pesantren di Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. (foto : Koleksi Khaerul Anam Widya Purnama)

Praktisi permakultur di Yogyakarta, Khaerul Anam Widya Purnama, mengatakan, permakultur berasal dari dua kata yaitu permanent atau lestari dan agriculture berarti budidaya. “Secara umum permakultur adalah desain menata sebuah bentang lahan agar tetap lestari dengan cara meniru alam atau selaras dengan alam,” kata Anam. Ia menerapkan permakultur di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Terdapat 30 jenis sayuran, 90 ayam, 11 itik, dan 20 kelinci yang menghuni tempat itu. Unggas tidak hanya penghasil daging, telur, bulu, dan kotoran yang kerap dimanfaatkan sebagai pupuk.

Praktisi permakultur di Yogyakarta, Khaerul Anam Widya Purnama.

Lebih lanjut consultant of family farming di Badan Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) itu menuturkan, ayam sebagai pekerja yang bertugas menggemburkan tanah dengan menceker. Adapun itik berperan sebagai pemberantas wereng dan keong di sawah. Saat ini tren permakultur di tanah air bertumbuh. Nun di Desa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Luky L. Santoso menanam beragam sayuran di lahan 3.500 m2. Satu lahan berisi aneka tanaman untuk menghindari serangan hama. Ia membudidayakan sayuran di bedengan yang ukurannya menyesuaikan kondisi lahan.

Yang pasti lebar bedengan sekitar 70 cm. Semua kebutuhan tanaman seperti pupuk dan pestisida berasal dari bahan alam karena ia menerapkan konsep permakultur. Luky membuat sendiri pupuk dan pestisida alami itu. Pria kelahiran 19 Maret 1971 itu juga menanam rosemari dan serai wangi untuk mengendalikan hama di setiap bedeng sayur. Ia memanen sekitar 60 kg sayuran seperti bayam merah, pakcoi, dan tomat setiap pekan. “Semua hasil panen terutama untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan sisanya dijual,” kata pendiri Rumah Kayu Permakultur itu.

Menurut Luky permakultur seperti pertanian Indonesia zaman dahulu. Tidak ada pabrik pupuk dan pestisida kimia, tetapi Indonesia bisa mengirim kapal-kapal dagang berisi hasil alam ke mancanegara. Kebutuhan masyarakat terpenuhi semua saat itu. Permakultur bisa dimulai dari rumah dengan memanfaatkan sampah menjadi pupuk untuk tanaman di halaman. “Itu bisa membantu ketahahan pangan dan ketahanan energi,” kata ayah 4 anak itu. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img